Posted by: nyomnyom | May 8, 2013

AURORA : MIMPI YANG TERWUJUD

Judul: Aurora (kumpulan cerita dan prosa)

Penulis: Fikri Yathir

Penerbit: Fik&Flick!

Tahun Terbit: 2013

Halaman: 117 halaman

 

 

“ The more you can dream, the more you can do”. (Michael Korda)

Ada banyak kata-kata mutiara penggugah yang menggambarkan pentingnya kita meluangkan waktu untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi tersebut. Saya sendiri  sangat mengiyakan dengan apa yang dikatakan oleh Mark Twain bahwa dua puluh tahun yang akan datang kita mungkin akan lebih menyesali hal-hal yang tidak sempat kita lakukan daripada apa yang telah kita kerjakan. Bagi saya, mimpi-mimpi adalah harapan, dan usaha untuk mewujudkannya adalah penyemangat untuk melakukan suatu perubahan.

Tak banyak memang orang yang berani bermimpi. Mungkin banyak yang takut tidak bisa mewujudkannya, atau ada pula yang hanya ingin berada di jalur aman terus, ada yang takut kecewa bila tidak terjadi dan masih banyak alasan lain yang membuat mimpi-mimpi itu terkubur begitu saja. Dari orang-orang yang saya kenal, pun hanya beberapa saja yang saya tahu berani bermimpi dan berani mewujudkan mimpinya. Salah satunya adalah sosok anak muda ini. Namanya Fikri Yathir. Saya mengenalnya lewat teman saya. Kebetulan Fikri adalah adik kandung teman saya itu. Kebetulan pula Fikri lolos sebagai peserta Youth Camp yang lembaga kami adakan. Dari pertemuan pertama hingga selanjutnya bisa dirasakan semangat Fikri untuk melakukan yang lebih dari anak muda lainnya. Ketika anak lainnya kebanyakan lebih senang menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, Fikri sudah aktif bersama kami mengikuti kelas-kelas menulis, bikin film dan meneliti, sesuatu yang jarang ditekuni oleh remaja umumnya di kota Makassar.

tanda tangan

Lama tak bersua dengannya, saya dan Fikri lebih banyak bersilatuhrahmi lewat social media. Kami sering bertukar kabar dan informasi. Baru-baru ini di akhir April lalu, saya mendapat tautan dari akun Facebooknya. Fikri memberi kabar gembira bahwa buku pertamanya telah terbit dan dicetak. Saya beruntung bisa bertemu Fikri langsung di Jogja dan mendapat tanda tangan darinya di lembar pertama buku perdananya yang berjudul Aurora. Ah, rupanya mimpi Fikri untuk menerbitkan tulisannya sudah terwujud. Kami berdua tertawa riang mengenang kisah-kisah dahulu ketika dia mulai belajar menulis dan saat dia merantau di kota Gudeg untuk melanjutkan kuliah S1-nya.

Aurora

Buku kumpulan cerita dan prosa “Aurora” ini terdiri dari 17 cerita pendek dan prosa/puisi yang ditulis oleh Fikri dengan ilustrasi foto hasil jepretannya sendiri. Cerita Aurora yang juga menjadi judul buku ini berkisah tentang Glann yang sangat terobsesi dengan aurora  sehingga ketika seorang gadis pengunjung perpustakaan yang kebetulan bernama sama dengan fenomena alam yang berupa pancaran cahaya ini, membuat Glann langsung jatuh cinta (1-23). Dikisah lainnya yang berjudul Ikatan, saya seperti dibawa masuk kedalam pemikiran sang penulis yang menolak istilah ‘ikatan’ untuk sebuah hubungan, baik itu pertemanan, percintaan ataupun keluarga, dan menawarkan ‘tali’ sebagai gantinya. Bukankah, tali tidak selamanya harus diikat? (55-61). Perbincangan mengenai sebuah kebetulan juga dibahas secara menarik melalui Percakapan A dan B. Apakah kebetulan itu terjadi karena ketidaksengajaan ataukah merupakan bagian dari rangkaian keterkaitan antara satu dengan lainnya? Apakah hubungannya antara pikiran dan kenyataan? (25-31).

Beberapa puisi indah yang dituliskan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia dengan manis membuat pembaca terbawa dalam suasana yang digambarkan oleh penulis lewat penuturan yang lugas dan mudah dipahami. Saya sendiri tak begitu menyukai penulis yang terlalu mainstream dengan kata-kata puitis namun gagal untuk sampai ke pemahaman pembacanya. Dari kedelapan puisi yang masuk ke dalam buku ini, yang paling saya sukai adalah After the Fist (65-67). Sebagian besar tulisan Fikri mengambil tema tentang alam, cinta dan keseharian di keluarga sehingga terasa akrab dan dekat dengan pembacanya seperti yang digambarkan pada puisi Biru (83-88) dan Ibu Kepada Aku Tentang Kakek (35-37) serta Dusk Flight (73-81).

Saya teringat kata-kata seseorang yang pernah mengatakan bahwa tak ada penulis yang netral sebagaimana tak ada pembaca yang tak subjektif. Ketika membaca sebuah buku, fiksi atau non fiksi, saya selalu terpengaruh dengan latar belakang penulisnya. Sebagian besar penilaian saya dipengaruhi oleh kesan saya terhadap penulisnya. Mungkin ini yang membuat saya merasa tak pernah sukses menulis review atau resensi buku. Jika pun tak mengenal penulisnya, saya akan mencari tahu latar belakangnya dan hal-hal yang mempengaruhinya ketika menulis. Bagi saya, disetiap karya yang dibuat pasti membawa kepingan diri sang penulis yang diejawantahkan melalui alur cerita dan kalimat-kalimat yang dipikirkan baik-baik olehnya.

Makan dengan Fikri

Membaca kumpulan cerita dan prosa Aurora ini seperti membaca perjuangan Fikri mewujudkan mimpinya menerbitkan buku karyanya sendiri. Sebuah mimpi yang dengan berani ia upayakan untuk terlaksana meskipun membutuhkan beberapa tahun dan harus terpendam sekian saat. Lewat tangan kreatifnya yang menerbitkan sendiri buku ini dan dicetak di percetakan Kanisius, Fikri berhasil membuktikan kepada dunia bahwa apa yang dikhawatirkan oleh Mark Twain tak akan terjadi kepadanya, karena dia berani mengambil kesempatan dan memanfaatkannya dengan baik. Sebuah perubahan memang tak akan terjadi apabila kita tak berani melihat peluang dan menaklukan tantangan. Keberanian yang hanya dimiliki oleh seseorang yang melihat kekuatan mimpi, dan itu terbukti di buku ini. Selamat membaca.

#bacaituseru

Advertisements

Responses

  1. wwwwwwwwwwwwwwooooooooooooowwwwwwwwwwwwwwww qqqqqqqqqq suka bgt ma buku aurora


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: