Posted by: nyomnyom | June 11, 2015

Kisah Temanku

Kami sudah saling mengenal sejak jaman kuliah dahulu. Cukup lama sudah. Tetapi kami tak begitu akrab. Saling tahu memang iya. Akrab? Tidak juga.

Meskipun berteman dengannya disalah satu akun sosial media, tetapi saya mulai rajin memperhatikan akunnya kira-kira sekitar November tahun lalu. Waktu itu dia memposting status mengenai agama dan orang-orang yang banyak mengabaikan kebaikan dan kemanusiaan demi alasan taat pada agama. Statusnya cukup panjang. Aah, sangat panjang malah. Tetapi seperti ada magnet disetiap kata-katanya yang membuat saya terus ingin membaca hingga kalimat terakhir. Karena isunya cukup sensitif dan waktu itu lagi panas-panasnya isu politik karena pilpres membuat saya berkomentar singkat saja: “sukaaa”. Tahu sendiri lah kalau orang-orang didunia maya sering tak rasional menanggapi sesuatu isu sensitif. Saya yang berasal dari keluarga beragam suku dan agama lebih baik memilih bijak untuk bicara dalam ruang diskusi yang sehat saja daripada kena bully di dunia maya.

Saya sendiri baru tahu banyak tentangnya hal dari status-status yang ditulisnya. Tentang anaknya Nita, Ochan dan Hilmi. Tentang lingkungan tempatnya tinggal, tentang kegiatannya berkemas untuk mengikuti suaminya pindah tugas lagi, pengalamannya dengan hotel yang menilainya hanya dari pakaiannya, dan masih banyak lagi. Fokus ceritanya sebenarnya biasa saja. Kejadian sehari-harinya, anak-anaknya, pasar lokal dekat rumahnya, semua yang biasa-biasa saja. Namun caranya menuturkan dan mengisahkan dengan bahasa sederhana tetapi mengalir indah, membuat saya betah melirik timeline mencari status-status barunya. Selain itu caranya merefleksikan kesehariannya seperti membaca diri sendiri yang mengalami hal yang sama. Biasanya saya cukup sebal bila dia cuma menuliskan status pendek saja. Saya juga kesal ketika status-statusnya selama beberapa waktu berisi info atau foto-foto reuni SMA nya saja. Saya merindukan membaca tulisannya yang panjang. Menurutku dia memiliki bakat alami dalam menulis. Gaya tulisannya setipe dengan Fauzan Mukrim, penulis idolaku juga.

Selama itu juga kami cuma saling mengirimkan komentar lewat sosial media tanpa pernah bertatap muka. Setahu saya dia sudah kembali ke Makassar dari tempat tugas suaminya yang dahulu. Saya sendiri lebih banyak berada di Toraja karena bekerja di sana. Makanya ketika tahu di Makassar International Writers Festival (MIWF) akan hadir penulis-penulis hebat, saya berharap dia juga bisa ikutan disalah satu workshop menulis yang diadakan. Saat tahu juga tantangan menulis random ini diadakan saya lalu men-tag dirinya dengan harapan dia mau ikutan agar saya bisa terus mendapatkan cerita-cerita menarik darinya. Egois memang, hehe, tetapi secara tidak langsung saya tahu dia kelak akan merasakan manfaat ikut tantangan ini. Minimal bila suatu waktu kelak buku tulisannnya terbit, saya dapat gratisan 1 plus tanda tangan. Hehehe… Syukurnya dia mau saja ikutan.

Untungnya lagi MIWF mempertemukan kami lewat workshop jurnalisme naratif bersama ibu Janet Steele. Tak banyak yang berubah dari dirinya. Masih seperti ketika mengenalnya pertama kali 19 tahun yang lalu. Yang berbeda hanya hijab yang mempermanis wajahnya dan sebuah kacamata yang bertengger dihidungnya yang kulihat dipakainya di foto profilnya. Setelah workshop itu kami masih bertemu lagi besoknya. Tadinya mau mengajaknya ke peluncuran bukunya sahabat saya, Aan Mansyur, tetapi karena terlambat jadinya dia datang saat acara sudah selesai. Sebenarnya dia pun tak tahu siapa itu Aan, tetapi demi membuat kesal seorang kawan lain yang ngefans dengan Aan maka dia mengajak berfoto bersama Aan.

Saya yang diam-diam ngefans sama tulisannya sempat berpikir memberikan kado buku River’s Note nya Fauzan Mukrim, namun baru saja saya tahu dia sudah punya bukunya. Untungnya ada plan B. Aan yang saya beritahu kalau yang mengajaknya berfoto bersama meski tak kenal siapa itu Aan Mansyur adalah seorang penulis berbakat, maka berjanjilah Aan akan menghadiahkan buku terbarunya kepada kawan saya ini. Saya berharap dia bisa segera menyusul dua sahabat saya itu menerbitkan bukunya sendiri. Sementara ini mari nikmati saja setiap hari dalam bulan Juni ini kisah-kisahnya yang dituturkan lewat blog pribadinya.

#NulisRandom2015 #Day10 #NulisRandom2015Day10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: