Posted by: nyomnyom | April 23, 2013

Mengenal Perempuan lewat Jurnal Perempuan

Judul     : Jurnal Perempuan 59

Topik     : Perempuan dan Anak di Wilayah Tertinggal

Tahun terbit : Mei 2008

Halaman  : 155 halaman

Tubuhku Otoritasku

Konon tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, yakni disamakan dengan hari emansipasi perempuan di Indonesia. Sampai sekarang perdebatan dan penggugatan Kartini sebagai simbol perempuan pejuang emansipasi di Indonesia masih terus berlangsung. Berbagai literatur dan artikel yang mengaitkan Kartini sebagai ‘sahabat’ Belanda dan bagaimana situasi politis sangat berperan besar dengan pengangkatan tokoh Kartini sebagai simbol perjuangan kesetaraan gender di Indonesia bermunculan di status-status kawan-kawan di sosial media. Ada yang menolaknya, ada yang setuju, ada yang menentang, ada pula yang memberikan rujukan baru. Bagi saya, semuanya adalah pengetahuan meskipun tak semua adalah kebenaran. Dan masih banyak perempuan-perempuan tangguh yang berjuang gigih dengan caranya masing-masing bukan untuk sebuah pengakuan tetapi untuk  kesetaraan.

Saya sendiri merasakan peringatan Hari Kartini yang dilaksanakan dibanyak sekolah, perkantoran dan bahkan yang disiarkan oleh media justru melenceng dari semangat mengangkat kesadaran pemenuhan hak-hak perempuan agar setara dengan laki-laki. Yang ada selama ini adalah merayakan hari Kartini dengan beramai-ramai perempuan memakai kebaya seperti Kartini jaman baheula.  Padahal, saya yakin kalau Kartini hidup dimasa sekarang juga pastinya gak pakai kebaya. Mana bisa dengan nyaman ngantor, ngurus ini-itu atau ke lapangan dengan kebaya. Belum lagi pawai anak-anak TK memakai seragam jenis-jenis pekerjaan yang ada di negeri ini macam polisi, suster, dokter, dan sebagainya. Di jaman yang sedikit lebih modern, ada lagi kegiatan baru yakni tivi-tivi lokal sibuk mewawancarai orang-orang tertentu tentang pemaknaan mereka mengenai perempuan. Ada juga media social lainnya yang rame-rame bikin hestek tentang perempuan dan akhirnya semakin menguatkan betapa perjuangan untuk kesetaraan gender masih panjang dan penuh airmata.

Pekerjaan saya sebagai seorang Project Officer di sebuah LSM Internasional membawa saya mengunjungi desa-desa terpencil di kawasan timur Indonesia. Program kami adalah advokasi kepada para mamak-mamak di desa untuk berpartisipasi pada kegiatan publik termasuk mengawasi anggaran desanya. Agar para mamak ini berdaya di wilayah publik tentunya mereka juga harus memahami posisinya di wilayah domestik. Kemiskinan, budaya dan iklim seringkali pula memberikan beban lebih kepada perempuan. Meskipun laki-laki dan perempuan sama-sama rentan akibat tiga hal tersebut tetapi perempuan lah yang paling menderita karena masih sulitnya kesetaraan akses mereka terhadap wilayah domestik dan publik yang bisa membantu serta ketidakadilan gender yang mereka alami.

Jurnal Perempuan

Jurnal Perempuan adalah sebuah jurnal feminis pertama di Indonesia yang secara kritis mengangkat isu-isu, membagi pengetahuan dan menginformasikan tentang hak-hak dan permasalah perempuan di Indonesia. Saya sendiri sangat terbantukan dengan adanya Jurnal Perempuan ini karena dahulu saya sangat awam terhadap isu gender. Saya pribadi menentang segala bentuk pengekangan dan pendiskriminasian terhadap hak-hak perempuan. Akan tetapi saat itu pengetahuan saya masih sangat terbatas. Akhirnya pada awal tahun 2000, seorang kawan baik saya memperkenalkan Jurnal Perempuan dan saya mulai kian tercerahkan.

Secara khusus saya akan membahas mengenai Jurnal Perempuan 59 yang mengangkat tema “Perempuan dan Anak di Wilayah Tertinggal”. Area kerja saja memang berada di desa-desa yang berada di wilayah terpencil NTT dan NTB. Di edisi 59 ini, dibahas mengenai bagaimana kemiskinan dan ketertinggalan membuat perempuan dan anak-anak sangat rentan menjadi korban trafficking dan prostitusi. Sebut saja kisah Ani, seorang TKW yang berasal dari dusun Oelbeba, Kupang, NTT yang dikirim ke Malaysia pada usia 15 tahun. Disana Ani tidak pernah mendapatkan gajinya, malahan hampir setiap hari ia dipukuli. Oleh Mariana Amiruddin yang juga Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, dipaparkan bahwa Ani hanyalah salah satu dari sekian banyak perempuan dan anak-anak yang bermimpi memperbaiki nasib dan perekonomian keluarganya dengan menjadi tenaga kerja di luar negeri. Mereka menjadi incaran dan bahkan ‘santapan lezat’ para pelaku perdagangan manusia.

Sudah menjadi rahasia umum para TKI dan TKW yang seringkali diberangkatkan ke luar negeri dengan dokumen palsu, tanpa bekal keahlian dan pengetahuan yang cukup sehingga banyak yang mengalami kisah menyedihkan. Di rubrik Kliping, diceritakan sosok Cahaya yang tergiur iming-iming bekerja di luar negeri (Jepang) namun rupanya ia tertipu oleh agen yang mempromosikan tawaran bekerja tersebut. Cahaya ternyata dijadikan pekerja seks di Jepang, bukan sebagai therapist seperti yang ia bayangkan. Meskipun Cahaya berhasil lolos dari dunia prostitusi dan berkat dampingan LSM-LSM yang peduli dengan kasus-kasus seperti dirinya akan tetapi masih banyak diluar sana perempuan-perempuan yang masih terjebak dan menjadi korban perdagangan manusia terselebung ini.

Secara umum, di Jurnal Perempuan 59 ini terdiri dari 8 rubrik yaitu Prolog, Topik Empu, Kliping, Wawancara, Profil, Resensi, Kolom Budaya dan Serba-Serbi. Pada kolom Profil diangkat sosok Suryantini seorang Psikolog yang banyak mendampingi Pekerja Seks Komersial (PSK). Menurutnya, banyak PSK yang terjerumus ke dunia prostitusi karena menjadi korban perdagangan manusia. Masyarakat umum cenderung menghakimi mereka dan bahkan dipandang sebagai aib. Padahal menurutnya, yang diperlukan oleh para korban adalah rasa aman dan pendampingan yang membantu mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Yang menarik pula pada rubrik Resensi yang ditulis oleh Martin Aleida, seorang jurnalis, yang meresensi Buku “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65” yang merupakan himpunan pengakuan sepuluh perempuan yang disiksa luar biasa untuk kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. Mereka ditangkap karena dituduh terlibat G30S. Tak hanya itu, mereka disiksa, diperkosa dan bahkan ada yang dijadikan budak seks oleh salah seorang perwira tinggi angkatan darat. Mereka dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tak pernah mereka lakukan. Pengalaman pilu mereka menunjukkan bahwa perempuan seringkali terpinggirkan dan menjadi korban bukan hanya diwilayah domestik dan publik tetapi juga diranah politik.

Setelah membaca buku ini hati saya seperti tertusuk belati tajam, perih dan sedih membaca kisah-kisah nyata dan data-data yang menunjukkan bahwa masih banyak perempuan-perempuan dan anak-anak di Indonesia terutama di wilayah terpencil yang menjadi korban akibat  sistem perlindungan negara terhadap warga negaranya yang masih kacau balau dan belum menjangkau banyak masyarakat. Bahkan setelah mereka menjadi korban pun masih saja dihakimi dengan label-label yang kian memojokkan.

Ketika banyak anak muda di sosial media yang protes karena mereka seakan dibatasi untuk mengekspresikan dirinya lewat candaan ketika ditegur oleh sesama pengguna untuk tidak melemparkan candaan yang melecehkan perempuan, saya  berharap hati dan pikiran mereka suatu saat tercerahkan dan semoga mereka tidak mengalami hal-hal seperti yang dikisahkan Ani, Cahaya, Yusri dan masih banyak perempuan lain yang mungkin akan terlupakan tetapi perjuangan mereka untuk bangkit dan melawan pelecehan yang dialami adalah semangat dan inspirasi bagi perempuan-perempuan lainnya.

Ketika perkosaan masih dianggap sebagai lelucon, ketika pemerintah masih berkutat soal mengukur keperawanan dan cara duduk perempuan, ketika perempuan masih dikekang untuk meneruskan pendidikan dan berkarir, ketika suara perempuan tak dihitung untuk menyuarakan kepentingannya, ketika masih banyak laki-laki yang belum menghargai peran ibu dan belum mau berbagi peran domestik, maka tidur Kartini-Kartini Indonesia belumlah nyenyak.

#bacaituseru

Advertisements

Responses

  1. Trima kasih. Perempuan indonesia saling berbagi.kami dari LSM GAPURA Gorontalo gerakan perempuan berani dan mandiri. Mohon berbagi informasi. Ini contak kami 085240987936. Salam Hormat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: