Posted by: nyomnyom | June 9, 2015

God is Good… God is Love

Lahir dan tumbuh bahkan berkeluarga dalam perbedaan suku serta agama membuat saya merasa bersyukur bisa merasakan hidup dalam berbagai budaya, ritual, bahasa, kepercayaan hingga tradisi. Dalam perbedaan ini saya merasakan kekayaan spiritual yang luar biasa serta kesempatan belajar banyak hal yang memperluas wawasan serta membuka pikiran. Tentu saja pengalaman berharga ini tak semua didapatkan dari hal-hal yang membahagiakan saja. Tak jarang saya merasakan cemooh atau bahkan tudingan yang sungguh tak lagi membuat saya merasa sedih atau marah.

Bapak saya berasal dari Bali. Beliau bertemu almarhumah mamak saya di Makassar. Mamak saya sendiri berasal dari Toraja. Mereka menikah dan tinggal membesarkan saya serta kedua kakak di kota Makassar. Mereka menikah dalam upacara Katholik, Hindu dan catatan sipil pada tahun 1973 dimana waktu itu negara masih mengakui pernikahan beda agama. Saya dan kedua kakak menganut agama Katholik seperti mamak namun kami sering mengikuti bapak ikut sembahyang di Pura. Saya masih ingat sewaktu kecil sering diajak bapak saat sembahyang purnama di Pura dekat rumah kami. Karena saya kurang paham dan hapal rapalan doanya yang dalam bahasa sansekerta, akhirnya saya lebih memperhatikan badan orang-orang yang berada di depan saya yang bergerak naik turun mengikuti irama nafas yang sama sesuai lafalan doa. Bagian kesukaan saya adalah ketika air doa diguyurkan ke tangan untuk diminum dan setelah itu sejumput beras diberikan untuk ditaruh didahi dan kiri kanan pelipis. Saya rasa bapak saya adalah seorang Hindu yang taat karena beliau sangat jarang melewatkan hari sembahyangnya dan selain itu saya perhatikan beliau sebisa mungkin tak membunuh binatang. Misalnya ketika seekor semut merayap ditangannya, bapak hanya meniup kecil hingga semutnya terjatuh ke tanah tanpa perlu membunuhnya.

Begitu pula dengan mamak saya. Beliau rajin berdoa dan ke gereja serta mengikuti kebaktian bersama rukun sekitar. Ada satu ritual Minggu pagi bersama mamak yang tak bisa saya lupakan bahkan hingga beliau tiada. Mamak saya meskipun cukup moderat tetapi untuk urusan Tuhan beliau terkadang sangat konvensional. Baginya, hari untuk Tuhan adalah hari Minggu dan semestinya pagi hari adalah waktu yang tepat untuk ke gereja. Dahulu kami sering beramai-ramai ke gereja. Ketika dewasa dan kedua kakak saya merantau ke luar Makassar maka sayalah yang paling sering menemani mamak ke gereja. Sebagai anak muda yang lagi senang-senangnya bergaul, malam minggu adalah malam yang panjang. Dan setiap pagi di hari Minggu saya akan selalu dibangunkan mamak untuk mengantar (baca: menyupiri) dan menemaninya beribadah. Saya yang masih muka bantal karena telat tidur biasanya lalu bernegosiasi untuk sore hari saja ke gerejanya. Dan selalu saja ditolak oleh mamak yang mengatakan Minggu pagi adalah hari Tuhan. Kemudian berangkat lah kami. Di gereja pun mamak selalu memilih bangku didepan agar bisa konsentrasi beribadah. Menurutnya, duduk di belakang akan mengganggu perhatian karena banyak kepala yang dilihat. Kami punya bangku favorit, bagian depan baris tengah sebelah kiri. Tempat ini cukup strategis menurutku karena ketika waktunya orang-orang maju untuk menerima komuni maka saya akan dengan mudah memperhatikan model baju atau rambut mereka yang menyambut komuni.

Karena saya agak susah diam dalam waktu lama, maka tak sengaja kaki saya sering berayun-ayun atau bergerak-gerak. Dan mamak sudah pasti akan mencubit saya untuk diam. Setelah selesai ibadah kami biasanya singgah ke pasar atau membeli makanan. Sebuah ritual yang berulang setiap minggunya sampai mamak meninggal dunia. Sampai sekarang saya kadang memimpikan ritual itu terulang lagi. Jika teringat mamak, saya mendoakan Salam Maria untuknya. Beliau meninggal dunia karena sakit kanker pada tahun 2006 lalu tepat jam 3 sore dimana beliau biasanya berdoa kerahiman. Saya sendiri menyaksikan beliau berpulang dengan damai dan tenang. Kami sangat kehilangan dan merindukan mamak tetapi kami percaya beliau sudah bersama Bapa terkasih dan menjaga kami dari ‘atas’. Yang membahagiakan, beliau didoakan dari semua kerabat dan sahabat dari berbagai agama. Kristen, Katholik, Hindu dan Islam. Semua mendoakan dengan caranya masing-masing. Dalam hati saya berkata, “alangkah beruntungnya mamak saya didoakan banyak orang dari berbagai agama”.

Seiring waktu, saya menemukan jodoh seorang yang berdarah Bugis-Makassar dan seorang Muslim yang taat. Yang membuat saya paling suka dengannya adalah karena dia rajin beribadah. Jika seorang lelaki takut Tuhan tentunya dia seorang yang baik budinya. Selain itu, dia juga sahabat diskusi saya sejak lama mengenai filsafat dan agama-agama. Kami dahulu sering bertukar bacaan mengenai dua hal itu dan juga sastra. Kami juga tak menyangka tak perlu waktu lama untuk kami melanjutkan hubungan ke pernikahan karena kami berbeda agama. Mamak saya pernah berkata, dia tak mengapa bila anaknya pindah agama yang mungkin bahkan bukan agama kedua orangtuanya, asalkan karena keyakinan dan percaya bukan karena terpaksa. Saya pun sependapat. Sejak jaman kuliah saya banyak belajar agama-agama. Bahkan kata sahabat saya, Isdah, pengetahuan saya akan Islam lebih banyak dari dia. Saya banyak belajar kebaikan-kebaikan dari Islam, Budha, Hindu dan kepercayaan lainnya. Saat masih berkawan dengan suami, saya tahu dari ceritanya bahwa di kamarnya ada patung bunda Maria dan gambar Yesus. Bahkan dia pernah ingin belajar tentang Hindu jadi saya meminjamkan buku bapakku.  Rupanya belakangan kami ternyata berjodoh.

Kami melakukan Akad Nikah terlebih dahulu dimana bapak saya menyerahkan saya kepada Imam untuk dinikahkan. Waktu itu tanggal 17 Agustus 2008. Tanggal yang mudah diingat. Selang dua bulan kemudian kami lanjutkan dengan Pemberkatan Gereja setelah mengikuti Kursus Pernikahan. Saya teringat ketika itu ibu yang memimpin kursus bertanya kepada pasangan-pasangan yang hadir. Pasangan pertama rupanya beda agama juga, Kristen-Katholik. Pasangan kedua, Islam-Katholik. Pasangan ketiga juga Kristen-Katholik dan saya juga Islam-Katholik. Begitu tiba dipasangan kelima yang menjawab dengan Katholik-Khatolik, dengan refleks si ibu berkata “Puji Tuhan”. Mungkin saking banyaknya yang beda agama, hehehe. Ketika Pemberkatan Nikah pun mengikuti tata ibadah pernikahan beda agama. Tak ada pembaptisan atau ritual Katholik untuk suami saya. Hanya janji nikah yang dibacakan sebagai ikrar untuk pernikahan yang langgeng sampai maut memisahkan.

Setelah Pemberkatan Nikah dilanjutkan saat itu juga dengan Pencatatan Sipil. Karena yang kami daftarkan adalah nikah gereja kami maka kami mendapat sertifikat nikah. Ketika petugas pencatatan sipil menanyakan saksi yang adalah ipar saya dan kakak saya, petugasnya langsung terbahak ketika mendengar biodata saksi dan orangtua pengantin. Ada tiga agama, Hindu-Katholik-Islam. Katanya, “kalian sungguh Bhinneka Tunggal Ika”. Begitu lah kami sekeluarga yang Puji Tuhan hingga saat ini hidup rukun dan saling menghormati. Sayangnya, orang diluar kami yang seringkali melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan itu juga kami hargai. Suami saya tetap rajin sholat setiap hari. Bapak saya selalu aktif dan rajin bersembahyang di Pura. Dan saya yang kadang-kadang rajin ke gereja. Anak saya Arung sebagaimana kesepakatan kami harus sejak lahir dididik dengan ajaran agama. Ketika dia dilahirkan, bapaknya sudah meniupkan azan ditelinganya dan dua ekor kambing telah disembelih untuk aqiqahnya. Betapa bahagia Arung menurut kami karena punya banyak kampung halaman dan memiliki akar budaya serta keberagaman agama dan tradisi dalam perkembangannya.

Satu hal lagi, kartu keluarga kami sangat keren menurut saya. Ada tiga agama didalamnya. Dan yang tak kalah kerennya menurut kawan saya adalah kami merayakan tiga hari raya keagamaan dalam setahun. Itu berarti saya akan memesan kue 3 kali lebih banyak daripada orang lain. Keberagaman kami adalah sumber rejeki bagi yang lain… 🙂

#NulisRandom2015 #Day9 #NulisRandom2015Day9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: