Posted by: nyomnyom | April 17, 2013

Kukila, Secuil Kisah Buku Harian Seorang M. Aan Mansyur

DSC_0831

Judul                    : Kukila (Kumpulan Cerita)

Penulis                 : M. Aan Mansyur

Halaman              : 192 halaman

Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit         : cet. 2 November 2012

Ketika memulai membaca kumpulan cerita Kukila ini, saya tak bisa untuk tidak melepaskan pengaruh kedekatan saya dengan sosok penulisnya. M. Aan Mansyur bukanlah sosok yang asing bagi saya. Aan, begitu kami memanggilnya. Saya sendiri memiliki panggilan lain untuknya, Martanti. Kami memang memiliki nama yang mirip, Martan dan Marthanti. Saya mengenalnya sejak lama. Bahkan draft Kukila ini sudah kubaca sejak beberapa tahun yang lalu ketika ia memperlihatkannya dengan bangga pada suatu sore di Biblioholic, tempat kami sering menghabiskan waktu senggang bersama kawan-kawan lainnya. Ketika Kukila diterbitkan oleh penerbit terkenal di negeri ini, saya termasuk orang yang merasa wajib memiliki buku ini sebagai koleksi di perpustakaan rumah kami. Saya termasuk beruntung memiliki sebagian besar karya-karya Aan. Saya memang ingin anak saya, Arung Panrita, kelak belajar tentang sastra dan menulis darinya atau setidaknya dari karya-karyanya. Rupanya Kukila adalah termasuk buku terlaris di tahun 2012 karena hanya dalam hitungan beberapa bulan saja sudah habis terjual. Saya sendiri berhasil membeli Kukila di sebuah toko buku di kota Mataram ketika saya harus mengunjungi kota ini untuk keperluan kerja. Itu juga sudah merupakan cetakan kedua. Cetakan pertama pada bulan September 2012.

Ada enam belas judul cerita di buku ini. Kukila adalah cerita pertama yang juga diambil menjadi judul buku ini. Seperti halnya karya-karya M. Aan Mansyur lainnya, buku ini lebih banyak menceritakan tokoh ibu dan kekasih. Sebagai orang yang boleh dibilang karib dengan si penulis, cerita-cerita di buku ini sangat menunjukkan pribadi seorang Aan yang sangat mengagumi sosok perempuan. Kekuatan riset dan penggambaran yang kuat akan latar belakang tokoh-tokohnya membuat balutan kisah yang diangkatnya menjadi kian menarik. Seperti ketika Aan menceritakan kisah cinta Kukila dan Pilang yang membuat pembacanya tak hanya larut dalam kepedihan kasih tak sampai ini tetapi juga mendapat pengetahuan baru tentang nama Melayu untuk burung dan pohon Akasia. Kukila berarti burung dan Pilang artinya pohon Akasia.Nama Kukila juga muncul lagi pada cerita Setengah Lusin Ciuman Pertama, Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza dan Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim

Sekali lagi tak bisa dipungkiri, membaca sebagian besar cerita-cerita di dalam buku ini bagi saya seperti membaca buku harian M. Aan Mansyur meskipun (mungkin) akan dibantahnya dengan mengatakan ini adalah fiksi dan setiap pembaca berhak menafsirkannya dengan cara mereka masing-masing. Tetapi menurut saya, ini adalah cara paling indah mengekalkan kenangan, entah itu kenangan manis maupun kenangan pahit. Kata orang, menulislah maka dirimu akan selalu hidup sebab sejarah tak akan tercatat bila kita tak menuliskannya. Terkadang saya membayangkan, betapa bahagianya menjadi seorang mantan kekasih Aan sebab setidaknya ada secuil kisah hidupnya terdokumentasi dalam bentuk cerita atau puisi.

Selain itu, kecintaan Aan yang besar pada ibunya membuatnya tak pernah kering ide untuk mengisahkan perjuangan perempuan kesayangannya itu  sebagai orangtua tunggal yang tegar dalam tulisan-tulisannya. Sosok ibu begitu kuat dan hampir juga selalu muncul di cerita-ceritanya. Sebaliknya, meskipun sosok ayah lebih kerap dikisahkan sebagai lelaki yang meninggalkan anak isterinya, tetapi terbaca pula kerinduannya akan figur bapak ini meskipun pilihan katanya tak seindah ketika ia menggambarkan ibu.

Tak jarang hal-hal kecil dan sepele di sekitar kita bisa menjadi sebuah cerita yang tak biasa di tangan seorang Aan seperti yang terjadi di cerita Lima Pertanyaan Perihal Bakso dan juga pada cerita Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing. Isu sosial juga dimasukkan menjadi bumbu cerita dalam kumpulan cerpen ini. Misalnya topik sesama jenis, beda agama, kebangsawanan dan kasta.

Bahkan kisah klise seperti percintaan dan perselingkuhan menjadi  berbeda sewaktu saya membaca cerita Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi dan Setia adalah Pekerjaan yang Baik dan tentu saja Kukila (lagi).

Namun, ada satu kata yang cukup mengganggu keasikan saya membaca cerita Kukila. Pada halaman 35 di baris pertama ada makian yang sepertinya tak nyambung gaya bahasa penulis di kisah ini. ‘Pret!’. Kata ini mungkin bisa diganti dengan makian lain seperti misalnya ‘sialan’, ‘arrgh’ atau cocok juga dengan ‘asu’ yang lebih kena dengan latar kisahnya. Kata ‘Pret’ masih terlalu berbau slang terkini yang biasa didapat di dunia social media. Seperti tak nyambung rasanya dengan cerita Kukila ini.

Tetapi secara keseluruhan, rasa penasaran saya pada kisah cinta penulisnya kian menjadi-jadi. Meskipun saya yakin mengenal hampir semua tokoh-tokoh yang Aan gambarkan, namun kepiawaiannya membalut kisah hidupnya dalam kalimat-kalimat yang indah dan enak dibaca membuat saya sedikit meragukan apakah ini fiksi atau autobiografi.  Aah saya merasa gagal menulis resensi buku ini. Sepertinya saya akan menjadikan surat buat Aan saja. Mungkin. Dan bagi kalian, silahkan membacanya saja sendiri.

#bacaituseru

Advertisements

Responses

  1. Terbangun dari tidur kemudian langsung membaca review ini langsung bikin saya mau segera berburu bukunya. Mudah-mudahan masih ada di toko 🙂

  2. haha, iya: ‘pret’! bukan main tidak nyambungnya :0


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: