Posted by: nyomnyom | June 27, 2012

Masuk dan Keluar Sama Mahalnya

                                                                                                    (source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=454582374560490&set=a.439438536074874.106766.437700429582018&type=1&ref=nf)

Seperti biasa dipagi hari ketika tiba di kantor, saya menyalakan laptop lalu menuju ke teras belakang untuk menikmati segelas teh hangat sambil membaca koran. Sebelum kembali tenggelam dalam kesibukan tugas-tugas kantor, saya selalu menyempatkan diri untuk mengupdate diri saya dengan berita-berita atau peristiwa yang tengah berlangsung saat ini baik di kota Makassar, Indonesia maupun di dunia lewat beberapa koran lokal dan nasional yang kantor saya berlangganan.

Beberapa hari ini di koran lokal saya membaca liputan mengenai acara penamatan murid-murid sekolah yang diadakan di gedung-gedung atau hotel mewah. Pikirku waktu itu, kira-kira berapa ya biaya yang harus dikeluarkan orangtua murid untuk membiayai acara penamatan tersebut. Pastinya jumlah rupiahnya tak sedikit. Belum sempat menghitung-hitung perkiraan pengeluaran orangtua untuk perpisahan sekolah anaknya, hari ini saya kembali dikagetkan dengan berita disebuah harian Makassar yang memberitakan rencana spektakuler penamatan 20 murid TK dengan menghadirkan boyband yang sedang naik daun. Menurut wawancara reporter koran tersebut ke beberapa Event Organizer, untuk mendatangkan group boyband yang konon lagi digandrungi itu dibutuhkan biaya kurang lebih 80 juta rupiah dan itu kisaran khusus untuk honor saja, belum termasuk biaya akomodasi, transport dan sebagainya. Acaranya sendiri akan digelar disalah satu hotel internasional di kawasan Panakukang. Para orangtua sudah memberikan persetujuannya untuk acara tersebut berlangsung. Kata teman saya yang seorang guru TK di sekolah lain (yang lebih berprinsip menurut saya), biasanya memang orangtua yang saweran untuk kegiatan penamatan, tetapi biasanya hanya uang baju untuk pentas dan konsumsi, itupun sangat amat terjangkau. Nah, kalau penamatannya mendatangkan artis terkenal, kira-kira seberapa dalam ya para orangtua murid tersebut merogoh koceknya?

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saya pernah membuat tulisan yang dimuat dimedia online jurnalisme orang biasa  ‘Panyingkul!’ mengenai mahalnya biaya masuk sekolah untuk TK dan playgroup. Ternyata bukan hanya biaya masuk saja yang mahal sekarang, biaya keluarnya pun mungkin bisa bikin terkejut-kejut bagi sebagian orang. Mahal tentunya relatif. Bagi saya, mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk sebuah penamatan TK (dan tingkatan sekolah lainnya juga) sungguh tak masuk diakal. Tetapi bagi beberapa orang lain mungkin itu tak seberapa bila mereka bandingkan dengan kesenangan anaknya (dan mungkin saja juga orangtuanya) melihat tokoh idolanya misalnya.

Namun dalam pemikiran saya, yang saya sayangkan adalah sedari kecil anak-anak tersebut sudah diajarkan untuk memiliki pandangan hidup hedonism sekaligus konsumerisme. Dan yang membuat saya lebih kecewa adalah pihak sekolah yang konon katanya menganut metodologi pendidikan dari seorang pendidik perempuan asal Italia dan memiliki pandangan bahwa pendidikan yang baik adalah bukan hanya baik di kurikulumnya saja tetapi juga pembangunan karakter dan ketrampilan siswanya ini ternyata tidak menentang ide tersebut. Seperti bertolak belakang rasanya dimana anak-anak di kelas diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan dan peduli terhadap sesama namun diluar kelas dengan bangganya mereka memamerkan acaranya yang menghabiskan puluhan juta rupiah hanya untuk sebuah penamatan. Bukankah uang tersebut bisa mereka sumbangkan kepada anak-anak lain yang kurang mampu atau kepada sekolah-sekolah rakyat lainnya agar sebaya mereka juga bisa  terus menikmati pendidikan yang layak. Pihak sekolah tentunya bisa menolak atau tidak menganjurkan kegiatan-kegiatan yang bergaya hedonis atau konsumtif. Selain itu, kehadiran boyband tersebut juga mengajarkan anak-anak yang belum dewasa ini untuk mengkultuskan seseorang atau kelompok yang buntutnya juga mengarah kedua hal tadi, hedonisme dan konsumerisme. Ada yang hilang dari sistem pendidikan ketika apa yang diajarkan tidak dibarengi dengan contoh yang baik.

Saya perhatikan, masyarakat sekarang ini sangat mudah untuk mengadopsi dan sangat gampang untuk terpengaruh dengan gaya hidup hedonis. Hedonis berasal dari bahasa Yunani yang intinya adalah sebuah pandangan hidup yang menganggap kesenangan merupakan tujuan hidup manusia. Bahwa dengan bersenang-senang maka manusia akan menjadi bahagia. Pesta, kemewahan, kongkow-kongkow di café, belanja di luar negeri, membeli barang mahal dan bermerek adalah beberapa kesenangan yang mesti dilakukan agar bahagia. Sementara hedonisme itu biasanya selalu dibuntuti dengan konsumerisme yakni paham yang menjadikan seseorang atau sekelompok orang mengkonsumsi atau memakai barang-barang secara berlebihan dan menjadi ketergantungan. Dua hal ini bila dibahas tentunya selalu menimbulkan pro dan kontra. Bagi sebagian orang , tak ada yang salah dengan bersenang-senang. Hedonisme adalah hal yang normal karena itu adalah hak pribadi seseorang untuk menikmati hidupnya dan sepanjang itu tidak merugikan orang lain maka wajar untuk dilakukan. Dipihak lain, ada juga yang menganggap bahwa mereka yang bergaya hidup hedonis ini sangat tidak peka dan berempati pada situasi sosial dan budaya masyarakat yang mana masih banyak rakyat miskin yang untuk makan hari ini saja masih susah. Saya sendiri berada ditengah-tengah. Saya tak menolak anggapan yang mengatakan bahwa gaya hidup seseorang adalah hal yang pribadi. Tetapi saya langsung meradang apabila kemewahan-kemewahan yang tak pantas untuk dipamerkan kepada masyarakat itu diajarkan kepada anak sedari usia dini oleh orangtua dan gurunya. Anak-anak hanya meniru orangtuanya dan mendengar kata gurunya.

Sekali lagi, ini pendapat saya pribadi. Bisa jadi banyak yang tak setuju dengan saya dan juga mungkin banyak yang setuju. Satu hal yang pasti, saya tidak akan merekomendasikan sekolah tersebut bila ada kawan-kawan yang ingin menanyakan sekolah untuk anak atau keponakan mereka. Saya membayangkan ada orangtua yang menabung uangnya dari gaji yang tak begitu banyak agar anaknya bisa merasakan pendidikan usia dini yang berkualitas (menurut brosur mereka) namun belakangan ternyata mereka harus mencari tambahan sana-sini agar anaknya juga bisa ikut kegiatan ini-itu yang diadakan sekolahnya. Saya juga membayangkan si anak yang bersekolah di TK tersebut dengan bangganya bercerita kepada anak tetangganya yang bersekolah di TK lain tentang rencana kedatangan boyband tersebut di acara penamatan sekolahnya dan  si anak tetangga tersebut hanya bisa melongo lalu merengek keorangtuanya untuk pindah sekolah. Saya lanjut membayangkan seorang guru yang tengah bersedih diruangannya karena idenya untuk menyumbangkan uang penamatan sekolahnya ke sebuah panti asuhan ditolak oleh pemilik sekolah karena takut kehilangan donator tetapnya yaitu orangtua murid yang memiliki ide bergembira disebuah pusat hiburan.

Saya membayangkan ketika sekolah bukan lagi tempat mencari ilmu tetapi sebagai sebuah prestise orangtua yang rela mengeluarkan (versi saya : menghamburkan) banyak uang agar anaknya bisa diterima masuk disekolah yang mahal dan terkenal sementara banyak sekolah-sekolah rakyat lainnya yang sama bagusnya dan murah (bahkan mungkin lebih bagus kualitasnya) namun kurang dilirik oleh golongan menengah keatas. Saya membayangkan para orangtua yang sedang menunggui anaknya sekolah sambil bercengkrama dengan sesama orangtua lainnya membahas kue-kue yang lagi popular saat ini, rainbow cake, red velvet cupcakes dan macaroon (padahal kue-kue yang sedang trend ini sebenarnya hanya kue biasa yang diberi warna-warni atau sentuhan lain dan dijual lebih mahal) sementara orangtua lainnya sibuk menjajakan dagangannya ditrotoar jalan agar anaknya bisa membayar SPP bulan ini.

Sepertinya saya cuma bermimpi jika membayangkan para orangtua dan sekolah membatalkan niatnya mendatangkan boyband cenat-cenut itu dan mengalihkan uangnya kepada anak-anak dipulau-pulau terpencil yang memerlukan bangunan sekolah. Yang bukan mimpi adalah siang ini saya mendapat pelajaran penting. Sekolah mahal itu seperti rainbow cake, cake biasa yang dipoles sana-sini biar mahal padahal rasanya sama saja.  Bayar mahal-mahal padahal belum tentu lebih baik lulusannya dari sekolah murah. Intinya, jangan percaya iklan yaa !!

Advertisements

Responses

  1. beeh, TK apa mi ntu kak? DM ka di Twitterku biar sy juga tdk merekomendasikannya ke keluarga, sahabat, dan kenalan yang lain
    (bisa sy bayangkan geng ibu2 pembahas kue red velved, pasti ada arisan berliannya juga) 😐


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: