Posted by: nyomnyom | October 28, 2014

Tondok Kadadiangku

Mungkin sudah banyak yang tahu kalau saya berasal dari keluarga campuran Bali dan Toraja. Dari nama memang sudah ketahuan saya memiliki darah Bali yang diwariskan dari bapak. Almarhumah mamak saya berasal dari Toraja, sebuah daerah di Sulawesi Selatan. Saya sendiri lahir-tumbuh di Makassar dan mendapat pasangan dari suku Bugis-Makassar. Keluarga kami memang beragam dan bercampur baur etnik, budaya serta agama.

arung ntt3

keluarga kami yang beragam

Salah satu keuntungan memiliki keluarga yang multikultur selain bisa merayakan tiga hari raya keagamaan dalam setahun, keasikan lainnya adalah memiliki banyak kampung halaman. Saya sendiri memiliki dua kampung halaman asal orangtua, Bali dan Toraja. Anak saya, Arung Panrita, lebih enak lagi karena memiliki empat kampung halaman yakni selain Bali dan Toraja, juga Pinrang dan Je’neponto asal bapaknya. Saya sendiri sedari kecil sudah terbiasa bepergian mengikuti kebiasaan keluarga kami. Mamak dahulu sering mengatakan kepada saya saat kami duduk santai di sore hari untuk memanfaatkan waktu selagi muda dengan melakukan perjalanan-perjalanan dan mencoba hal-hal baru di tempat yang berbeda. Kata mamak, orang tak akan menjadi bijak jika tak membuka wawasannya dan cara terbaik untuk memperluas wawasan adalah dengan tidak duduk diam di satu tempat. Beranjak dan bepergian ke tempat-tempat baru, belajar dari pengalaman-pengalaman baik dan buruk di sana serta lakukan hal-hal yang diimpikan. Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang berbeda dan jangan pernah ragukan kemampuan dirimu.

Mamakku bukan seorang motivator macam Mario Teguh, tetapi mamakku selalu ingin anak-anaknya belajar dari kehidupan dan menikmati hidup.  Beliau lah yang selalu mendukung setiap keputusan yang saya ambil meskipun saya tahu beliau selalu khawatir dan diam-diam mendoakan keselamatanku. Teringat ketika dahulu saya masih di bangku kuliah dan melakukan perjalanan backpacking seorang diri ke Australia. Waktu itu internet masih susah dan telepon pintar belum eksis. Untuk memberi kabar saja harus membeli kartu telepon dan belum ada SMS. Saya dengan riang gembira berpetualang dengan uang pas-pasan dan malah memilih tinggal lebih lama dari jadwal. Setibanya saya kembali di Makassar barulah bapak cerita kalau mamak baru berhenti khawatir dengan anak bungsunya ini setelah saya menginjakkan kaki di bandara Hasanuddin 🙂

depan Opera House di Sydney

depan Opera House di Sydney

anna india

dengan polisi India

Kesukaanku bepergian dan mencoba hal-hal yang belum pernah saya lakukan masih berlanjut hingga sekarang. Bahkan anakku pun tak jarang ikut merasakan petualangan bersama di tempat-tempat kerja emaknya sejak masih dalam kandungan sampai saat ini dia berusia hampir 4 tahun. Petualangan pertama kami bertiga, saya-suami-anak, dimulai sejak kami tinggal di Inggris selama hampir 2 tahun ketika saya melanjutkan sekolah, berlanjut hingga ke Nepal saat saya melakukan penelitian selama 5 bulan dan terus berlanjut ketika saya tugas ke Kupang, berkunjung ke Bali dan sekarang saat saya mendapat pekerjaan baru di tanah kelahiran mamak saya, Toraja.

Arung di pulau Timor

Arung di pulau Timor

Sebelum ini saya bekerja di salah satu INGO asal Inggris yang mengharuskan saya harus banyak bepergian ke NTT dan NTB yang tentu saja disambut dengan penuh gembira oleh saya yang memang senang mengunjungi tempat-tempat baru. Arung juga sempat ikut saya dan mengunjungi pulau Timor (dari Kupang hingga Atambua) beberapa kali. Ketika saya mendaftar di lembaga tempat saya sekarang ini bekerja, awalnya saya ingin mengisi posisi yang lowong di Makassar. Oleh Program Manager yang di Bali, ditantang untuk posisi yang lebih tinggi dan ditanyakan pula apakah secara geographical saya fleksibel untuk ditempatkan di lokasi program yang ada. Dengan cepat saya menjawab, “asalkan bukan di Jakarta pak”, sambil tersenyum (teringat nasihat mamak untuk tidak meragukan kemampuan diri dan terus belajar). Dan akhirnya, saya pun diterima dan ditempatkan di tanah kelahiran mamak tercinta.

Demikianlah, terhitung sejak Juni 2014, saya memulai petualangan baru di tempat yang meskipun tidak baru  tetapi baru kali ini benar-benar merasakan tinggal di tanah leluhur. Selama ini pula saya seperti terlahir kembali dan menemukan bahwa budaya leluhur saya dari Toraja sungguh sangat kaya dan penuh makna. Pekerjaan saya di INGO dari Swiss ini memang khusus fokus pada pengembangan pariwisata di Toraja sehingga saya beruntung punya waktu lebih banyak dan kesempatan untuk memperlajari lebih dalam budaya Toraja. Tinggal dan bekerja di kampung halaman membuat saya melihat Toraja dari sudut pandang yang berbeda, kali ini bukan sebagai pendatang biasa tetapi melihat Toraja sebagai bagian dari keseharian yang membuat saya bersyukur menjadi anak Toraja.  Tondok Kadadiangku, Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo. Kampung halamanku tercinta, Toraja.

—***—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: