Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Toleransi

Di Indonesia sangat mudah menebak peristiwa dan isu apa yang sedang terjadi. Biasanya tergantung bulan atau musimnya. Ini terjadi hampir di dua dunia, dunia maya dan dunia nyata.

Pada musim pilpres, umumnya hampir sama tema yang diangkat sebagai bahan perdebatan, kalau bukan seputar kadar keimanan capres dan keluarganya palingan juga seputar masalah pencitraan serta isu dalang si capres. Masuk Natal mulai lagi dengan isu haram-halal mengucapkan selamat hari raya kepada umat Kristiani. Dan sekarang saat memasuki bulan Ramadhan, seperti tahun-tahun sebelumnya kembali lagi perdebatan soal menghormati yang puasa atau menghormati yang tak puasa.

Saya teringat ketika masih kanak-kanak dahulu, meskipun keluarga saya non-Muslim namun kami bertetangga dan hidup rukun bersama mereka yang Muslim. Ketika memasuki bulan puasa, saya sering ikut bersama kawan-kawan menemani mereka taraweh. Ketika mereka sholat di rumahnya pun saya kadang ikut menirukan dibelakang mereka dengan mengenakan sarung yang diikat dileher lalu dibalik sehingga menyerupai mukena. Bahkan saya sering ikut dibangunkan untuk sahur dan setelah itu kami berjalan pagi keliling perumahan bersama-sama.

Ketika hari raya tiba, baik itu Natal ataupun Lebaran, kami sengaja tak ingin ikut orangtua mengunjungi tetangga yang merayakan. Para anak-anak juga bergabung sendiri dan berziarah ke rumah-rumah menikmati minuman bersoda atau sirup dan kue-kue. Waktu kami kecil dulu belum ada tradisi memberikan uang kepada anak-anak sehingga kami betul-betul datang berkunjung dan mencoba semua kue kering yang disajikan. Kami juga membuat daftar untuk kunjungan tahun depan, rumah mana yang menyajikan minuman bersoda atau es krim dengan kue yang paling enak. Rumah yang berada pada daftar paling atas adalah tujuan pertama kami tahun depan. Ketika itu memang hanya sedikit yang bisa menyajikan minuman bersoda. Kami senang sekali bila mendapat minuman yang membuat bibir dan lidah kami berwarna merah.

Selain saling mengunjungi, kami dan tetangga juga saling menghantarkan makanan. Biasanya malam sebelum Natal atau saat malam takbiran kami bertukar hasil masakan. Bahkan, karena di perumahan kami hanya beberapa yang beragama non-Muslim, ketika hari Idul Fitri tiba bisa dipastikan rumah kami kebanjiran hantaran. Bahkan om saya sudah jauh-jauh hari datang ke rumah karena tahu di rumah pasti ada hidangan Lebaran dari tetangga. Mungkin bila dihitung-hitung, waktu itu bisa jadi rumah kami lebih banyak makanannya daripada yang beragama Islam. Keluarga kami biasanya memberikan kue-kue kepada tetangga dan minuman sebagai balasan hantaran mereka. Saat Natal tiba pun orangtua saya hampir pasti selalu sibuk menerima tetangga dan teman yang bertamu. Itu juga bisa berhari-hari lamanya tamu masih berdatangan. Sama halnya ketika Idul Fitri, bisa lebih dari seminggu baru kelar kunjungan silahturahmi dengan para tetangga dan kerabat.

Sekarang ini, kurang lebih lima belas tahun terakhir ini sangat jauh berbeda situasinya. Kami pindah di perumahan ini ketika saya duduk dikelas 6 SD. Sedikit berada di kota, tidak seperti perumahan kantor dahulu yang berada di perbatasan. Rumah kami sekarang sudah jarang dikunjungi ketika Natal dan begitu pula saat Lebaran kami paling hanya mengunjungi keluarga dan teman dekat yang merayakan. Rumah saya sendiri merayakan tiga hari raya keagamaan, Idul Fitri, Natal dan Galungan karena keluarga kami memeluk tiga agama yang berbeda, Islam-Katholik-Hindu.

Syukurnya, meskipun intensitas dan jumlah kunjungan yang jauh berkurang, hubungan kami dengan tetangga dekat sangat baik. Kami juga sering saling mengantarkan hidangan hari raya atau saat ada acara khusus. Bahkan tetangga depan rumah saking perhatiannya kepada kami sejak hari pertama puasa hingga terakhir selalu rutin memberikan cemilan pembuka. Ini sudah berlangsung jauh sebelum saya menikah dengan suami yang Muslim. Apa saja yang mereka makan pasti dibagikan kepada kami. Saya jadinya sering merindukan masa-masa kecil ketika pintu-pintu rumah terbuka lebar menerima tamu yang tak henti berdatangan.

Kembali kemasa puasa ini, saya sendiri tak ingin berdebat soal hormat menghormati yang puasa atau yang tak puasa. Bagi saya toleransi adalah kepekaan kita melihat dan merasakan mana yang pantas dan tak pantas. Dahulu pun rumah makan ada yang buka tetapi aktifitasnya tertutup dan yang tak berpuasa bisa mengisi perutnya meskipun dilakukan secara tidak terbuka. Banyak juga kan yang karena kesehatan atau lagi dapat haid sehingga tak bisa berpuasa. Tetapi umumnya yang makan pun tak lantas seenaknya mengunyah dihadapan mereka yang sedang berpuasa. Semua saling menjaga dan bertoleransi. Pun ketika ada yang makan dihadapan yang berpuasa maka biasanya meminta ijin terlebih dahulu dan yang berpuasa juga mempersilahkan karena baginya godaan makanan dan minuman hanyalah bagian kecil dari tantangan berpuasa. Pahala yang dihitung berdasar kebaikan yang dilakukan dan seberapa banyak ibadah serta amalan yang dikerjakan.

Merasakan sendiri hidup bersama dengan tiga agama dalam keluarga membuat saya tak pernah berhenti belajar untuk berempati dan bertoleransi. Seorang pernah mengatakan bahwa agama adalah alat anti agama (lain) yang paling sengit. Padahal jika kita saling bergandengan dan saling menghargai tentunya keberagaman akan membuat kita menjadi lebih kuat dan hidup berdampingan dengan harmonis.

Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan penuh berkat, bulan Ramadhan, untuk suamiku, kawan, keluarga dan seluruh sahabat Muslim dimanapun berada. Semoga hati dan perilaku kita terjaga dan amalan bertambah senantiasa. Amin

#NulisRandom2015 #Day18 #NulisRandom2015Day18

Advertisements

Responses

  1. iihhhh…mantap…!!
    Tulisannya membawa kembali kepada kenangan masa kecil…

    Thanks mamak’na Arung

    • Pasti dirimu juga pemburu minuman bersoda waktu kecil toh om hehe

  2. Banana yang menarik, bikin Rindu masa kecil,, hampir mirip cerita kita Ann, karena Mama ku asli tiong hoa, saya punya sepupu2 yg non Muslim yang juga sekolah mereka libur saat hari raya idul fitri,, so mereka akan menghabiskan m@sa liburan dirumah ku Dan saat hari raya tiba ikut bersamaku Dan Teman2 sekitar rumah berziarah di rumah2 tetangga. Tak jarang mereka juga minta dibelikan baju baru sama ortu mereka.
    Saya sudah diperkenalkan toleransi sejak kecil hehehe

  3. Setuju dek, saya juga jadi heran kok sekarang banyak sekali yang hobi ngutakatik hal=hal yang sebenarnya berjalan baik, aman tntram kerta raharja ji dari dulu, curiga ka masa kecilnya tidak bahagia dan tidak rasakan bertamu ke rumah tetangga beda agama 😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: