Posted by: nyomnyom | June 5, 2012

Belajar Memaknai Hidup Lewat Filosofi Rajutan

: untuk para lelakiku

“Saya ini perempuan biasa, tapi kebetulan bahagia.”

~ kutipan Monolog Luna Vidya dimalam terakhir Festival Kala Monolog IV

Menjadi bahagia itu sederhana. Tak perlu menjadi orang hebat atau luar biasa untuk menjadi bahagia. Bahagia juga tak mesti dengan segala hal yang identik dengan kemewahan. Bahagia itu tak ribet, bahagia itu tak mahal dan bahagia itu tak perlu jauh-jauh. Katon Bagaskara berkata “bahagia itu homemade”. Saya setuju. Bahagia itu kita yang membuatnya.

Sebagai seorang perempuan yang sedari kecil sangat aktif dan selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, saya sangat beruntung dikarunia keluarga yang sangat mendukung semua aktifitas saya. Ketika saya masih remaja dan kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Makassar, sangat sering saya pulang ke rumah ketika hari telah larut. Sebagai anak muda yang penuh semangat dan seperti tak pernah kehabisan energi, semua hal ingin coba saya lakukan. Mulai dari kursus dansa klasik, olahraga softball, kursus bahasa Spanyol, magang di perkantoran dan sebagainya. Hingga saya menikah dan memiliki seorang anak, saya tetap tak bisa berdiam diri tanpa suatu kesibukan. Bekerja di kantor, ikut kegiatan sosial, ikut kepanitiaan suatu event, belajar merajut, menulis dan masih banyak lagi. Bagi saya, bahagia itu bila saya tetap bisa melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan.

Setiap orang mempunyai caranya masing-masing dalam memaknai kehidupannya. Tujuannya bisa jadi sama, yakni menjadi bahagia. Tetapi setiap individu mempunyai jalannya sendiri-sendiri untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Konon, bahagia itu bisa menular. Bila kita sedang bahagia, biasanya aura kebahagiaan itu juga tertularkan kepada orang sekitar kita. Sebagai seorang perempuan yang biasa-biasa saja, saya merasa bahagia dengan kehidupan saya saat ini. Kebahagiaan yang ingin saya bagi kepada banyak orang lewat sebuah kisah sederhana yang coba saya jabarkan lewat filosofi merajut, sebuah hobi yang tengah saya tekuni saat ini. Memang saya belum begitu mahir dalam merajut dan belum begitu banyak yang bisa saya hasilkan. Tetapi ada banyak hal yang saya pelajari dari kegiatan merajut ini.

Saya melihat filosofi hidup itu seperti belajar merajut. Pertama, ketika belajar merajut, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebagai dasar tusukan untuk membuat bermacam-macam karya. (Disini saya mencoba menjelaskan dengan menggunakan istilah dari crochet atau biasa juga disebut dengan merenda, jenis rajutan yang menggunakan satu jarum dengan ujung yang membengkok). Tusukan dasar yang perlu kita pelajari adalah single crochet (sc), double crochet (dc), half-double crochet (hdc), slip-stich (ss), dan chain (ch). Jika telah menguasai tusukan dasar ini, selanjutnya bisa dikembangkan lewat teknik merajut dengan mengkombinasikan beberapa jenis tusukan untuk hasil yang lebih menarik. Demikian pula dengan hidup. Kita perlu mengetahui beberapa hal dasar sebagai fondasi untuk melakukan aktifitas keseharian seperti memiliki dasar agama yang bagus, etika yang baik, toleransi dan empati terhadap sesama. Alangkah indahnya hidup bila masing-masing orang mampu dengan baik menyelaraskan dasar hidup tersebut kedalam tingkah lakunya sehari-hari.

Yang kedua, ada perajut yang senang membaca pola dalam membuat suatu karya rajutan namun ada pula yang lebih suka berkreasi sendiri tanpa pola. Manusia pun demikian. Ada yang suka menjalani hidupnya dalam keteraturan, ada juga yang memilih mengisi hidupnya dengan ‘kejutan-kejutan’ tertentu. Apapun cara yang ditempuh tentunya terserah manusianya, yang penting tujuannya menjadi bahagia. Filosofi ketiga, dalam merajut ada bermacam-macam jenis benang yang berbeda. Ada benang polos, ada benang sembur, ada jenis polyster, nylon, katun, bulky, lokal maupun impor. Masing-masing orang bebas menggunakan jenis benang yang diinginkan dalam karya rajutannya. Si A misalnya ingin memakai benang katun lokal polos untuk membuat kembang, si B memakai polyster biru untuk tas, si C memakai benang bulky untuk membuat kupluk dan seterusnya. Apapun benang yang digunakan, hasilnya tetap disebut sebagai rajutan. Sebagai makhluk hidup, kita diciptakan olehNya pun dengan keragaman unik yang berbeda satu dari yang lain. Beragam suku, budaya, adat, bahasa, agama, dan latar belakang manusia yang berbeda membuat semakin kaya pergaulan kita dan tidak monoton.

Belajar Merajut

Hal keempat yang saya pelajari dari merajut adalah kesabaran, ketekunan dan selalu belajar dari kesalahan. Sebagai seorang pemula dalam dunia merajut, awalnya saya cukup kesulitan untuk mengait-aitkan benang tersebut. Saya pun sering geregetan sendiri bila benang tersangkut pada jarum yang menyebabkan saya mesti mengulangi lagi. Belum lagi saya sering lupa hitungan dasar rajutan saya yang membuat hasilnya kurang seimbang. Namun perlahan, berkat ketekunan dalam mempelajari rajutan, saya berhasil mengaitkan benang dengan cukup lincah tanpa harus tersangkut pada jarum. Kesalahan-kesalahan kecil yang saya lakukan membuat saya jadi tahu cara yang paling pas buat saya dalam memegang jarum dan merajut. Dalam kehidupan, kesabaran, ketekunan dan tak malu belajar dari kesalahan sangat diperlukan untuk mencapai cita-cita yang ingin diraih. Yang paling penting adalah prosesnya, bagaimana kita belajar dari proses tersebut untuk memperoleh hasil yang memuaskan.

Yang kelima adalah merajut mengajarkan kita untuk menghargai buatan tangan atau handmade. Seorang perajut yang membuat suatu karya rajutan dan kemudian diberikan kepada seseorang sebagai kado nilainya jauh lebih besar daripada sekedar membeli sesuatu di toko yang buatan pabrik. Karena dalam sebuah karya buatan tangan, mengalir kasih sayang dan cinta yang dirajut dengan benang yang dipilih khusus untuk seseorang yang akan diberikan sebagai kado. Saya menyebutnya dengan ‘dirajut dengan cinta’. Demikian pula sekiranya dalam menjalani hubungan dengan seseorang, kita perlu sesuatu yang ‘organik’, alami, tidak dibuat-buat dan tentunya spesial.

Yang terakhir, merajut itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Terkadang banyak orang mengidentikkan merajut sebagai kegiatan perempuan berumur. Padahal, jika menilik sejarahnya dimana asal mulanya merajut itu justru dilakukan oleh kaum lelaki pembuat permadani di jazirah Arab. Sekarang ini, terutama di kota-kota besar, dunia merajut tidak melulu didominasi oleh kaum perempuan. Banyak  komunitas perajut yang juga memiliki anggota kaum lelaki yang aktif dalam menghasilkan karya rajutan. Ini mengajarkan kita untuk tidak mengkotak-kotakkan susuatu dengan identitas tertentu dan peng-stereotype-an jender. Dalam kehidupan berkeluarga pun demikian. Tidak ada yang namanya pekerjaan domestik hanya dilakukan oleh kaum perempuan, atau lelaki tak boleh menangis. Setiap manusia, tak peduli jenis kelaminnya, berhak untuk mengekspresikan kegembiraannya, kesedihannya, kebahagiaannya dengan cara yang ia inginkan. Setiap orang merdeka untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan, mewujudkan impiannya, dan bahkan bebas untuk memilih yang mau ia kerjakan.

Dan yang penting adalah jangan pernah berhenti belajar. Dalam merajut, ada bermacam-macam teknik tusukan yang bisa dipelajari. Setiap saat ada modifikasi baru yang muncul dan memberikan variasi tersendiri dalam rajutan. Misalnya ada teknik merajut granny square, basket wave, tusuk kerang, dan sebagainya. Hidup juga harus demikian. Kita senantiasa harus terus belajar dari siapapun dan dari apapun yang kita kerjakan tentunya dengan harapan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa menghasilkan sesuatu yang berguna.

Mengutip sepenggal kalimat dalam Monolog Luna Vidya, sebagai seorang perempuan biasa yang kebetulan bahagia, kebahagiaan yang saya dapatkan itu tak lain karena dukungan orang-orang terkasih yang senantiasa mempercayai mimpi-mimpi dan menyokong setiap aktifitas yang saya lakukan. Oleh karenanya, rajutan yang paling berkesan adalah ketika saya merajut dan mempersembahkannya untuk para lelakiku ini. Saya merajutnya dengan penuh cinta disetiap tusukan dan penuh perasaan disetiap kaitan benangnya. Mereka para lelakiku yang selalu membuat saya merasa percaya diri dan mampu untuk melakukan pekerjaan yang tersulit pun yang diberikan kepada saya, yang senantiasa menghibur ketika saya merasa down atau gagal, yang sekedar membuat teh hangat disaat saya dikejar deadline, yang tidak pernah berkata ‘tidak’ jika saya meminta izin melakukan perjalanan berhari-hari,  dan yang bahkan hanya dengan senyum manis dibibirnya yang mungil  mampu manghilangkan segala penat dan letih sepulang bekerja seharian.

Untuk ayahanda tercinta, sebuah syal kurajut untukmu untuk menemani perjalananmu ke negeri Belanda nanti agar kehangatan senantiasa membalut tubuhmu dicuaca yang cukup dingin dimusim semi. Terima kasih telah mengajarkanku untuk selalu percaya akan kemampuan sendiri dan menjadi ayah yang bijak buat anakmu yang tak pernah berhenti merepotkanmu ini.

Syal buat ayahanda (photo by Imran)

Buat anakku Arung Panrita sang penyemangatku, sebuah songkok putih sebagai doa dari mamakmu ini agar kelak engkau tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, menghargai sesama dan senantiasa bersyukur untuk setiap berkat yang Ia berikan.

Songkok Putih buat Arung Panrita

Juga sebuah songkok putih buat sholat untuk suamiku tersayang yang selalu mengingatkanku untuk ke gereja dan menjadi sahabat yang baik dalam pernikahan kami serta membiarkanku tumbuh menjadi diriku sendiri.

Kalian lelaki terhebat yang membuat saya menjadi perempuan yang sangat berbahagia dengan memiliki kalian.

I love you, ayah-bapak-Arungku !!

Saya dan Lelakiku

: dedicated to all knitters/crocheters in Komunitas Perajut Makassar Quiqui, you rock guys..!!

Advertisements

Responses

  1. Saya koq jadi berkaca-kaca pas bagian-bagian terakhir…#ambiltissu…suka sekali mama arung..kagum dengan tulisan ini….

    • sesama paling cantik di keluarga hehehe..salam buat kakak Jiro

  2. Keren kak… !!! Jadi semangat pengen nikah akhirnya. Huauauaahahahahahaa…

    • hahaha, klo dapat yg bisa ngerti ‘kegilaan’ kita, lanjutkan mi segera

  3. Tantaaa…so sweet deehh..speechless pas dibagian terakhir emg berhasil bikin mata berkaca2 *lap ingus*
    You rock mom!!

    • ceile…yg mau nikah..kado rajutan apa mi ini buat calon suami?

  4. sepakat … bagian terakhir memang membuat airmata menetes …
    haru dan bangga !!!
    sekali lagi meminjam kutipan “saya ini perempuan biasa, tapi kebetulan bahagia”
    merajut menjadikan kita sebagai perempuan-perempuan bahagia

    *ijin copy dan posting kutipan monolog yaa*

    • kutipan dr monolognya kak Luna Vidya itu..sy juga baca dr statusnya Iqko Beruang, hehehe..

  5. tant… *ambiltissue

  6. sjaalku manaaa???;)

  7. izin da bgian yg bs di ambill sbg penopang hidup sy yahh !!!!!!!!!!sukses dgn rajutann y

  8. Annaaa…aku terberkati dgn tulisan diatas…makasi yaaa..happiness=handmade…true!

    • sama-sama mbak Vera


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: