Posted by: nyomnyom | September 25, 2014

Difabel Dalam Kartun dan Film Anak-Anak

Seorang kawan, Ishak Salim, mentag saya ke sebuah link jurnalisme warga yang berisi tulisannya mengenai pesan kepada Presiden Baru dari warga-warga dengan difabel. Saya langsung teringat pada sebuah waktu ketika memilihkan film-film kartun dan video yang bisa ditonton oleh Arung anakku. Ketika itu saya ingin memilih kartun atau film bukan karena sudah terkenal atau sering diputar tetapi yang memang cocok untuk anak-anak dan sarat dengan pesan positif. Ada beberapa kartun dan film animasi sudah saya unduh namun dari sekian banyak koleksi yang bisa Arung tonton tersebut, tak satupun ternyata yang memiliki karakter Difabel (Different Ability atau Difabel).

Kawan saya Slamet Amex Tohari yang juga seorang dosen difabel yang pertama kali memperkenalkan istilah itu kepada saya sewaktu kami sama-sama kursus bahasa untuk persiapan sekolah di tahun 2009. Menurutnya, istilah difabel ini digunakan untuk mengganti istilah sebelumnya yakni penyandang cacat dimana sangat berkonotasi negatif, seolah-olah mereka tidak normal. Karena kesan negatif ini maka seolah-olah orang dengan difabel tidak mampu dan tidak bisa melakukan hal-hal yang orang non-difabel bisa lakukan. Banyak yang akhirnya menjual ‘cacat’nya ini untuk mencari uang misalnya dengan mengemis. Saya sendiri waktu itu merasa malu karena masih sering melabeli orang difabel dengan kata cacat. Padahal, banyak yang mengaku normal tanpa kekurangan tetapi ternyata hatinya yang cacat. Saya berterima kasih kepada Amex yang telah membuka wawasan saya dan membuat saya lebih memperhatikan hal-hal sekitar dengan sudut pandang yang berbeda. Amex sendiri tak pernah malu atau minder dengan kakinya yang menggunakan kruk karena waktu kecil terkena Polio. Bahkan Amex sering menjadikan dirinya bahaan candaan karena kami sering meledek satu sama lain. Amex juga menjadi inspirasi saya dan kawan-kawan sekelas karena kecerdasannya dan kemampuan menganalisanya yang ciamik.

Kembali ke koleksi kartun dan fllm animasi untuk Arung. Saya ingin Arung juga belajar bahwa orang dengan difabel sama saja dengan orang-orang lainnya. Mereka juga bisa jadi pemain musik, olahragawan, peneliti, dosen, dll. Saya ingin sedari kecil Arung belajar untuk tidak melihat kekurangan diri tetapi belajar untuk mengembangkan potensi yang ada untuk menjadi apa yang diinginkan. Seperti Amex yang selalu gigih meraih apa yang dia inginkan dan memperjuangkannya meskipun banyak yang meragukan. Tetapi rupanya tidak begitu banyak referensi yang bisa saya dapatkan lewat film anak-anak. Yang masih banyak adalah tokoh Pangeran dan Puteri, anak-anak yang lucu  dan karakter-karakter lainnya yang sempurna. Ada beberapa tokoh kartun terkenal dengan difabel yang saya ketahui namun filmnya masih belum bisa dimengerti oleh anak seusia Arung misalnya Professor Charles Francis Xavier a.k.a Professor X di kartun X-Men (kalau X-Men favorit mamaknya Arung hehehe ).

Tak sengaja beberapa waktu lalu ketika mencari-cari koleksi terbaru buat Arung di situ Youtube saya melihat film anak semacam Teletubbies (menggunakan kostum kayak boneka). Saya lalu membuka link-nya dan rupanya pencarian saya menemukan jawaban. Film anak dengan karakter anjing ini berjudul RAGGS, produksi Principle. Film seri untuk anak-anak ini dibuat di Australia oleh ABC tahun 2005 dan diputar di Channel Seven Australia pada Januari 2006. Ada lima karakter anjing yang lucu yang senang main musik dan memiliki band bernama The Raggs Band. Karakter di film ini ada Raggs yang merupakan pemimpin geng anjing ini dan juga penyanyi utama di band, lalu ada Razzles si anjing yang sangat teratur dan terencana, kemudian ada Trilby yang merupakan satu-satunya anjing perempuan dan sangat suka dengan fashion. Lalu ada Pido yang sangat suka berselancar dan santai dan terakhir ada B. Max yang menggunakan kursi roda namun paling pintar menyelesaikan masalah apapun dan suka memperbaiki apa saja yang rusak. B. Max juga pemain keyboard di The Raggs Band dan menguasai juga Saxophone, trompet dan gitar.

the raggs

 

Kelima anjing ini senang belajar dan apa yang mereka pelajari kemudian dinyanyikan bersama. Kadang mereka belajar arah, lalu juga belajar melukis dan lain-lain. Semua terlibat, belajar dan bersenang-senang bersama. Arung juga rupanya menyukai film ini dan ketika saya putarkan dia juga ikutan menari-nari. Akhirnya saya punya bahan untuk memperkenalkan pada Arung bahwa siapa saja bisa melakukan apa saja dan menjadi apa saja sepanjang dia mau berusaha. Meskipun difabel, bukan berarti orang tersebut tidak mampu atau tidak berguna. Semua orang berhak mendapat kesempatan yang sama dan semua orang berhak bekerja dan meraih cita-citanya. Seperti B. Max di the Raggs, tak ada yang tidak bisa diperbaiki olehnya. Dalam hidup, jangan pernah mau jika ada yang mengatakan kamu tidak bisa melakukannya. Percaya diri dan yakin akan kemampuan diri serta tentunya terus menambah pengetahuan dan ketrampilan adalah kunci keberhasilan.

(more about the Raggs : http://raggs.com/raggs/bmax/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: