Posted by: nyomnyom | January 18, 2012

SEPUCUK SURAT (BUKAN) DARIKU

Kata orang hidup itu seperti rollercoaster. Naik turun, jumpalitan. Kadang senang, kadang sedih.

Aku sendiri terlahir dari orangtua yang hidupnya boleh dibilang sangat pas-pasan. Miskin, kata sebagian orang. Kami tinggal disepetak rumah semi permanen disebuah perkampungan padat penduduk. Bapakku seorang tukang becak yang setiap hari bersaing dengan puluhan ojek dan becak-motor. Pendapatannya pun tak seberapa. Sekarang orang-orang lebih memilih ojek atau becak-motor karena lebih cepat mengantarkan ke tujuan. Tapi bapak tak pernah mengeluh. Setiap pagi bapak selalu bersemangat mengayuh becaknya dan disore hari pulang ke rumah dengan wajah tersenyum meski membawa uang tak seberapa.

Ibuku adalah seorang yang gigih. Tak banyak bicara namun pekerja keras. Ada saja yang ibu kerjakan untuk membantu keuangan keluarga. Terkadang ibu mencuci pakaian di perumahan mewah yang berbatasan dengan kampung kami. Sering pula ibu membuat kue yang ia titipkan di warung-warung dekat rumah. Namun, keahlian memijat ibulah yang membawa berkah kepada keluarga kami.

Ibu Dewi, seorang staff disebuah bank swasta terkemuka rupanya sangat menyukai pijatan ibu. Begitu seringnya ia memanggil ibu ke rumah, mereka menjadi akrab. Ibu Dewi pula yang menawariku bekerja di kantornya sebagai asisten. Lambat laun seiring dengan perkembangan karirku yang cukup lumayan, aku bisa membeli sebuah rumah bertingkat dan memboyong ayah, ibu dan adikku tinggal disana. Ayah tak perlu lagi bersusah payah menarik becak, tinggal mengurusi kebun kecil di pekarangan belakang rumah baru kami. Untuk ibu yang juga senang menjahit kubelikan sebuah mesin jahit. Kini, ibu cukup tinggal dirumah dan menerima pesanan jahitan sebagai pengisi waktu luangnya. Sesekali ibu masih berkunjung ke rumah ibu Dewi dan memijatnya. Mungkin itu ibu lakukan sebagai wujud terima kasihnya kepada ibu Dewi.

Hidup memang tak tertebak. Penuh misteri. Disuatu hari membawa sukacita, dilain hari memberi duka.

Aku duduk terpekur dikursi kerjaku. Rangkaian bunga-bunga ucapan selamat masih bertengger di atas meja penerimaan tamu. Semestinya aku bahagia saat ini. Aku baru saja mendapat promosi kenaikan jabatan menjadi kepala administrasi dan keuangan. Gajiku pun naik dua kali lipat. Kuhela nafas dalam-dalam. Seakan masih terasa jabatan tangan rekan-rekan kerja dan anak buahku serta tepukan tangan mereka. Ya, semestinya aku bahagia hari ini.

Tetapi inilah hidup yang berputar-putar. Diatas atau dibawah. Bahagia atau muram durja.

Hari ini ketika hatiku sedang bergembira, aku akan membuat hidup seseorang berduka. Aku memegang sepucuk surat (bukan) dariku untuk diberikan kepadanya. Selembar surat pemberhentian kerja dari dewan direksi yang harus aku sampaikan.

Hidup memang demikian. Rumit dan penuh dilema.

Aku menarik nafas dan menguatkan hatiku. Kuangkat gagang telepon memanggil sekertarisku.

“ Sari, panggil ibu Dewi kemari. Ada surat yang akan kuberikan kepadanya. “

(Diikutsertakan dalam proyek #15HariNgeblogFF  ,Day 7, yang diadakan oleh @WangiMS dan @momo_DM)

Advertisements

Responses

  1. Suka bangetss…jadi ibu dewi?……

    • hehehe.. ini ikutan proyek nulis biar rajin2 nulis lagi..hehehe

  2. Menarik alurnya.

  3. jadi pengganti bu Dewi, ouch


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: