Posted by: nyomnyom | July 2, 2015

Bergidik

Ada tiga hal yang membuat saya otomatis bergidik. Pertama adalah kumpulan semut. Bulu kuduk saya langsung berdiri dan sekujur kulit seperti membentuk bentolan kecil. Seingat saya ketika masih kecil, kira-kira usia TK, saya pernah terpaku ketakutan karena berdiri persis diatas sarang semut merah dan kaki saya dikerubuti oleh sepasukan tentaranya. Saya menangis kesakitan dan beberapa saat kemudian sibuk menggaruk gigitan semutnya. Sejak saat itu, setiap saya melihat semut berbaris atau bergerombol, saya seketika langsung bergidik atau merinding.

Hal yang kedua adalah setiap mendengar bunyi ambulance. Sudah beberapa tahun ini setiap kali saya mendengar bunyi sirine ambulance, bulu-bulu tangan langsung berdiri dan membuat perasaan bergidik. Ini dikarenakan ketika mamak saya meninggal dunia tahun 2006 lalu, saat akan dibawa ke kampung halamannya di Toraja, jenazah mamak dibawa ke sana dengan menggunakan ambulance. Perjalanan kurang lebih 7 jam dari Makassar ke Toraja dengan peti jenazah mamak didalamnya dan dengan sirene yang menggaung-gaung membuat saya menjadi traumatik dengan suara ambulance. Bayangkanlah berapa kali saya bergidik ketika tinggal di Toraja ini untuk bekerja karena hampir setiap hari beberapa ambulance lalu lalang membawa kiriman jenazah orang Toraja yang tinggal diperantauan.

Yang terakhir yang membuat saya merinding adalah ketika melewati rumah sakit Stella Maris di Makassar. Sewaktu mamak saya dirawat di sana hingga menghembuskan nafas terakhirnya, beliau senantiasa bersama saya. Sampai sekarang, setelah kurang lebih 9 tahun berlalu sejak meninggalnya, masih jelas terbayang dibenak saya suasana kamar mamak, saat-saat beliau anfal, dipindahkan ke ICU hingga saya menangis sambil mendoakan keikhlasan ditelinganya beberapa jam sebelum berpulang. Dan yang paling tak bisa saya lupakan adalah ketika nafas mamak berhenti untuk selamanya dihadapan saya. Hingga beliau dimakamkan, airmata saya jarang sekali bercucuran. Saya sibuk mengurus keperluan untuk pemakaman dan administrasi rumah sakit. Ketika dibawa ke Toraja hingga dimakamkan di pekuburan keluarga pun, airmata hanya menetes perlahan. Barulah ketika pulang ke rumah, saat kerabat kembali dan meninggalkan kami, saya merasakan sakit yang luar biasa pedihnya. Sejak itu pun, tiap kali melewati RS Stella Maris, otomatis perasaan menggidik langsung menjalari seluruh tubuh.

Terkadang teman atau kerabat yang melihat saya tiba-tiba bergidik menjadi terheran-heran. Setelah saya jelaskan penyebabnya barulah mereka paham. Semoga tidak bertambah lagi karena sulit juga mengembalikan dengan cepat bulu tangan yang berdiri dan bentolan kecil karenanya.

#NulisRandom2015 #Day28 #NulisRandom2015Day28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: