Posted by: nyomnyom | January 7, 2014

Sasando, Kenang-Kenangan Dari Tanah Timor Yang Semoga Tak Tingga Jadi Kenangan

Suatu pagi yang cerah di Kota Kupang di bulan Juni 2013. Saya bergegas menuju restaurant hotel untuk sarapan pagi. Sembari menikmati semangkuk bubur ayam dan segelas teh hangat kesukaan, sayup-sayup terdengar musik yang mengalun dari lobi hotel. Lagu yang dipopulerkan oleh Josh Groban, You Raise Me Up, mengalun indah dan merdu. Penasaran, saya mempercepat sarapan dan segera keluar ke tempat asal alunan musik itu berada. Seorang pemuda kira-kira berusia 25 tahunan dengan syal tenun Rote dan Ti’ilangga (topi khas Rote yang terbuat dari daun lontar) tengah memainkan sebuah alat musik yang selama ini saya hanya kenal dari mata uang 5.000 yang sudah tidak beredar lagi. Sasando, demikian nama alat musik yang dimainkan anak muda itu. Dentingan dawai Sasando terdengar begitu jernih dan khas serta sekilas nampak seperti senar sitar dan harpa yang dilekatkan pada tabung bambu serta dibalut dengan anyaman daun lontar. Saya menyesal lupa menanyakan nama anak muda tadi yang telah menghibur pagi saya dengan berbagai alunan musik indah, namun saya mendapat informasi darinya bahwa saya bisa melihat tempat pembuatan Sasando di Kabupaten Kupang.

Bersama seorang kawan bernama Elfrid, saya diajak menuju tempat pengrajin Sasando yang terkenal di Kupang. Terletak di jalan Timor Raya Km 22, tepatnya di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang, NTT dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit dari kota Kupang. Sebuah papan informasi “Pengrajin Sasando” lengkap dengan foto-foto menyambut kami sejak depan rumah. Kami dipersilahkan masuk oleh ibu Dorce Pah dan saya langsung dijamu dengan berbagai macam ukuran dan jenis Sasando yang ada di teras berbahan bambu dan nipah. Berbagai penghargaan dan sertifikat juga menghiasi dinding rumah semi permanen ini. Salah satunya dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang menganugrahi Piagam Anugrah Kebudayaan untuk kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya di tahun 2006. Tak lama, seorang bapak tua menghampiri kami dan memperkenalkan dirinya  sebagai orang yang namanya tertera pada piagam penghargaan tersebut. Beliau bernama Jeremias A. Pah. Bapak Jeremias mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan sarung tenun ikat Rote dan Ti’ilangga di atas kepalanya. Diusianya yang ke-74, Bapak Jeremias masih sigap dan bersemangat menjelaskan kepada saya sejarah Sasando dan asal muasal ketertarikannya pada alat musik tradisional asal Rote, NTT ini.

Papan Pengrajin Sasando

Papan Pengrajin Sasando

Menurut Bapak Jeremias, alat musik Sasando dahulu ditemukan oleh 2 orang gembala bernama Lunggi Lain dan Balo Aman yang tengah menggembalakan ternaknya di pulau Rote. Awal mulanya disebut Sasando Gong yang memiliki nada pentatonik dan memiliki 11 dawai. Lalu berkembang menjadi 24, 36 dan 52 tali dengan nada diatonis dan biasa dinamai Sasando Biola.  Versi lain juga ada yang mengatakan bahwa kisah muasal Sasando adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana yang kelelahan di padang sabana Rote dan bermimpi memainkan sebuah alat musik yang terbuat dari daun pohon lontar. Mimpinya pun berulang untuk kedua kalinya sehingga menginspirasinya untuk membuat alat musik petik seperti yang ada dimimpinya. Meskipun demikian, ada juga yang meragukan cerita ini karena orang Rote sering memberikan nama berdasarkan profesi. Sanggu Ana artinya getaran yang kecil, sementara Sanggu Anak bisa juga diartikan sebagai anaknya Sanggu (Sanggu, si bapak yang ahli memainkan sasando). Namun, dari berbagai versi sejarah asal muasal Sasando ini, semuanya sepakat bahwa alat musik ini begitu merdu dan indah alunannya. Kata Sasando sendiri berasal dari kata Sa dan Sanu, atau Sa dan Sandu yang berarti alat yang menghasilkan bunyi dari getaran yang kecil (di Rote orang menyebutnya Sasandu, di Kupang disebut Sasando).

Alat Musik Sasando

Alat Musik Sasando

Sasando memiliki beberapa bagian diantaranya tabung yang umumnya terbuat dari bamboo dan memiliki tempelan kayu yang dipasang melingkar. Pada tempelan tabung tadi dikaitkan senar-senar yang dipasang memanjang. Baut-baut seperti pada gitar dipasang dibagian atas tabung. Suara yang dihasilkan berbeda-beda karena adanya efek yang dipasangkan pada tempelan tadi. Tabung senar kemudian dibungkus dengan daun lontar berbentuk kipas dan setengah melingkar. Daun lontar ini berfungsi sebagai resonansi Sasando yang memantulkan getaran yang didapat dari senar yang dipetik. Selain Sasando akustik, juga terdapat Sasando elektrik yang disambungkan ke sound system sehingga bisa terdengar lebih jelas hingga jarak yang cukup jauh. Harga satu Sasando berkisar antara Rp. 150.000 hingga Rp. 2.500.000, tergantung ukuran dan jenisnya (akustik atau elektrik). Waktu pengerjaannya pun menurut ukuran dan detail yang diinginkan, mulai dari 2 minggu hingga bulanan.

Bapak Jeremias Pah

Bapak Jeremias Pah

Bapak Jeremias lalu mengajak saya berkeliling di ruangan tempatnya membuat Sasando, Ti’ilangga dan Kain Tenun Ikat Rote sambil bercerita tentang kecintaannya pada budaya leluhurnya dari pulau Rote. Beliau mengenal alat musik petik ini dari ayahnya, August Pah sejak berusia 5 tahun. Sang ayah sering menghibur para tamu Raja Rote dengan memainkan Sasando. Ketika ayahnya meninggal dunia, Jeremias muda melanjutkan pengembangan warisan leluhurnya dan terpanggil untuk mempopulerkannya kepada khalayak umum. Ketika pindah ke Kupang dan kemudian menetap di Desa Oebelo, bapak sepuluh anak ini mulai dikenal sebagai pengrajin Sasando. Bapak Jeremias yang kelahiran 20 Oktober 1939 lalu ini juga mengajarkan kepada anak-anaknya untuk memainkan dan membuat Sasando agar alat musik ini tidak punah dan bisa terus mengikuti perkembangan jaman. Beruntung, sebagian besar anak-anak beliau juga tertarik dan bahkan sering diundang untuk menghibur dan memainkan Sasando. Salah seorang anaknya yang bernama Bertho Pah juga sempat menjadi finalis Indonesia Mencari Bakat dan memukau para penonton dengan petikan dawai Sasandonya. Walaupun demikian, beliau masih prihatin dengan minimnya minat kaum muda untuk mempelajari Sasando padahal tidak begitu susah untuk dimainkan dan semua genre musik bisa mengalun dengan indahnya. Menurutnya, kebanyakan yang datang untuk belajar alat musik Sasando berasal dari luar negeri. Baginya, sungguh disayangkan apabila anak muda Indonesia, khususnya di NTT, tidak lagi mau tahu dan peduli dengan Sasando sementara orang dari negara lain begitu menghargai warisan leluhur kita.  Beliau berharap, dari usahanya yang walaupun kecil namun dengan niat yang besar untuk menjaga budaya lokal bisa kian mendapat perhatian bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dari generasi muda sebagai pewaris budaya bangsa.

Sasando

Sasando

Meskipun kulitnya telah mengeriput, jemari Bapak Jeremias masih begitu lincah bergerak di atas tabung dawai Sasando. Sebuah lagu daerah mengalun indah dan mengantarkan saya dan Elfrid pulang dengan pengetahuan baru dan titipan pesan agar Sasando bisa dipromosikan sehingga banyak anak muda yang mau belajar dan melestarikannya serta kelak Tanah Timor makin bisa dikenal diseluruh dunia. (AM)

Arung, Sasando dan Pak Jeremias Pah

Arung, Sasando dan Pak Jeremias Pah

 

Advertisements

Responses

  1. Aku suka, dan ingin belajar sasando untuk diteruskan kepada anak didik saya….terima kasih saya sudah temukan alamat d google.selama ini saya kira untuk belajar sasando harus ke Rote,lewat pukafu,,aku takut..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: