Posted by: nyomnyom | January 16, 2015

It’s not the end of the world

Anakku, Arung Panrita, usianya kini menginjak 4 tahun. November lalu dia baru saja merayakan hari jadinya. Kami merayakannya secara sederhana bersama kawan-kawan terdekat di sebuah halaman belakang rumah seorang kawan. Halaman rumah kawan ini cukup luas, bahkan sangat cocok untuk dijadikan tempat piknik dan camping. Rumah Hijau Denassa (RHD) adalah sebutan untuk tempat ini. Darmawan Daeng Nassa, sang pemilik RHD dengan ramah menerima kami dan menjelaskan jenis-jenis serta kegunaan tanaman yang ada di sana. Arung seperti biasanya memiliki kesibukan sendiri yang lebih menarik minatnya. Dia lebih suka naik di atas lori-lori atau gerobak roda tiga dan saya dimintanya untuk mendorong kesana-kemari.

Arung dan teman-teman

Arung dan teman-teman

Dua hari kemudian suami saya mengabarkan bahwa ibu Syam yang akan melakukan assessment terhadap Arung sudah kosong jadwalnya. Meskipun saya sudah siap dengan apapun hasilnya, namun tetap saja jantung dag-dig-dug gak karuan. Ibu Syam adalah seorang counselor pada sebuah tempat terapi untuk anak berkebutuhan khusus.

Sebenarnya sudah lama saya dan suami khawatir Arung terindikasi Autis berdasarkan ciri-ciri yang kami cocokkan dengan bacaan di internet. Mungkin sejak Arung berusia 2 tahun lebih. Namun, keluarga dan kerabat kerap mengatakan bahwa Arung baik-baik saja, terbukti dia masih mau menatap orang dan mau dipeluk, tidak seperti anak Autis lainnya yang mereka ketahui. Namun, dibanding anak lain yang seusianya, Arung belum juga berbicara. Sebelumnya mulai usia satu setengah tahun dia sudah mengucapkan beberapa kata seperti ‘mama’, ‘bapak’, ‘cicak’, ‘ayo’, ‘gool’, ‘susu’ dan beberapa kata pendek lainnya. Dia juga senang bermain bersama-sama anak-anak tetangga yang datang ke rumah. Menginjak usia kedua, dia mulai malas bergaul. Dia lebih suka menonton video anak-anak yang kami putarkan. Ketika meminta sesuatu dia juga lebih suka menarik tangan kami daripada meminta dengan kata-kata. Bahkan makin lama dia sudah tidak mau memanggil saya ‘mama’ lagi.

Arung dan mamak di Atambua, NTT

Arung dan mamak di Atambua, NTT

Tempat saya bekerja sebelumnya disebuah LSM Internasional mempunyai kebijakan bagi orangtua bekerja untuk membawa anaknya dalam berkegiatan selama sang anak merasa nyaman. Kebetulan wilayah kerja saya di NTT dan NTB. Jika saya harus bepergian selama lebih dari dua minggu maka saya akan membawa Arung bersama saya. Dua tahun kami sering bepergian bersama. Selama itu pula dia biasanya hanya mengoceh tak jelas atau menarik tangan saja. Bahkan ketika dia tantrum bisa menggigit atau menarik rambut saya dan siapapun yang ada didekatnya. Saya dan suami beberapa kali membicarakan hal ini. Saya mencoba mencari info untuk terapi wicara. Ketika itu saya hanya mendapat informasi ada di rumah sakit milik pemerintah yang juga tak jauh dari rumah. Namun, ketika saya berkunjung ke sana, antrian panjang dan jadwal yang padat membuat saya tidak jadi mendaftarkan Arung. Bahkan kami pernah memeriksakan Arung ke dokter anak yang cukup terkenal di Makassar. Dokter itu mendiagnosa Arung dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) dan kemudian meresepkan sebuah obat yang bisa menenangkan bila anak mengamuk. Saya yang memang anti obat buat anak membaca penjelasan pada kemasan obat tersebut. Rupanya obat itu semacam penenang. Salah satu efek sampingnya adalah membuat peminumnya mau bunuh diri atau gelisah. Serta merta saya menolak memberikan ke Arung dan mencari informasi lain.

Seiring waktu saya pindah kerja dan mendapat pekerjaan baru di kampung halaman ibu saya di Toraja. Arung juga ikut bersama saya mulai Juni hingga November 2014. Saat itu Arung sudah berusia 3 tahun lebih. Meskipun paman suami mengatakan bahwa Arung mirip dirinya dahulu yang baru berbicara ketika berusia 5 tahun, namun kami mulai sangat khawatir. Seorang kawan mengatakan bahwa ponakannya sudah lancar bicara ketika diikutkan sekolah. Kami sebelumnya telah mengikutkan Arung di sebuah taman bermain teman kami, namun belum ada perubahan. Akhirnya,  suami mulai mencari lagi informasi tempat terapi wicara dan ternyata di Makassar ada beberapa tempat terapi swasta, hanya saja rata-rata penuh jadwalnya. Kami mencoba mendaftar ke banyak tempat. Siapa yang duluan menelepon itulah yang akan kami ikuti. Kebetulan Taman Pelatihan Harapan dimana ibu Syam bekerja yang duluan menelepon kami.

Tempat Terapi Taman Pelatihan Harapan

Tempat Terapi Taman Pelatihan Harapan

15 November 2014 saya dan suami kemudian membawa Arung menemui ibu Syam. Selama kurang lebih 1 jam kami menjawab pertanyaan ibu Syam sembari beliau memeriksa dan mengamati Arung. Oleh ibu Syam kami dijelaskan mengenai apa itu Spektrum Autis berikut ciri-ciri serta terapi yang diperlukan. Menurut ibu Syam, meskipun tidak seberat beberapa anak Autis lainnya, namun Arung memiliki sebagian besar ciri-ciri anak dengan spektrum autis, contohnya dia tidak berbicara, senang berputar-putar, mengepakkan tangan bila senang dan jarang menengok bila dipanggil namanya. Beliau menguatkan kami bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai terapi. Beliau juga menyarankan untuk segera melakukan diet makanan kepada Arung. Rupanya makanan juga berperan penting dalam memicu keagresifan anak Autis. Kami dianjurkan untuk mulai mencari tahu tentang Autis dan belajar juga untuk melakukan terapi sendiri di rumah selain yang akan diajarkan di tempat ini.

Saya pulang dengan perasaan berkecamuk. Saya yakin suami saya pun demikian. Meskipun kami telah siap dan telah menduga tetapi tetap saja perasaan bersalah dan sedih melingkupi hati. Kami merasa bersalah kenapa terlalu mendengarkan orang lain bukannya menindaklanjuti kekhawatiran kami, kenapa tidak lebih awal membawa Arung ke terapis dan seribu kenapa lainnya. Teringat kata-kata ibu Syam bahwa adalah wajar setiap orangtua merasa bersalah dan menyesali diri ketika dihadapkan pada kejadian seperti ini tetapi yang penting adalah tidak berlarut-larut dan segera mulai secepat mungkin menerimanya dan melakukan terapi kepada anak, kami pun segera mencari informasi sebanyak-banyaknya lewat internet, buku, video dan bergabung dengan salah satu komunitas orangtua dengan anak autis.

Sebagai seorang yang beriman, saya percaya Tuhan memilih kami dengan menganugrahi Arung sebagai anak yang special untuk mengajarkan kami lebih banyak lagi bersyukur dan saling mengisi dalam membimbing dia agar bisa hidup mandiri. Kami yakin diberikan kepercayaan ini agar nantinya bisa berbagi dan melakukan kebaikan untuk menolong sesama lainnya. Sebab tangan Tuhan bekerja dengan misterius dan sebagai umat yang beriman kita harus memanfaatkan kepercayaannya dengan sebaik-baiknya. It’s not the end of the world. It is just a new day with a new hope.

*saya akan terus berbagi pengalaman kami dalam mengasuh dan membimbing Arung lewat tulisan di blog ini.

Advertisements

Responses

  1. keep strong mamak!
    ada teman di Bali nama di FB Ivy Sudjana, mungkin bisa diajak berbagi tentang mengasuh anak berkebutuhan khusus mamak 🙂

    • makasih Happy….sy baru liat ini komen..yg di suggest di FB ya..nanti sy add

  2. hallo mamak.. sya mersi dari soe, ntt.. sya sng skli mmbca artikel mamak tntag mak banoet di bosen yg pandai merajut. sya sgt suka merajut namun di soe tdk ad komunitas perajut… bahkan untuk untuk mmbeli benag atau alat rajut sja sya hrus mmesannya scra online.. mamak punya gak pola2 rajutan yg bisa dipakai untuk blajar?? trimaksh..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: