Posted by: nyomnyom | June 15, 2015

Menganyam Tikar

Toraja, kampung halaman mamak saya ternyata sungguh kaya akan ragam budaya, keindahan alam dan adat istiadat yang menyatu dalam keseharian masyarakatnya. Sebelumnya saya hanya sering mengunjungi objek wisata yang kerap didatangi oleh wisatawan. Tidak jauh-jauh dari seputaran kuburan dan rumah adat. Bagi saya yang sering bolak balik Toraja untuk mengunjungi keluarga waktu itu, hampir tak ada objek wisata yang menarik perhatian lagi. Sudah terlalu mainstream kalau kata anak gaul sekarang.

Mendapat kesempatan bekerja dan tinggal di Toraja membuat saya berkesempatan menjelajahi dan mengenal lebih jauh tanah leluhur asal almarhumah mamak. Ternyata, Toraja tak sekedar kuburan, upacara adat dan rumah tongkonan. Masih banyak tersembunyi tempat-tempat menarik hingga pesona kerajinan dan produk lokalnya yang unik dan sarat dengan kekayaan budaya.

Kali ini saya ingin menceritakan tentang salah satu hasil kerajinan tangan khas Toraja yakni tikar Toraja atau yang biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan “appa” atau “ale“. Pengrajin anyaman tikar ini umumnya berasal dari Kec. Denpina (Dende Piongan Napo), Kab. Toraja Utara. Terdapat sembilan desa (atau disebut dengan Lembang di Toraja) di kecamatan ini yang mana penganyam tikar Toraja ini banyak berdomisili di Lembang Ma’dong dan Lembang Paku. Pemandangan menuju Dende’ juga sangat indah dan menakjubkan.

Pemandangan menuju Dende'

Pemandangan menuju Dende’

Bahan utama anyaman tikar ini diambil dari sejenis rumput ilalang (mirip padi) yang disebut daun Tuyu. Umumnya masyarakat di Dende’ menanam daun Tuyu ini dekat sawah mereka. Dahulu, selain tikar, mereka juga banyak membuat Tas dan Kapipe’ (tempat bungkus nasi). Namun karena masyarakat sudah jarang menggunakan Kapipe’ untuk membawa nasinya maka sudah semakin sedikit yang membuatnya. Lebih banyak yang membuat tikar karena masih banyak dibutuhkan terutama untuk dipakai sebagai alas duduk untuk Lantang (pondok tempat acara saat upacara adat) atau dipakai di rumah sebagai alas tidur.

Empat kumpul Daun Tuyu

Empat kumpul Daun Tuyu

Saya bercakap-cakap dengan ibu-ibu pengrajin yang ditemui di Dende’ sembari melihat-lihat mereka mengayam tikar. Salah seorang ibu mengatakan bahwa mereka mengerjakan tikarnya diwaktu luang saja, biasanya setelah berkerja di sawah atau kebun dan selesai mengurus rumah tangga. Umumnya di sore hari mereka duduk santai di teras rumah dan mulai menganyam. Untuk satu tikar mereka menggunakan 4 kumpul daun tuyu yang bisa juga dibeli pada tetangga seharga tiga puluh ribu rupiah untuk empat kumpul. Masa pengerjaan untuk satu tikar selama satu minggu dan dijual di pasar sebesar seratus ribu rupiah. Sekarang mereka juga sudah membuat variasi warna untuk tikar atau tas yang dibuat dengan warna merah yang diambil dari rumput Adunda atau warna hijau dari kasumba.

Anyaman Tikar

Anyaman Tikar “Appa/Ala”

Jika dalam sebulan satu ibu bisa menghasilkan satu tikar maka lumayan juga pendapatan sampingan dari para ibu-ibu ini. Mereka juga mewariskan ilmu menganyam ini kepada remaja puteri sehingga kerajinan tangan khas Toraja ini tidak punah. Sebagai pencinta budaya Toraja, yuk kita juga mulai memakai produk lokal agar semakin banyak yang tahu betapa Toraja sangat kaya adat istiadat dan budaya.

#NulisRandom2015 #Day14 #NulisRandomDay14

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: