Posted by: nyomnyom | August 10, 2015

Kita Akan Baik-Baik Saja

Arung di acara kawinan

Arung di acara kawinan

Setiap orangtua ingin memberikan yang paling spesial untuk anak-anaknya. Begitupun saya. Tidak pernah terbersit dalam benak saya menjadi orangtua dengan anak autistik. Saya rasa siapapun tak pernah bermimpi anaknya akan didiagnosa menjadi “berbeda” dari anak-anak lainnya.

Namun hidup seringkali memberikan kejutan-kejutan yang bisa memporak porandakan beberapa mimpi dan harapan-harapan. Bayangkan, kasus yang terjadi adalah sekitar 1 dari 100 anak. Ibaratnya seperti mendapat undian lotere berhadiah. Dari beberapa orangtua yang ada, kami terpilih mendapat kesempatan merawat dan membesarkan anak istimewa ini. Sebuah kepercayaan yang besar diberikan untuk kami laksanakan.

Ketika kenyataan tak seperti yang diinginkan, ketika itulah kekuatan kita diuji. Mendapat anugrah ini membuat saya dan suami menjadi kian dekat dan lebih banyak belajar serta lebih saling mencintai agar kami bisa merawat dan memberikan yang terbaik untuk titipan Tuhan kepada kami ini. Tak terbilang berapa kali kami harus jatuh bangun mencari tahu apa yang terjadi pada anak kami tercinta dan cara menanganinya. Belum lagi pencapaiannya yang maju-mundur seperti beberapa hari ini yang kembali sensitif dan sering tantrum.

Anak dengan gangguan spektrum autisme sendiri memiliki ciri-ciri yang berbeda satu sama lain. Bermacam-macam diagnosa pun ada mulai dari PDD Nos, Asperger dan sebagainya. Bahkan tingkat kemandiriannya pun ada kategorinya mulai dari low function hingga high function. Dari segi gangguannya ada yang digolongkan mild hingga severe autism. Kami sendiri berusaha tak terpaku pada label atau diagnosanya. Sebisanya kami mencari tahu caranya agar anak kami bisa beradaptasi dan mandiri.

Pengaturan makanan (diet CFGF) dan terapi adalah hal yang akrab bagi kami. Dahulu, mungkin mana pernah saya atau suami bahkan keluarga kami paham tentang hal ini, autisme dan segala hal mengenai anak berkebutuhan khusus. Sekarang pun saya menjadi lebih peka dan perhatian terhadap keluarga-keluarga yang diberikan karunia anak istimewa ini. Saya sendiri merasakan bagaimana orang lain yang tak paham dengan situasi kami seringkali melihat kami dengan pandangan ‘aneh’ dan bahkan ‘kasian serta heran’ saat anak kami tantrum di tempat umum atau melakukan gerakan-gerakan yang berulang-ulang yang tak lazim.

Hal terberat bagi saya bukanlah pada saat orang-orang memberikan iba ataupun cemoohnya. Bukan pula saat kami harus bekerja jauh lebih keras dan terkadang harus berpisah demi memberikan pendidikan dan terapi yang cocok buat anak yang tentunya harganya tak murah. Bukan juga saat kami harus menenangkan anak ketika dia mulai tantrum dengan tenaganya yang sangat kuat.

Hal terberat adalah ketika menyaksikannya bertumbuh kian besar dan saya masih merasa kurang merawatnya dan juga apakah kelak masa depannya bisa terjamin dengan baik di negeri ini jika kami tak ada lagi. Seperti halnya manusia biasa lainnya, ada kalanya saya merasa drop dan bingung bagaimana kelak kami membesarkannya. Dengan segala keterbatasan, kami mencoba apa yang kami tahu dan miliki untuk membuat anak kami setidaknya bisa mandiri. Tak jarang kebingungan yang dialami seperti saat ini dimana kami tak tahu mengapa dia tiba-tiba kembali sering tak fokus dan manja.

Mungkin beberapa rencana kami sedikit tidak berjalan seperti yang diinginkan ketika pertama kali dia lahir. Kami harus menunda melihatnya seperti anak-anak lain bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, mendengarkan nyanyian atau celotehan yang kadang orangtua lain sering menggerutu karenanya. Mungkin kami harus cepat-cepat pulang dari suatu acara ketika kondisi anak tak lagi kondusif. Terkadang kami harus berkejaran dengannya yang langsung lari ke rumah tetangga dan meminta maaf kepada mereka yang masih terbengong-bengong melihat kelakuan anak kami.

Banyak hal yang harus disimpan untuk sementara waktu sembari membantu anak kami menjalani kesehariannya. Akan tetapi satu hal yang tak pernah kami lepas adalah keyakinan bahwa tak ada yang mustahil bagi anak-anak Tuhan yang percaya kepadaNya. Usaha dan doa adalah pijakan kami. Dan saya yakin, seperti halnya orangtua-orangtua hebat dengan anak istimewa lainnya, senyum dan wajah tak berdosa anak-anak kami adalah penawar yang hebat untuk kegelisahan serta pemacu untuk terus memberikan yang terbaik buat mereka.

Saya tak sendirian berjuang. Dari berbagai group, komunitas dan mailing list mengenai autisme, kami saling berbagi dan saling belajar. Meskipun banyak yang tak pernah bertemu langsung, kami merasa dekat dan saling mendukung. Tak ada penilaian mengenai baik buruknya cara kami mengasuh anak. Kami smua paham bahwa menjadi orangtua biasa saja sudah cukup sulit apalagi menjadi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus.

Saya bersyukur mendapat keistimewaan melahirkan dan merawat Arung Panrita, anak kami tercinta. Tak ada hal lain yang paling saya inginkan selain melihat senyuman dan mendapat pelukan serta ciuman hangat darinya. Itu sudah cukup menghalau kegalauan dan kegelisahan saya. Seperti malam ini, ketika saya sendirian dengan jarak beratus-ratus kilo darinya. Saya menatap fotonya yang baru saja dikirimkan oleh bapaknya yang memberitahukan kalau hari ini Arung berhasil meniup peluitnya.* Seketika senyum mengembang dibibir saya dan tak tarasa airmata mengalir dipipi. Harapan baru tumbuh lagi dalam hati. Seperti mendengar Arung berbisik ketelinga saya, “jangan khawatir, kita akan baik-baik saja, mak..

(*) : salah satu terapi untuk anak autis non verbal adalah belajar meniup untuk melatih otot mulutnya. Sebelumnya Arung belum pernah bisa meniup. Bisa meniup peluitnya adalah sebuah pencapaian yang besar baginya.

Advertisements

Responses

  1. Tetap semangat, kak. Selalu yakin, Arung akan baik-baik saja. Saya sangat yakin kak Nyom2 dan kak Imran adalah orang tua yang hebat, orang-orang terpilih. Peluuuk…

    • makasih Inart…peluk juga dari Arung

  2. salute to you ….Arung you are lucky my dear cause you have a great parent ….

  3. baru membaca paragraf pertama, aku langsung ingat mbak ivy, teman di bali yang menulis panjang soal anaknya yg autis. pas ngedit tulisan, aku sampe nangis-nangis terharu.

    http://balebengong.net/kabar-anyar/2011/08/15/anak-saya-autis-tapi-dia-anugerah.html

    baca ceritamu ini sampai akhir, terasa sekali betapa hebatnya orang tua spt kalian berdua yg sabar dan telaten mengasuh anak “berbeda”.

    kami harus belajar dari kalian. takzim..

    • wah..makasih dah kasi linknya…
      segera ke sana..

  4. Anna…you are such an inapiring woman.. a tough woman. Keep the spirit. Doa kami buat keluarga kecilmu selalu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: