Posted by: nyomnyom | July 11, 2013

Petualangan Arung Panrita di Kantor Mamak

Dahulu almarhumah mamak selalu menekankan kepada saya untuk tetap bekerja dan tak bergantung secara ekonomi kepada siapapun meskipun telah berkeluarga. Mamak saya dahulu seorang bidan dan kemudian menjadi pegawai BUMN. Beliau tetap bekerja sembari mengurus suami dan anak-anaknya. Kami tak pernah merasa sedikitpun kehilangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtua. Suami saya pun selalu mendukung saya untuk terus bekerja meskipun kami telah dikaruanai anak. Selain alasan mandiri, mereka juga tahu kalau saya adalah tipe perempuan yang tidak bisa diam dan senang bekerja terutama di lapangan.

Puji Tuhan, keluarga saya sangat toleran dengan ‘jiwa’ saya ini dan mereka pun dengan senang hati membantu menjaga dan merawat anak saya, Arung Panrita, ketika saya sedang tugas keluar kota berhari-hari lamanya. Pekerjaan saya di salah satu NGO Internasional dengan wilayah kerja di luar Makassar membuat saya harus sering bepergian selama berhari-hari bahkan minggu ke kota-kota lain di Indonesia Timur. Untungnya tekhnologi masa kini dengan kehadiran social media, aplikasi smartphone dsb membuat jarak semakin tipis dan saya setiap saat bisa mengikuti perkembangan Arung ketika tak berada disampingnya.

Ketika Opa yang biasanya menjaga Arung saat saya atau bapaknya sedang sibuk bekerja berangkat ke Belanda untuk menjenguk kakak dan keluarga disana, tentu saja kami kelabakan. Biasanya, jika saya atau bapak Arung sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan kami, setidaknya ada Opa yang bisa menemani Arung. Paling lama pun biasanya Opa ke Jakarta selama 2 minggu. Kali ini Opa di Belanda selama 3 bulan. Arung yang tidak terbiasa dijaga dengan orang lain dan hanya lengket dengan kami bertiga (saya, bapaknya dan opa) akhirnya harus mengikuti ritme kerja kedua orangtuanya. Kami sendiri kurang percaya anak kami dijaga oleh orang lain, melihat pengalaman yang dialami kawan dan tetangga yang kurang berhasil dengan pengasuh anak mereka. Beruntung, kerjaan suami cukup fleksibel dan saya juga bisa mengatur sendiri jadwal perjalanan keluar kota.

Ketika saya harus mengatur acara di Kupang selama seminggu penuh, Arung ikut ke desa-desa lokasi kerja bapaknya di Takalar. Sewaktu bapaknya harus ke Toraja juga untuk urusan kerjaannya, Arung ikut dengan saya di kantor Makassar. Kebetulan kantor tempat saya bekerja toleran dengan orangtua bekerja. Kami sudah terbiasa bekerja dengan kehadiran anak-anak disekitaran kami. Biasanya setelah pulang dari luar kota selama berminggu-minggu, kawan-kawan mengajak anaknya ke kantor untuk sekedar melepas rasa rindu tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Arung pun demikian. Bahkan Arung sudah tahu meja kerja mamaknya dan terbiasa dengan situasi tempat kerja saya.

Sempat terbersit dalam hati kasihan juga Arung harus ikut orangtuanya bekerja. Tetapi melihat Arung senang dan justru kelihatan bahagia saat bersama saya, hilang sudah rasa bersalah. Meskipun saya terkadang harus bekerja sambil menemaninya bermain atau bahkan harus lembur di rumah karena saat di kantor Arung menguasai komputer saya, tapi itu tak sebanding dengan kebahagiaan bisa bersama Arung seharian. Saat saya harus menghadiri rapat penting di kantor, bapaknya menyesuaikan jadwalnya dan menemani Arung di rumah atau mengajaknya juga ikut bersamanya.

Sejauh ini kami tak menemui kendala berarti bekerja sambil menemani Arung. Dukungan orang sekitar termasuk teman sekerja juga sangat membantu kami. Saya berharap orangtua bekerja lainnya pun juga didukung dengan fasilitas dan situasi kerja yang ramah anak seperti tempat kami bekerja. Arung bahkan punya kebiasaan sendiri ketika berada di kantor saya. Nonton video anak, bermain di teras belakang kantor, minum susu sambil baring-baring dan tidur diatas bantal-bantal.

arung at office

(Arung di kantor mamak)

Tak terasa sudah hampir sebulan kami bergantian bekerja sambil mengasuh anak. Kami semakin terbiasa dan lihai menemaninya sembari menyelesaikan tugas-tugas kerjaan. Meski sedikit lebih repot dan waktu tidur menjadi berkurang karena ada peer kerjaan yang diselesaikan di rumah, tetapi saya bangga dan senang bisa seperti almarhumah mamak yang juga seorang ibu yang bekerja dan tetap mengurusi keluarga. Semoga Arung kelak tumbuh jadi anak yang sehat dan bahagia seperti harapan kami selama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: