Posted by: nyomnyom | June 6, 2015

Noda Tak Berampun

Pagi ini saya lebih bergegas dari biasanya karena harus mengantarkan Arung ke sekolah lebih awal untuk hari olahraganya. Sehabis mandi saya lalu mengambil pakaian dari dalam lemari. Sehelai blus berwarna biru gelap untuk atasannya dan celana panjang jeans sebagai padanannya. Blus ini merupakan pakaian andalan saya disaat harus menghadiri acara yang sedikit resmi tapi cukup informal, seperti misalnya untuk menghadiri diskusi pengalaman para Traveler di acara Makassar International Writers Festival siang ini.

Sebagai seorang perempuan yang cukup matang (tak mau disebut berumur :-p) dan seorang ibu dari anak lelaki gagah nan lincah, saya sungguh jauh dari gambaran sosok ibu-ibu gaul masa kini dengan dandanan dan penampilan yang modis. Saya hanya memiliki satu pelembab dan satu bedak. Lipstick pemberian sahabat saya sudah tak tahu lagi di mana rimbanya, padahal baru sekali saja kupakai saat menghadiri sebuah acara kantor yang mana saya (harus) memberikan sambutan.

Baju koleksi saya pun dari waktu ke waktu tak begitu banyak bertambah. Sejak punya anak, saya memang jarang membeli pakaian untuk diri sendiri. Kesenangan berbelanja entah mengapa berganti dengan keantusiasan saat melihat koleksi online shop yang menjual pakaian anak-anak. Bahkan, setelah kulihat dan perhatikan kembali, hampir sebagian besar pakaian saya berwarna gelap. Entah itu hitam, biru tua, coklat tua atau merah bata tua.

Bapak saya sendiri pernah mengatakan, setelah beliau memperhatikan foto-foto saya di sosmed (jangan salah, bapak saya eksis di sosmed juga lho), kalau baju yang saya kenakan di berbagai kegiatan yang saya unggah “itu-itu saja”. Padahal, biasanya kaum lelaki lah yang menjadi tertuduh sebagai orang yang selalu memakai baju yang sama berulang kali bila sungguh menyukainya. Dan ini dengan sendirinya terpatahkan oleh anaknya sendiri. Saya jadi teringat mamak saya pernah bercerita bahwa mencari suami tak perlu yang penampilannya bagus atau modis, tapi carilah yang penyayang dan akhlaknya baik. Kata mamak, penampilan bisa diubah tetapi sifat akan selamanya melekat. Rupanya dahulu bapak saya punya pakaian yang menjadi andalannya tersendiri. Orangtua dulu menyebutnya dengan “baju keramat”. Anak muda sekarang mengistilahkan dengan “outfit of the day(s)”.

“Baju kaos warna hijau dan celana warna merah adalah kesukaannya”, tutur mamak. “Bayangkan lah betapa noraknya bapakmu dulu”, lanjutnya sambil tertawa. “Saya menyembunyikan pakaian bapakmu itu dan selalu pura-pura tak tahu bila ditanya kemana perginya itu baju dan celana kesayangannya. Pelan-pelan kugantikan dengan pakaian yang lebih pas dan enak dipandang. Dan lihatlah penampilan bapakmu, sudah lumayan kan?”, sambung mamak lagi kepada saya yang terkekeh-kekeh mendengar cerita itu.

Kembali ke saya, dahulu ketika masih bekerja untuk sebuah Asosiasi Dokter di Asia, penampilan saya layaknya seorang sekertaris. Jas atau blazer dengan padanan rok pendek atau celana panjang adalah model kesukaan saya meskipun make-up tetap jarang saya lakukan. Setelah beberapa lama berat badan pun kian bertambah seiring godaan cemilan dan makanan dari kantin dekat ruangan. Alhasil, semua menjadi sempit dan akhirnya tak bisa memadupadankan dengan baik. Terkadang apa yang cocok dibadan itulah yang akan saya kenakan meski gak nyambung.

Sekarang ini, kata teman saya yang komentarnya beda tipis dengan Ivan Gunawan saat jadi juri lomba dangdut, penampilan saya sudah lumayan membaik meski masih kurang bervariasi. Warna-warnanya juga cenderung monoton (Benar kan? Temanku ini sudah mirip Ivan Gunawan). Usulnya, saya harus lebih berani bermain dengan warna terutama warna cerah semacam putih, krem, biru muda atau warna pastel. Boleh juga pikirku.

Tiba di lokasi MIWF, rupanya saya satu jam lebih cepat. Karena tadi terburu-buru saya lupa untuk sarapan. Kata panitia, di depan ada penjual bakso enak. Saya lalu ke sana dan sembari menikmati bakso pesanan, saya mulai berpikir-pikir untuk mengikuti saran teman itu. Mungkin setelah acara ini nanti selesai, disaat jeda makan siang, saya akan ke pertokoan mencari blus atau baju dengan warna lebih cerah. Keren juga pikirku memakai blus putih dengan leher model sabrina dipadukan dengan rok a line motif toraja yang kujahit beberapa waktu lalu. Tiba-tiba kuah bakso muncrat di blus yang saya pakai karena tertumpah dari sendok. Melongok ke baju, saya tersenyum dalam hati. “Saya memang berjodoh dengan baju warna gelap. Menyelamatkan dari noda-noda tak berampun”.

#NulisRandom2015 #Day4 #NulisRandom2015Day4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: