Posted by: nyomnyom | June 13, 2015

#WeekendProject di Toraja

Segelas jus terong belanda atau yang biasa disebut dengan tamarella disajikan dihadapanku. Jus tamarella memang sangat populer di Toraja, kampung halaman sekaligus tempatku bekerja sekarang ini. Biasanya diberikan sebagai welcome drink untuk tamu-tamu hotel atau menjadi menu tetap diberbagai cafe dan restauran.

Bapak Yus, sang pemilik Hotel Poppies, mempersilahkan saya untuk menikmati jus yang dibuat dari dapur mereka. Saya yang memang kebetulan sedang haus lalu meneguk jusnya dengan segera. Sebuah sensasi yang cukup berbeda terasa mengalir ditenggorakan. Tidak seperti jus tamarella yang biasa saya minum. Sepertinya bukan hanya buah tamarella saja yang menjadi bahan utama jus ini.

Sambil terkekeh-kekeh pak Yus mengatakan bahwa jus yang mereka buat itu dicampur lagi dengan buah lemon. “Beli dimana lemonnya pak?”, tanyaku. Di Toraja setahuku cukup sulit mendapatkan buah lemon, kalaupun ada hanya dijual di mini market dengan harga yang cukup mahal. “Itu di sana ambilnya”, kata pak Yus dengan logat campuran Bali-Makassarnya sambil menunjuk area halaman di samping hotelnya. Pak Yus memang sejak SMP pindah ke Bali dan setelah menikah beberapa lama baru pindah kembali ke Toraja, makanya logatnya pun bercampur baur.

Saya segera meminta pak Yus untuk mengajak saya melihat kebun lemonnya. Benar saja, di sebelah kanan gudang penyimpanan keperluan kebunnya terdapat 3 pohon lemon yang sedang berbuah dengan lebatnya. Di sebelah kiri terdapat 2 pohon juga sedang berbuah. Bahkan beberapa lemon sudah terjatuh di tanah. Seperti melihat harta karun saya lalu meminta sedikit lemon dari pak Yus untuk bahan infused waterku. Pak Yus memetikkan beberapa buah sambil berkata, “jika masih ingin nanti datang saja kembali. Tetapi saya tak akan memberikan buahnya, namun saya akan mengajarkan cara menanamnya.”

Kebetulan beberapa hari kemudian kantor saya mengadakan sebuah pertemuan dimana pak Yus hadir. Saya lalu mengajak mbak Prima dan mas Andi, pemilik restauran Mambo di Rantepao, yang juga hadir diacara tersebut untuk berguru kepada pak Yus. Bersama mbak Prima, mas Andi serta Nori dari Dinas Pariwisata Torut dan Pindan, sahabat saya, kami tergabung dalam komunitas yang bernama #weekendproject. Sebuah tempat ngumpul diakhir pekan saat saya tak ke Makassar dan yang lain tak sedang ada kesibukan. Sebelumnya kami membuat kerajinan tangan bersama-sama seperti bros dari kain flanel dan pincushion dari bekas tutup galon.

#WeekendProject ini merupakan tempat kami mengisi waktu senggang bersama sambil belajar apa saja. Karena pak Yus merupakan salah satu orang yang sangat mencintai lingkungan serta ahli dalam membuat kompos di Toraja maka kami meminta beliau untuk mengajarkan kami teknik berkebun dengan memakai kompos dari kotoran ternak dan sisa penggilingan padi.

Toraja sendiri adalah penghasil kotoran kerbau yang sangat banyak dan juga dimana-mana sisa kulit padi dan abu bakar dari penggilangan padi hanya menjadi sampah belaka. Tak sulit mendapatkan bahan utama pembuatan kompos ini. Bahkan saya mendapat 3 karung kotoran kerbau dan 1 karung sekam kulit padi untuk kami gunakan sebagai bahan belajar. Pak Yus juga telah menyiapkan biang untuk pembentuk jamur yang akan menjadi material pembentuk nutrisi kompos.

Belajar dari pak Yus

Belajar dari pak Yus

Saya sendiri sejak nge-kos di Toraja ini banyak mengisi waktu senggang dengan berkebun. Di halaman belakang tempat kos saya isi dengan deretan sayuran yang telah bergantian dipanen. Pada teras depan saya memajang pot-pot tanaman hias. Senang rasanya melihat tanaman tersebut bertumbuh. Selada, sawi, kangkung, kemangi, sereh, cabe, tomat dan daun bawang adalah sayuran yang membuat pasar menjadi sejengkal jaraknya dari dapur saya. Kompos kotoran ternak hasil belajar pun telah mengisi pot-pot sayuran dan tanaman hias di tempat kos.

Hasil belajar #weekendproject kini telah menunjukkan keberhasikan. Bunga matahari yang saya tanam sebelumnya mandek begitu saja tetapi begitu saya berikan komposnya tak begitu lama mulai berbunga. Sangat cantik dan membuat betah berlama-lama memandanginya. Sayuran kangkung juga mulai tumbuh subur dan daun bawang hasil daur ulang dari batang akar yang lama pun juga mulai melebat. Untuk pestisida saya menggunakan bahan organik pula dari air kapur dan cabe yang diulek untuk disemprotkan pada hama ulat atau semut.

Akhir pekan ini kami berencana belajar tentang kopi Toraja pada pak Suleman Miting, seorang pecinta kopi dan budaya. Setelah itu kami juga ingin mengunjungi kebun kopi milik Toarco dan melihat langsung pemetikan dan pengolahan kopi mereka. Sekarang, akhir pekan di Toraja menjadi lebih menyenangkan bersama #weekendproject.

Bunga matahari di rumah kos saya di Toraja

Bunga matahari di rumah kos saya di Torajai

#NulisRandom2015 #Day12 #NulisRandom2015Day12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: