Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Tentang Dia

IMG_20150502_204039

Perkenalkan. Cowok keren di atas yang lagi nyamar jadi bajak laut saat lukis wajah disalah satu acara di Makasar ini sebenarnya punya banyak nama panggilan. Ada yang manggil dengan sebutan “pak guru” karena profesinya yang seorang guru, ada yang nyebut dia dengan “om kumis” karena kumisnya yang ala-ala pak Raden di serial si Unyil, ada sepupu yang namain dia “om Im-Im” dari singkatan namanya, pula ada yang manggil dia “Bambang” dari panggilan masa kecilnya.

Pertama kali kenal cowok kumis yang super pede ini ketika Friendster (semacam Facebook, jaringan pertemanan online. Ini info buat yang belum lahir atau gak tahu apa itu Friendster hehe) lagi jaya-jayanya. Sepertinya ketika itu dia yang ngajak kenalan duluan karena membaca postingan 5 list lagu-lagu kesukaan pada wall saya. Rupanya kami menyukai lagu yang sama dari sebuah band yang tidak terlalu heboh dikalangan anak muda pada saat itu. Langsung saja saya dikirimi pesan dan terjadi lah berbagi kisah kenapa kami menyukai lagu itu. Ternyata kami sama-sama menyukai lagu itu karena sama-sama suka menyanyikannya ketika patah hati. Saya baru putus dari pacar kuliah ketika itu dan dia ntah patah hati dari cem-cemannya yang keberapa. Lagu itu adalah lagu kebangsaan kami. Saat itu dia memakai nama “Karaeng” sebagai nama akunnya.

Cowok ini memang super pede tapi juga cerdas dan enak diajak berbagi cerita. Pengetahuannya yang luas tentang agama dan filsafat membuat saya yang waktu itu lagi tergila-gila mempelajari berbagai literatur kepercayaan-kepercayaan jadi seperti menemukan teman diskusi yang asik. Terkadang kami saling mencela dan bertukar cerita mulai soal kerjaan, hobi hingga pacar masing-masing. Bahkan ketika saya memperkenalkan dia kepada teman saya Aliah, langsung juga mereka klop terutama karena dia seorang yang suka mendengarkan dan saya serta Aliah senang curhat. Hehehe.

Tetapi dari sejak mengenal cowok ini didunia maya, kami baru bertemu langsung selama 3 kali. Kali pertama ketika saya masih bekerja sebagai sekertaris disebuah asosiasi dokter asia. Waktu itu dia ingin mencari sebuah buku dan karena saya juga sering nongkrong di cafe baca seorang kawan lalu saya menganjurkan mencarinya di situ. Pertemuan yang singkat, mungkin cuma 30 menit dan itupun kebanyakan saya yang ngomong. Rupanya didunia maya dia cerewet tetapi didunia nyata jadinya pendiam. Atau bisa jadi karena saya memang yang terlalu semangat bercerita soal cafe baca itu.

Selain Friendster, kami biasanya saling mengunjungi blog masing-masing. Saya salah satu penggemar tulisan-tulisannya yang liar, jujur dan reflektif. Pernah dia traktir saya langganan domain blog selama setahun. Selain pede dan cerdas, dia juga baik hati. Kami juga berbagi kabar lewat email secara rutin. Dia sering cerita soal pacarnya dan saya juga cerita kekasih-kekasih saya sebelumnya. Dia memang teman yang menyenangkan. Saya dan Aliah sangat mengagumi kesetiaan dan perhatiannya kepada pacarnya yang kerap disinggungnya disela-sela postingan. Kata Aliah waktu itu, ” Karaeng kayaknya tipe cowok setia dan sangat sayang kepada pasangannya karena tak pernah ada cerita jelek atau keluhan”.

Pertemuan kedua kami secara langsung ketika saya meminta tolong dirinya membalaskan email kerjaan. Dia memang saya berikanan password email dan blog sejak lama karena entah mengapa saya sangat percaya dengannya. Waktu itu saya habis pulang dari Jogja dan terserang cacar air. Karena hape belum seperti sekarang yang bisa akses internet dan di rumah juga tak bisa online maka saya meminta dia untuk datang ke rumah. Kebetulan kantornya dan rumah saya cukup dekat. Dan datanglah dia ke rumah yang disambut saya dengan muka penuh bercak cacar. Saya menginstruksikan kata-kata yang harus ditulis pada email dan setelah itu dia kembali pulang ke kantornya.

Ketika dia memberikan produk perusahaan kantornya kebetulan saya tak ada jadi kalau tak salah dititipkan pada orang lain. Almarhum mamak pernah bertanya kepada saya, “mana itu temanmu yang pernah kasih mentega dan shampo”?. Lama memang kami tak bertemu, hanya sesekali berkomen pada blog dan mengirim email. Selang sebulan setelah dia membantu saya mengirim email tersebut, mamak saya meninggal dunia karena sakit. Rupanya dia juga hadir melayat tetapi kami tak bertemu karena saya masih sibuk mengurus keperluan penguburan. Setelah mamak pergi, bapak saya dibawa kakak ke Belanda dan saya banyak nginap di kantor NGO lokal tempat saya bekerja.

Mungkin memang sudah jalanNya, kami bertemu lagi ketika saya mengunjungi Kajang, sebuah suku yang memiliki keunikan karena memakai pakaian hitam serta menolak modernitas seperti listrik dan kendaraan. Ketika itu saya ingin liburan ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Pilihannya waktu itu ke Malang atau ke Kajang. Karena uang pas-pas an akhirnya saya memilih ke Kajang. Kebetulan saya pernah ingat dia mengatakan pindah kerja dan mengajar baca tulis di Kajang. Dan berangkatlah saya, dia dan seorang kawan ke sana bersama-sama.

Rupanya dari Kajang inilah kami saling menemukan dan berjodoh. Saya yang baru dua bulan putus dari pacar dan dia yang baru 3 bulan juga putus dari kekasihnya rupanya tak memerlukan waktu lama untuk jatuh cinta lagi satu sama lain. Bisa jadi karena kami sudah lama saling kenal dan tahu karakter masing-masing sehingga bisa cepat klop. Kami saling mencela satu sama lain karena tak cukup masa berkabung saat putus dari pacar masing-masing. Padahal ketika itu saya sedang tak ingin berpacaran lagi dan dia juga menyibukkan diri di hutan terpencil karena ingin memulihkan hati. Ternyata kami dipertemukan dan dipersatukan setelah berkawan selama 3 tahun didunia maya.

Dari Kajang itulah saya baru hapal nama asli cowok ini, Imran Sentosa. Terkadang saya masih memanggilnya dengan Karaeng. Aliah sempat protes karena saya memacari teman curhatnya. Dia gak mau saya membaca curhatannya padahal tanpa baca pun saya sudah bisa tahu apa yang dia ceritakan, paling juga tak jauh-jauh soal pacarnya. Saya sendiri tak pernah menentukan dengan siapa saja Imran harus berkawan dan bercerita. 3 tahun berkawan dan membaca cerita-ceritanya membuat saya percaya dan yakin dengannya.

Saya masih ingat, ketika awal pacaran dengan dia, saya dibonceng motor berkeliling kota sambil ditunjukkan rumah kecengannya waktu SMA. Bukannya beromantis ria malahan cerita cem-cem an dia jaman dahulu. Mana lagi biasanya saat baru pacaran maunya wangi terus dihadapan kekasih, eh dia malah belum mandi 2 hari ketika saya datang ke rumahnya. Belum lagi baju kaos sobek-sobek kesayangannya yang selalu dipakainya saat bersama saya. Teman-temannya pun waktu itu tak ada yang percaya dia punya pacar baru. Bahkan ketika dia melamar saya dengan berbicara langsung ke bapak yang baru pulang dari Belanda, dia misuh-misuh ngomel ke saya karena ternyata bapak saya ngaku gak tahu kalau dia teman dekat saya. Hahaha. Rupanya saking banyaknya teman laki-laki saya jadi bapak susah membedakan mana yang pacar saya dan mana yang hanya teman.

Tak cukup setahun pacaran kami lalu menikah. Awalnya kami kira akan menemui banyak tantangan, rupanya kami dimudahkan sehingga tak perlu waktu lama untuk bersama. Karena saya menikahi sahabat sendiri, tak ada yang dia tak ketahui. Semua sudah dia ketahui jauh sebelumnya, sejak kami bertukar cerita via sosmed, blog dan email. Selain itu kami memang dari awal terbiasa menceritakan apa saja karena kami sudah merasa nyaman satu sama lain. Dia juga selalu mendukung apapun yang saya lakukan. Sampai sekarang dia selalu menyuruh saya melanjutkan pendidikan lagi meraih gelar PhD padahal saya masih belum cukup percaya diri.

FB_IMG_1434727907678

Si pak guru, om kumis, om Im-Im, Bambang, Karaeng dan Imran ini sudah bertambah lagi identitasnya menjadi “bapak” sejak 4 tahun lalu. Saya dan Arung, anak kami, beruntung memiliki seorang suami dan ayah yang perhatian, baik hati, penyayang dan sangat bisa diandalkan. Tak terasa hampir 7 tahun sudah kami menikah dan semoga selalu diberikan umur panjang serta berkat berlimpah hingga terus bersama sampai maut memisahkan. Ketika pernah ada kawan yang menanyakan resep bahagia keluarga kami, sembari tertawa saya berkata: “nikahilah sahabatmu…!”.

#NulisRandom2015 #Day19 #NulisRandom2015Day19

Advertisements

Responses

  1. So sweet…
    bahagia membaca cerita yang penuh kebahagiaan ini.
    semoga langgeng selamanya.

    Salam untuk om Kumis dan Arung

  2. Semoga rumah tangganya selalu dipenuhi keberkahan. Langgeng terus. Aamiin

  3. Adakah dia pernah cerita tentang cebok pake daun…??
    Jika tak, maka tak semua hal diceritakannya….
    Whuahahahaaaa….

    #kabuuuur deh….

    • Deh…sudah mi om…sama yg naik bus dia boker…jammi…klo odo2nya sj semua na ceritakan dgn bangga apalagi soal boker-bokeran hahaha

  4. Ummmmm… Bahagianya….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: