Posted by: nyomnyom | June 25, 2015

Belajar

Hari ini saya belajar. Belajar untuk menerima ada banyak hal dalam hidup tak berjalan sebagaimana rencana atau layaknya yang dialami orang sekitar. Saya belajar untuk menekan ego dan membiarkan bukan lagi keinginan yang terpenuhi tetapi kebutuhan yang lebih utama. Acapkali saya sering lupa untuk menyukuri berkat dan rejeki yang diberikan hanya karena merasa Tuhan sedang menguji dengan berbagai cobaan. Hal-hal besar dihitung sementara hal-hal kecil luput dari perhatian.

Hari ini saya belajar. Belajar untuk bersabar dan menerima bahwa saya mesti lebih kuat dan tangguh. Anak saya membutuhkan seorang ibu yang cerdas, tidak cengeng, panjang sabar dan yang pasti gigih menemaninya hingga mandiri kelak. Menjadi orangtua dari penyandang autisme harus banyak belajar, membaca, berbagi dan rajin bertanya. Sejak awal kami memang terbuka kepada siapa saja agar kami juga bisa mendapat informasi yang tepat dan memberikan yang terbaik untuk anak.

Belajar untuk tidak bersedih ketika anak-anak lain sudah mampu berdebat dengan orangtuanya sementara Arung baru mengenal satu dua patah kata. Mengganti prioritas dan bekerja lebih keras. Membaca lebih banyak info-info terkini dan mengikuti berbagai milis untuk belajar dari para orangtua hebat lainnya yang tetap semangat membimbing anak spesialnya. Mengganti bahan makanan dan menyediakan diet CFGF serta menahan diri dari godaan sale-sale di pertokoan.

Tak mudah memang. Kadang saya masih kalah, menjadi lemah dan merasa bersalah. Merasa ketakutan tak mampu menemani Arung hingga dia dewasa. Merasa sedih bila dia tak mampu menjelaskan apa yang dia inginkan. Tetapi hari ini saya belajar. Bahwa kebahagian tidak dinilai dari seberapa hebat prestasi yang diraih, seberapa banyak kekayaan yang dimiliki serta seberapa sukses karir yang dijalani. Saya belajar, kebahagiaan adalah hal kecil ketika anak berhasil membuka sepatunya dan kaos kakinya serta menyimpannya di rak sepatu sebagaimana halnya dia berhasil memanggil Opanya.

#NulisRandom2015 #Day22 #NulisRandom2015Day22

Advertisements
Posted by: nyomnyom | June 21, 2015

Zu…zu..zu..Zumba

Sudah lama saya merasakan gampang capek dan seperti kehabisan nafas ketika mempresentasikan sesuatu. Badan pun mulai tak nyaman seperti susah untuk bergerak. Saya sendiri adalah tipe orang yang tak begitu menyoalkan gemuk-kurus badan. Selama masih sehat berat badan bertambah juga tak mengapa. Namun kali ini rupanya peringatan dini sudah diberikan oleh jasmani lewat teguran-teguran kecil seperti sesak dan kepala rasanya berputar.

Ketika tahu di Toraja ada kelas Yoga dan Zumba disalah satu hotel tempat kantor saya biasanya mengadakan kegiatan, dengan segera saya mendaftarkan diri. Setelah beberapa kali penundaan, akhirnya sore tadi berhasil juga saya mengikuti kelas Zumba yang dipandu oleh mas Edo, instruktur dari Jakarta yang baru tiba kemarin di Toraja.

Sebelumnya ada kelas Yoga yang peminatnya juga sangat banyak. Saya sendiri bersama.dua orang kawan memilih Zumba yang dimulai pukul 5 sore. Setelah registrasi kami lalu berganti pakaian dan bersiap. Berbeda dengan yoga yang tenang, zumba membutuhkan musik yang energik sebagai pengiring gerakan yang dilakukan.

Menurut info dari laman wikipedia, Zumba diciptakan oleh seorang penari asal Kolombia yang juga koreografer bernama Alberto ‘Beto’ Perez sekitar tahun 1990an. Zumba memadukan unsur tarian dan aerobik yang mana terdapat gerakan-gerakan hip-hop, calypso, salsa, samba, merengue dan mambo. Sangat riang dan seperti berdansa tetapi mengeluarkan banyak keringat. Selama satu jam yang dimulai dengan pemanasan, kami mengikuti gerakan instrukturnya yang selalu tersenyum dan sangat lentur. Karena baru pertama kali lagi berolahraga saya cukup ngos-ngosan. Dahulu ketika kuliah saya dan Aliah, kawan saya, pernah ikut les dansa dimana waltz, chacha dan foxtrot kami pelajari. Beberapa langkah dasarnya ada pula di Zumba sehingga cukup mudah saya ikuti.

Jadwal sementara seminggu tiga kali, setiap Selasa, Jumat dan Sabtu. Sepertinya saya hanya akan bisa mengikuti saat weekend saja karena hari lainnya masih kerja. Semoga kali ini bisa tetap konsisten olahraga agar lebih bugar lagi dan syukur-syukur dapat bonus turun berat badan.

IMG_20150621_201033

#NulisRandom2015 #Day21 #NulisRandom2015Day21

Posted by: nyomnyom | June 21, 2015

Belajar dari Film

Audrey Hepburn mengatakan, “everything I learned, I learned from the movies”. Sebagai seorang penggemar dan pencinta film, benar juga kata si mbak Audrey ini. Banyak hal yang saya dapatkan dari kesukaan menonton film. Sejak masih remaja saya memang tergila-gila dengan film-film yang diputar di TVRI meskipun terkadang saya harus tidur larut malam demi menuntaskan sebuah cerita yang ditayangkan. Waktu itu memang belum ada televisi swasta apalagi TV kabel. Video yang disewakan pun masih berbentuk kaset tebal dan baru satu dua keluarga yang memiliki pemutar videonya. Terkadang saya dan teman-teman mesti ke rumah tetangga yang baru saja menyewa sebuah film meskipun jaraknya cukup jauh.

Tak ada batasan genre film yang menjadi kesukaan saya. Terkadang saya pulang ke rumah dengan imajinasi menjadi seorang pendekar lengkap dengan pedangnya hanya karena habis nonton film silat mandarin. Pernah juga lebih seminggu saya tak berani ke WC sendian karena habis menuntaskan film horornya Suzanna. Sekali waktu juga saya ingin memotong rambut pendek ala Demi Moore yang sedang ngetop dengan film Ghost-nya.

Selain terbawa suasana, gara-gara film juga saya jadi tertarik belajar bahasa Inggris. Boleh dibilang pula tempat awal saya belajar cas cis cus dalam bahasa Inggris adalah lewat film-film yang diputar di televisi ataupun dari video tape sewaan. Ketika saya remaja, kursus bahasa Inggris sulit dijangkau apalagi saya tinggal di perbatasan kota waktu itu. Kursus bahasa asing hanya ada di kota dan itupun masih sangat terbatas. Film adalah tempat kursus saya dan membuat belajar bahasa jadi menyenangkan sebab saya juga bisa menikmati berbagai cerita. Saya tinggal mencocokkan kata-kata pemainnya dengan subtitle bahasa Indonesia yang ditampilkan dibagian bawah. Untungnya Indonesia bukan Spanyol yang mewajibkan semua film harus didubbing. Di Indonesia umumnya yang didubbing adalah bahasa asing lainnya seperti bahasa spanyol atau jepang.

Seiring waktu, kesukaan saya pada film bukannya berkurang malah kian menjadi-jadi. Jika tak sedang membaca buku biasanya saya menonton film. Saya masih ingat film pertama yang saya tonton di bioskop di Makassar ketika masih SMP adalah film Indonesia yang disadur dari sandiwara radio yang berjudul ‘Ibuku Malang Ibuku Sayang’. Kebetulan kakak kelas saya yang super kece waktu itu ketemu juga di bioskop yang sama, makanya saya ingat betul. Hehee. Ketika itu bioskop di Makassar masih banyak. Ada bioskop 21, Makassar, Arini dan beberapa lagi yang saya lupa. Abang saya juga pernah terpaksa bela-belain ngantar saya ke bioskop yang jauh dari rumah karena saya tak ingin ketinggalan nonton film ‘The Bodyguard’ yang dibintangi oleh Kevin Costner.

Saya sendiri bila ditanya film apa yang menjadi favorit saya pasti akan sulit menjawabnya. Ada beberapa film yang membuat saya menangis haru, ada yang membuat saya berpikir keras, ada yang membuat saya marah dan sebagainya. Namun memang ada film-film yang tak pernah bosan saya putar ulang bahkan saya menghapal kalimat yang diucapkan oleh aktor dan aktrisnya.

Film-film karya sutradara Richard Linklater adalah beberapa yang sering saya putar ulang. Trilogy Before, School of Rock, Fast Food Nation dan Boyhood adalah film arahan beliau yang sungguh cerdas dan inspiratif. Pertama kali saya menonton Before Sunrise, saya menyewanya dari sebuah toko video dekat cafe baca tempat saya sering nongkrong sepulang kerja sebagai sekertaris disalah satu rumah sakit di Makassar. Terus terang saya mengambilnya dari rak karena sepertinya ini film romantis picisan. Waktu itu saya begitu lelah dan hanya ingin nonton film yang ringan dan tak rugi bila tertidur.

Rupanya saya salah besar. Film yang dibuat tahun 1995 ini dan diperankan dengan sangat baik dan ciamik oleh Ethan Hawke dan Julie Delpy membuat mata saya melek dan kantuk jadi hilang. Saya sangat menyukai dialog-dialog tokoh Jesse dan Celine ini baik sejak mereka mulai bertemu diatas kereta dari Budapest hingga ketika Jesse berhasil membujuk Celine untuk turun di Vienna dan menemaninya menghabiskan waktu hingga waktu penerbangannya tiba esok paginya. Bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan menonton scene demi scene hampir hanya berisi dialog dua orang saja. Tetapi jika benar-benar dicerna, pembicaraan mereka berdua selama kurang lebih 101 menit penuh dengan berbagai tema, cinta, kehidupan, agama, orangtua, keluarga hingga kehidupan sehari-hari. Film ini selalu saya rekomendasikan keteman-teman.

Sosok Celine dalam Before Sunrise adalah seorang perempuan muda dari Perancis dan Jesse si pemuda Amerika yang baru pulang mengunjungi kekasihnya di Eropa. Mereka bertemu diatas kereta dan memutuskan berjalan kaki menyusuri Vienna dari sore hingga esok paginya sebelum mereka kembali berpisah diperon kereta. Tahun 2004, Linklater kembali merilis sequelnya berjudul Before Sunset yang menceritakan pertemuan kembali Jesse dan Celine di Paris ketika Jesse diundang untuk mempromosikan novelnya berdasarkan kisah percakapan mereka sebelum matahari terbenam sembilan tahun yang lalu. Tuhan, hubungan percintaan, pilihan hidup, politik dan kehidupan sosial adalah beberapa topik yang dibahas oleh Jesse dan Celine kali ini.

Celine yang berumur 32 tahun mengajak Jesse berkeliling Paris sebelum pesawat yang akan membawa Jesse kembali ke Amerika mengudara. Masih dengan pemain yang sama, Linklater membawa penonton menikmati keindahan Paris sembari mendengarkan argumen-argumen dua tokohnya yang semakin dewasa. Linklater memang terkenal sebagai sutradara yang setia dengan pemainnya. Ethan Hawke sendiri bermain di Trilogy Before, Boyhood dan beberapa film besutan Linklater. Jack Black juga sering membintangi film-film Linklater seperti School of Rock dan Bernie. Before Midnight adalah kelanjutan dari sequel sebelumnya dan dibuat pada tahun 2013.

Richard Linklater selain sering memakai film yang sama, juga membuat film dalam jangka waktu pengambilan gambar yang lama. Dengan pemain-pemain yang sama, Linklater membuat project film berjudul Boyhood yang syutingnya selama lebih dari 12 tahun. Film yang juga dimainkan oleh anaknya sendiri ini mengisahkan hubungan seorang anak laki-laki dengan ibu dan ayahnya yang telah bercerai. Film ini berdurasi 2 jam 46 menit dan dirilis pada tahun 2014. Bagi non-Linklater fans, film ini seperti halnya Trilogy Before mungkin akan terasa membosankan. Detail pada objek dan dialog pemain adalah kekuatan Linklater menurut penggemar karya-karyanya termasuk saya. Pada scene Mason meninggalkan rumah ibunya adalah puncak dari drama keluarga ini. Saya sendiri seakan terhanyut dan merasakan emosi si ibu merawat si anak dari kecil hingga akhirnya mandiri. Mungkin inilah mengapa disebut ’empty nest’. Ketika akhirnya film berakhir saya seperti masih ingin tahu apa yang terjadi pada Mason, Samantha dan ibu serta ayahnya. Teman saya mengatakan dia tertidur ketika nonton. Bagi saya 2 jam 46 menit masih kurang.

Selain Richard Linklater, saya juga menyukai film-film dari Quentin Tarantino yang terkenal satir dan berdarah-darah. Tarantino sama halnya dengan Linklater seringkali memakai aktor dan aktris yang sama diberbagai filmnya, salah satunya Uma Thurman yang bahkan diakui oleh Tarantino sebagai ‘muse’ nya dalam membuat film. Uma Thurman bermain bagus di Pulp Fiction dan Kill Bill Volume 1 dan 2. Film-film Tarantino lainnya yang juga bagus meski sedikit sadis disana sini adalah Django Unchained, Reservoir Dogs, dan Inglourious Basterds.

Sebenarnya masih banyak lagi film-film yang saya mendapat banyak pembelajaran dari dialog-dialognya yang reflektif dan inspiratif. Terkadang saya seperti mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dikepala ketika saya mencoba memahami sesuatu. Film membuat saya berpikir sekaligus memberikan saya pemahaman yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Terkadang saya membayangkan seandainya kehidupan nyata seperti film. Ketika pertama kali menjalani masih menebak-nebak apa yang akan terjadi. Dan ketika berakhir, masih bisa diputar ulang atau dibuatkan lanjutannya. Ya, seandainya…

Sumber : pinterest.com

Sumber : pinterest.com

#NulisRandom2015 #Day20 #NulisRandom2015Day20

Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Tentang Dia

IMG_20150502_204039

Perkenalkan. Cowok keren di atas yang lagi nyamar jadi bajak laut saat lukis wajah disalah satu acara di Makasar ini sebenarnya punya banyak nama panggilan. Ada yang manggil dengan sebutan “pak guru” karena profesinya yang seorang guru, ada yang nyebut dia dengan “om kumis” karena kumisnya yang ala-ala pak Raden di serial si Unyil, ada sepupu yang namain dia “om Im-Im” dari singkatan namanya, pula ada yang manggil dia “Bambang” dari panggilan masa kecilnya.

Pertama kali kenal cowok kumis yang super pede ini ketika Friendster (semacam Facebook, jaringan pertemanan online. Ini info buat yang belum lahir atau gak tahu apa itu Friendster hehe) lagi jaya-jayanya. Sepertinya ketika itu dia yang ngajak kenalan duluan karena membaca postingan 5 list lagu-lagu kesukaan pada wall saya. Rupanya kami menyukai lagu yang sama dari sebuah band yang tidak terlalu heboh dikalangan anak muda pada saat itu. Langsung saja saya dikirimi pesan dan terjadi lah berbagi kisah kenapa kami menyukai lagu itu. Ternyata kami sama-sama menyukai lagu itu karena sama-sama suka menyanyikannya ketika patah hati. Saya baru putus dari pacar kuliah ketika itu dan dia ntah patah hati dari cem-cemannya yang keberapa. Lagu itu adalah lagu kebangsaan kami. Saat itu dia memakai nama “Karaeng” sebagai nama akunnya.

Cowok ini memang super pede tapi juga cerdas dan enak diajak berbagi cerita. Pengetahuannya yang luas tentang agama dan filsafat membuat saya yang waktu itu lagi tergila-gila mempelajari berbagai literatur kepercayaan-kepercayaan jadi seperti menemukan teman diskusi yang asik. Terkadang kami saling mencela dan bertukar cerita mulai soal kerjaan, hobi hingga pacar masing-masing. Bahkan ketika saya memperkenalkan dia kepada teman saya Aliah, langsung juga mereka klop terutama karena dia seorang yang suka mendengarkan dan saya serta Aliah senang curhat. Hehehe.

Tetapi dari sejak mengenal cowok ini didunia maya, kami baru bertemu langsung selama 3 kali. Kali pertama ketika saya masih bekerja sebagai sekertaris disebuah asosiasi dokter asia. Waktu itu dia ingin mencari sebuah buku dan karena saya juga sering nongkrong di cafe baca seorang kawan lalu saya menganjurkan mencarinya di situ. Pertemuan yang singkat, mungkin cuma 30 menit dan itupun kebanyakan saya yang ngomong. Rupanya didunia maya dia cerewet tetapi didunia nyata jadinya pendiam. Atau bisa jadi karena saya memang yang terlalu semangat bercerita soal cafe baca itu.

Selain Friendster, kami biasanya saling mengunjungi blog masing-masing. Saya salah satu penggemar tulisan-tulisannya yang liar, jujur dan reflektif. Pernah dia traktir saya langganan domain blog selama setahun. Selain pede dan cerdas, dia juga baik hati. Kami juga berbagi kabar lewat email secara rutin. Dia sering cerita soal pacarnya dan saya juga cerita kekasih-kekasih saya sebelumnya. Dia memang teman yang menyenangkan. Saya dan Aliah sangat mengagumi kesetiaan dan perhatiannya kepada pacarnya yang kerap disinggungnya disela-sela postingan. Kata Aliah waktu itu, ” Karaeng kayaknya tipe cowok setia dan sangat sayang kepada pasangannya karena tak pernah ada cerita jelek atau keluhan”.

Pertemuan kedua kami secara langsung ketika saya meminta tolong dirinya membalaskan email kerjaan. Dia memang saya berikanan password email dan blog sejak lama karena entah mengapa saya sangat percaya dengannya. Waktu itu saya habis pulang dari Jogja dan terserang cacar air. Karena hape belum seperti sekarang yang bisa akses internet dan di rumah juga tak bisa online maka saya meminta dia untuk datang ke rumah. Kebetulan kantornya dan rumah saya cukup dekat. Dan datanglah dia ke rumah yang disambut saya dengan muka penuh bercak cacar. Saya menginstruksikan kata-kata yang harus ditulis pada email dan setelah itu dia kembali pulang ke kantornya.

Ketika dia memberikan produk perusahaan kantornya kebetulan saya tak ada jadi kalau tak salah dititipkan pada orang lain. Almarhum mamak pernah bertanya kepada saya, “mana itu temanmu yang pernah kasih mentega dan shampo”?. Lama memang kami tak bertemu, hanya sesekali berkomen pada blog dan mengirim email. Selang sebulan setelah dia membantu saya mengirim email tersebut, mamak saya meninggal dunia karena sakit. Rupanya dia juga hadir melayat tetapi kami tak bertemu karena saya masih sibuk mengurus keperluan penguburan. Setelah mamak pergi, bapak saya dibawa kakak ke Belanda dan saya banyak nginap di kantor NGO lokal tempat saya bekerja.

Mungkin memang sudah jalanNya, kami bertemu lagi ketika saya mengunjungi Kajang, sebuah suku yang memiliki keunikan karena memakai pakaian hitam serta menolak modernitas seperti listrik dan kendaraan. Ketika itu saya ingin liburan ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Pilihannya waktu itu ke Malang atau ke Kajang. Karena uang pas-pas an akhirnya saya memilih ke Kajang. Kebetulan saya pernah ingat dia mengatakan pindah kerja dan mengajar baca tulis di Kajang. Dan berangkatlah saya, dia dan seorang kawan ke sana bersama-sama.

Rupanya dari Kajang inilah kami saling menemukan dan berjodoh. Saya yang baru dua bulan putus dari pacar dan dia yang baru 3 bulan juga putus dari kekasihnya rupanya tak memerlukan waktu lama untuk jatuh cinta lagi satu sama lain. Bisa jadi karena kami sudah lama saling kenal dan tahu karakter masing-masing sehingga bisa cepat klop. Kami saling mencela satu sama lain karena tak cukup masa berkabung saat putus dari pacar masing-masing. Padahal ketika itu saya sedang tak ingin berpacaran lagi dan dia juga menyibukkan diri di hutan terpencil karena ingin memulihkan hati. Ternyata kami dipertemukan dan dipersatukan setelah berkawan selama 3 tahun didunia maya.

Dari Kajang itulah saya baru hapal nama asli cowok ini, Imran Sentosa. Terkadang saya masih memanggilnya dengan Karaeng. Aliah sempat protes karena saya memacari teman curhatnya. Dia gak mau saya membaca curhatannya padahal tanpa baca pun saya sudah bisa tahu apa yang dia ceritakan, paling juga tak jauh-jauh soal pacarnya. Saya sendiri tak pernah menentukan dengan siapa saja Imran harus berkawan dan bercerita. 3 tahun berkawan dan membaca cerita-ceritanya membuat saya percaya dan yakin dengannya.

Saya masih ingat, ketika awal pacaran dengan dia, saya dibonceng motor berkeliling kota sambil ditunjukkan rumah kecengannya waktu SMA. Bukannya beromantis ria malahan cerita cem-cem an dia jaman dahulu. Mana lagi biasanya saat baru pacaran maunya wangi terus dihadapan kekasih, eh dia malah belum mandi 2 hari ketika saya datang ke rumahnya. Belum lagi baju kaos sobek-sobek kesayangannya yang selalu dipakainya saat bersama saya. Teman-temannya pun waktu itu tak ada yang percaya dia punya pacar baru. Bahkan ketika dia melamar saya dengan berbicara langsung ke bapak yang baru pulang dari Belanda, dia misuh-misuh ngomel ke saya karena ternyata bapak saya ngaku gak tahu kalau dia teman dekat saya. Hahaha. Rupanya saking banyaknya teman laki-laki saya jadi bapak susah membedakan mana yang pacar saya dan mana yang hanya teman.

Tak cukup setahun pacaran kami lalu menikah. Awalnya kami kira akan menemui banyak tantangan, rupanya kami dimudahkan sehingga tak perlu waktu lama untuk bersama. Karena saya menikahi sahabat sendiri, tak ada yang dia tak ketahui. Semua sudah dia ketahui jauh sebelumnya, sejak kami bertukar cerita via sosmed, blog dan email. Selain itu kami memang dari awal terbiasa menceritakan apa saja karena kami sudah merasa nyaman satu sama lain. Dia juga selalu mendukung apapun yang saya lakukan. Sampai sekarang dia selalu menyuruh saya melanjutkan pendidikan lagi meraih gelar PhD padahal saya masih belum cukup percaya diri.

FB_IMG_1434727907678

Si pak guru, om kumis, om Im-Im, Bambang, Karaeng dan Imran ini sudah bertambah lagi identitasnya menjadi “bapak” sejak 4 tahun lalu. Saya dan Arung, anak kami, beruntung memiliki seorang suami dan ayah yang perhatian, baik hati, penyayang dan sangat bisa diandalkan. Tak terasa hampir 7 tahun sudah kami menikah dan semoga selalu diberikan umur panjang serta berkat berlimpah hingga terus bersama sampai maut memisahkan. Ketika pernah ada kawan yang menanyakan resep bahagia keluarga kami, sembari tertawa saya berkata: “nikahilah sahabatmu…!”.

#NulisRandom2015 #Day19 #NulisRandom2015Day19

Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Toleransi

Di Indonesia sangat mudah menebak peristiwa dan isu apa yang sedang terjadi. Biasanya tergantung bulan atau musimnya. Ini terjadi hampir di dua dunia, dunia maya dan dunia nyata.

Pada musim pilpres, umumnya hampir sama tema yang diangkat sebagai bahan perdebatan, kalau bukan seputar kadar keimanan capres dan keluarganya palingan juga seputar masalah pencitraan serta isu dalang si capres. Masuk Natal mulai lagi dengan isu haram-halal mengucapkan selamat hari raya kepada umat Kristiani. Dan sekarang saat memasuki bulan Ramadhan, seperti tahun-tahun sebelumnya kembali lagi perdebatan soal menghormati yang puasa atau menghormati yang tak puasa.

Saya teringat ketika masih kanak-kanak dahulu, meskipun keluarga saya non-Muslim namun kami bertetangga dan hidup rukun bersama mereka yang Muslim. Ketika memasuki bulan puasa, saya sering ikut bersama kawan-kawan menemani mereka taraweh. Ketika mereka sholat di rumahnya pun saya kadang ikut menirukan dibelakang mereka dengan mengenakan sarung yang diikat dileher lalu dibalik sehingga menyerupai mukena. Bahkan saya sering ikut dibangunkan untuk sahur dan setelah itu kami berjalan pagi keliling perumahan bersama-sama.

Ketika hari raya tiba, baik itu Natal ataupun Lebaran, kami sengaja tak ingin ikut orangtua mengunjungi tetangga yang merayakan. Para anak-anak juga bergabung sendiri dan berziarah ke rumah-rumah menikmati minuman bersoda atau sirup dan kue-kue. Waktu kami kecil dulu belum ada tradisi memberikan uang kepada anak-anak sehingga kami betul-betul datang berkunjung dan mencoba semua kue kering yang disajikan. Kami juga membuat daftar untuk kunjungan tahun depan, rumah mana yang menyajikan minuman bersoda atau es krim dengan kue yang paling enak. Rumah yang berada pada daftar paling atas adalah tujuan pertama kami tahun depan. Ketika itu memang hanya sedikit yang bisa menyajikan minuman bersoda. Kami senang sekali bila mendapat minuman yang membuat bibir dan lidah kami berwarna merah.

Selain saling mengunjungi, kami dan tetangga juga saling menghantarkan makanan. Biasanya malam sebelum Natal atau saat malam takbiran kami bertukar hasil masakan. Bahkan, karena di perumahan kami hanya beberapa yang beragama non-Muslim, ketika hari Idul Fitri tiba bisa dipastikan rumah kami kebanjiran hantaran. Bahkan om saya sudah jauh-jauh hari datang ke rumah karena tahu di rumah pasti ada hidangan Lebaran dari tetangga. Mungkin bila dihitung-hitung, waktu itu bisa jadi rumah kami lebih banyak makanannya daripada yang beragama Islam. Keluarga kami biasanya memberikan kue-kue kepada tetangga dan minuman sebagai balasan hantaran mereka. Saat Natal tiba pun orangtua saya hampir pasti selalu sibuk menerima tetangga dan teman yang bertamu. Itu juga bisa berhari-hari lamanya tamu masih berdatangan. Sama halnya ketika Idul Fitri, bisa lebih dari seminggu baru kelar kunjungan silahturahmi dengan para tetangga dan kerabat.

Sekarang ini, kurang lebih lima belas tahun terakhir ini sangat jauh berbeda situasinya. Kami pindah di perumahan ini ketika saya duduk dikelas 6 SD. Sedikit berada di kota, tidak seperti perumahan kantor dahulu yang berada di perbatasan. Rumah kami sekarang sudah jarang dikunjungi ketika Natal dan begitu pula saat Lebaran kami paling hanya mengunjungi keluarga dan teman dekat yang merayakan. Rumah saya sendiri merayakan tiga hari raya keagamaan, Idul Fitri, Natal dan Galungan karena keluarga kami memeluk tiga agama yang berbeda, Islam-Katholik-Hindu.

Syukurnya, meskipun intensitas dan jumlah kunjungan yang jauh berkurang, hubungan kami dengan tetangga dekat sangat baik. Kami juga sering saling mengantarkan hidangan hari raya atau saat ada acara khusus. Bahkan tetangga depan rumah saking perhatiannya kepada kami sejak hari pertama puasa hingga terakhir selalu rutin memberikan cemilan pembuka. Ini sudah berlangsung jauh sebelum saya menikah dengan suami yang Muslim. Apa saja yang mereka makan pasti dibagikan kepada kami. Saya jadinya sering merindukan masa-masa kecil ketika pintu-pintu rumah terbuka lebar menerima tamu yang tak henti berdatangan.

Kembali kemasa puasa ini, saya sendiri tak ingin berdebat soal hormat menghormati yang puasa atau yang tak puasa. Bagi saya toleransi adalah kepekaan kita melihat dan merasakan mana yang pantas dan tak pantas. Dahulu pun rumah makan ada yang buka tetapi aktifitasnya tertutup dan yang tak berpuasa bisa mengisi perutnya meskipun dilakukan secara tidak terbuka. Banyak juga kan yang karena kesehatan atau lagi dapat haid sehingga tak bisa berpuasa. Tetapi umumnya yang makan pun tak lantas seenaknya mengunyah dihadapan mereka yang sedang berpuasa. Semua saling menjaga dan bertoleransi. Pun ketika ada yang makan dihadapan yang berpuasa maka biasanya meminta ijin terlebih dahulu dan yang berpuasa juga mempersilahkan karena baginya godaan makanan dan minuman hanyalah bagian kecil dari tantangan berpuasa. Pahala yang dihitung berdasar kebaikan yang dilakukan dan seberapa banyak ibadah serta amalan yang dikerjakan.

Merasakan sendiri hidup bersama dengan tiga agama dalam keluarga membuat saya tak pernah berhenti belajar untuk berempati dan bertoleransi. Seorang pernah mengatakan bahwa agama adalah alat anti agama (lain) yang paling sengit. Padahal jika kita saling bergandengan dan saling menghargai tentunya keberagaman akan membuat kita menjadi lebih kuat dan hidup berdampingan dengan harmonis.

Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan penuh berkat, bulan Ramadhan, untuk suamiku, kawan, keluarga dan seluruh sahabat Muslim dimanapun berada. Semoga hati dan perilaku kita terjaga dan amalan bertambah senantiasa. Amin

#NulisRandom2015 #Day18 #NulisRandom2015Day18

Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Gara-Gara Membaca

FB_IMG_1434299169223

Ya. Membacalah. Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari membaca. Hermione membuktikan bahwa darah Muggle pun bisa sehebat penyihir berdarah murni karena dia banyak membaca.

Sewaktu masih kecil, orangtua sering membelikan kami majalah anak yang membuat saya bisa lupa makan dan mandi. Ditambah lagi kawan SD, Ati, memiliki koleksi buku bacaan yang dipinjamkan dan membuat imajinasi kanak-kanak saya berkelana kesana kemari lewat kisah-kisah petualangan yang ditulis oleh Enid Blyton, dongeng Hans Christian Anderson dan cerita detektif Agatha Christie.

Buku adalah jendela dunia. Buku bisa membawa kita berkeliling dan mengenal banyak hal tanpa harus berpindah tempat. Ketika membaca petualangan gadis-gadis cilik selama bersekolah di Malory Towers, kisah empat orang sahabat dan seekor anjing di Lima Sekawan, sekelompok remaja mecahkan misteri di Pasukan Mau Tahu serta kasus-kasus pembunuhan yang dipecahkan oleh detektif Hercule Poirot, seperti saya sendiri berada di pedesaan Inggris menikmati kue jahe dan es limun saat musim panas sekolah Malory Tower atau membayangkan menelusuri puri-puri tua sembari mencari petunjuk pelaku kejahatan. Membaca membuat imajinasi saya berkembang dan pengetahuan saya bertambah.

Tak ada yang mengira pula, gara-gara membaca terutama buku-buku Enid Blyton, saya menjadi terinspirasi ingin sekali pergi ke Inggris dan menikmati langsung berjalan-jalan di taman dan memandangi kastil-kastil serta rumah-rumah tuanya yang khas. Mimpi itu terus saya bawa dan ketika mendapat kesempatan meraih beasiswa untuk melanjutkan sekolah pastinya sudah tertebak negara yang saya tuju, Inggris. Bahkan anak saya lahir di Inggris. Senangnya bisa merasakan kue jahe dan es limun serta mengunjungi berbagai kota tua di sana. Akibat keduanya dari membaca waktu itu adalah saya jadi mau masuk sekolah berasrama seperti di Malory Towers. Bahkan ketika hendak mendaftar SMA, saya meminta untuk masuk ke salah satu sekolah swasta di Makassar hanya karena memiliki asrama. Namun, rupanya kakak saya tak ingin adek bungsunya ini jauh dari rumah sehingga dia tak mendaftarkan saya.

Kalau kalian??

#NulisRandom2015 #Day17 #NulisRandom2015Day17

Posted by: nyomnyom | June 19, 2015

Deppa Tori’

deppa tori

Bukan rahasia lagi orang Toraja senang minum kopi. Kopi arabika Toraja sudah terkenal dimana-mana karena aromanya yang khas dan kekentalan (body) nya yang bagus. Biasanya, untuk kesehatan dianjurkan meminum kopi tanpa gula pasir karena gula akan membuat jamur mudah tumbuh dalam usus dan juga membuat jadi terlalu aktif serta cepat kenyang.

Di Toraja, kopi sering disajikan bersama cemilan khas yang disebut dengan Deppa Tori’ atau juga dikenal dengan nama Deppa Te’tekan. Deppa artinya kue. Jadi Deppa Tori’ adalah kue Tori. Kue ini juga kerap dihidangkan dalam upacara-upacara adat serta menjadi oleh-oleh andalan bagi mereka yang habis berkunjung ke Toraja.

Kue Tori’ terbuat dari tepung beras dan gula merah yang ditaburi dengan wijen. Gula merah sebagai pemanis alami memberikan energi dan juga rasa manis sehingga sangat pas dimakan sembari menikmati secangkir kopi arabika Toraja. Kue Tori’ ini juga dapat dijumpai dibeberapa daerah dataran tinggi lainnya seperti di Enrekang dan Malino. Mungkin dahulu kue ini dimakan agar kuat bekerja dan tahan dingin. Bentuk kuenya memanjang seperti diamond atau belah ketupat. Paling enak dinikmati saat baru selesai digoreng karena masih renyah dan empuk.

#NulisRandom2015 #Day16 #NulisRandom2015Day16

Posted by: nyomnyom | June 15, 2015

Katokkon

Masih tentang Toraja, kampung halaman dan tempatku bekerja saat ini. Banyak hal di Toraja yang bisa membuatmu jatuh cinta. Selain keindahan alam dan kekayaan budayanya, Toraja juga akan memanjakan kita dengan sajian kuliner lokalnya. Masakan Toraja kaya akan rempah-rempah. Ada beberapa jenis bahan masakan yang sudah jarang ditemukan di daerah lain selain Toraja.

Sebagai penggemar makanan lokal, saya sulit menentukan yang menjadi masakan favoritku. Saya menyukai pammarasan ikan mas (ikan mas dimasak dengan pammarasan atau biasa dikenal dengan nama kluwak dengan mencampur kulit kluwaknya sebagai sayurannya) dan juga tergila-gila dengan sayur tu’tuk (sayur daun ubi/singkong yang ditumbuk halus dan dimasak dengan air dicampur parutan kelapa hingga kering) serta ikan asin.

Dari banyak ragamnya kuliner lokal Toraja, tak lezat rasanya tanpa.didampingi ulekan sambal dari cabai khasnya yang akan menggugah selera. Orang Toraja menyebutnya Lada Katokkon atau lombok katokkon. Merupakan jenis cabai Capsicum annuum L. var. sinensis. Rasanya pedas dan mirip paprika dalam bentuk yang lebih kecil. Makanan lokal Toraja lebih terasa nikmat dengan sajian lombok katokkon yang ditumbuk biasa tanpa digoreng.

Lada Katokkon

Lada Katokkon

Karena bentuknya yang unik, lombok katokkon ini juga menjadi pilihan oleh-oleh bagi mereka yang berkunjung ke Toraja. Saya sendiri pernah mencoba menanamnya di Makassar. Meskipun berhasil tumbuh tetapi tidak berbuah. Mungkin tak cocok dengan hawa panas sehingga hanya tumbuh subur di Toraja yang sejuk.

Seorang pengusaha muda Toraja, ibu Merda, yang melihat peluang baik untuk oleh-oleh sekaligus mendukung usaha industri rumahan dan petani katokkon lalu membuat produk sambal katokkon dalam botol dengan beberapa varian rasa (original, campur dendeng dan campur ikan). Sambal katokkon botol ini pas dibawa perantau Toraja yang rindu dengan cita rasa lokal sekaligus mempopulerkan lombok katokkon Toraja ke daerah lain.

Katokkon Botol

Katokkon Botol

Sekarang, karena malam sudah mulai menjelang, saatnya saya pulang dan memasak makan malam. Ikan goreng, sayur daun labu kuning dan tentu saja, sambal katokkon ulek tanpa tomat kesukaan saya. Selamat makan…

#NulisRandom2015 #Day15 #NulisRandom2015Day15

Posted by: nyomnyom | June 15, 2015

Menganyam Tikar

Toraja, kampung halaman mamak saya ternyata sungguh kaya akan ragam budaya, keindahan alam dan adat istiadat yang menyatu dalam keseharian masyarakatnya. Sebelumnya saya hanya sering mengunjungi objek wisata yang kerap didatangi oleh wisatawan. Tidak jauh-jauh dari seputaran kuburan dan rumah adat. Bagi saya yang sering bolak balik Toraja untuk mengunjungi keluarga waktu itu, hampir tak ada objek wisata yang menarik perhatian lagi. Sudah terlalu mainstream kalau kata anak gaul sekarang.

Mendapat kesempatan bekerja dan tinggal di Toraja membuat saya berkesempatan menjelajahi dan mengenal lebih jauh tanah leluhur asal almarhumah mamak. Ternyata, Toraja tak sekedar kuburan, upacara adat dan rumah tongkonan. Masih banyak tersembunyi tempat-tempat menarik hingga pesona kerajinan dan produk lokalnya yang unik dan sarat dengan kekayaan budaya.

Kali ini saya ingin menceritakan tentang salah satu hasil kerajinan tangan khas Toraja yakni tikar Toraja atau yang biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan “appa” atau “ale“. Pengrajin anyaman tikar ini umumnya berasal dari Kec. Denpina (Dende Piongan Napo), Kab. Toraja Utara. Terdapat sembilan desa (atau disebut dengan Lembang di Toraja) di kecamatan ini yang mana penganyam tikar Toraja ini banyak berdomisili di Lembang Ma’dong dan Lembang Paku. Pemandangan menuju Dende’ juga sangat indah dan menakjubkan.

Pemandangan menuju Dende'

Pemandangan menuju Dende’

Bahan utama anyaman tikar ini diambil dari sejenis rumput ilalang (mirip padi) yang disebut daun Tuyu. Umumnya masyarakat di Dende’ menanam daun Tuyu ini dekat sawah mereka. Dahulu, selain tikar, mereka juga banyak membuat Tas dan Kapipe’ (tempat bungkus nasi). Namun karena masyarakat sudah jarang menggunakan Kapipe’ untuk membawa nasinya maka sudah semakin sedikit yang membuatnya. Lebih banyak yang membuat tikar karena masih banyak dibutuhkan terutama untuk dipakai sebagai alas duduk untuk Lantang (pondok tempat acara saat upacara adat) atau dipakai di rumah sebagai alas tidur.

Empat kumpul Daun Tuyu

Empat kumpul Daun Tuyu

Saya bercakap-cakap dengan ibu-ibu pengrajin yang ditemui di Dende’ sembari melihat-lihat mereka mengayam tikar. Salah seorang ibu mengatakan bahwa mereka mengerjakan tikarnya diwaktu luang saja, biasanya setelah berkerja di sawah atau kebun dan selesai mengurus rumah tangga. Umumnya di sore hari mereka duduk santai di teras rumah dan mulai menganyam. Untuk satu tikar mereka menggunakan 4 kumpul daun tuyu yang bisa juga dibeli pada tetangga seharga tiga puluh ribu rupiah untuk empat kumpul. Masa pengerjaan untuk satu tikar selama satu minggu dan dijual di pasar sebesar seratus ribu rupiah. Sekarang mereka juga sudah membuat variasi warna untuk tikar atau tas yang dibuat dengan warna merah yang diambil dari rumput Adunda atau warna hijau dari kasumba.

Anyaman Tikar

Anyaman Tikar “Appa/Ala”

Jika dalam sebulan satu ibu bisa menghasilkan satu tikar maka lumayan juga pendapatan sampingan dari para ibu-ibu ini. Mereka juga mewariskan ilmu menganyam ini kepada remaja puteri sehingga kerajinan tangan khas Toraja ini tidak punah. Sebagai pencinta budaya Toraja, yuk kita juga mulai memakai produk lokal agar semakin banyak yang tahu betapa Toraja sangat kaya adat istiadat dan budaya.

#NulisRandom2015 #Day14 #NulisRandomDay14

Posted by: nyomnyom | June 14, 2015

Mari Makan …!

Hari ini saya dan Pindan, sahabat saya sesama fellow IFP, panen kangkung dari halaman belakang kos. Kami hendak memasak bubur Manado kesukaan saya. Pindan yang berdarah Toraja-Manado mengusulkan diri yang akan membuatnya. Sepotong labu dan jagung manis beserta ikan asin telah tersedia. Kangkung yang sudah cukup umur untuk dipanen lalu dipetik.

Setelah berkutat dengan beras, jagung pipil dan labu yang dimasak duluan, kami kemudian menyusul mengolah sayuran yang dimasak terpisah diwajan karena keterbatasan peralatan masak ukuran  besar. Kangkung hasil panen tadi menjadi sayuran utama ditambah sedikit bayam.

Lombok katokkon dan tomat buah digoreng bersama bawang merah untuk diulek bersama terasi. Kebetulan saya diberikan terasi dari Kendari yang konon paling enak rasanya. Benar juga, baru aromanya saja sudah tercium kelezatan sambalnya. Sambal terasi memang paling pas dengan bubur manado ditemani ikan asin.

Tak berapa lama terhidang sajian khas kota nyiur melambai ini. Bubur manado alias tinutuan sebagai menu makan siang kami. Tak ada yang lezat selain menikmati menu masakan nusantara. Selera saya memang sudah tertebak. Saya pecinta makanan lokal. Jadi, mari kita makan..IMG_20150614_185319

#NulisRandom2015 #Day13 #NulisRandom2015Day13

« Newer Posts - Older Posts »

Categories