Posted by: nyomnyom | October 26, 2015

Label Baju untuk Si Keren, Arung

Sebentar lagi Arung akan berusia 5 tahun. Sekarang adalah masa-masa dimana dia lagi senang-senangnya bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang. Setiap saya berada di Makassar sebisanya menemani Arung bermain di lapangan depan rumah kami saat sore hari. Anak-anak kecil dan remaja tanggung seringkali bermain sepak bola ataupun sekedar bersepeda dan bercengkerama dengan sebayanya. Tiap kali pintu pagar dibuka, Arung langsung melesat ke lapangan dan mencari kerumunan anak-anak remaja yang bermain bola. Terkadang, ketika saya mencoba mengejarnya, Arung akan berlari menghindar sembari memasang senyum usilnya.

Sebuah perubahan yang cukup terasa tentunya. Sebelumnya Arung sempat mogok bergaul selama kurang lebih dua tahun. Seperti berada didunianya sendiri. Hanya saya, bapaknya dan opa yang boleh berada didunianya. Setelah terapi dan mengikuti playgroup disalah satu sekolah inklusi di Makassar, akhirnya Arung kembali membuka diri dan mulai bergaul. Namun, terkadang sering kali saya atau bapaknya yang menjaga jadi kelimpungan dengan kelincahan Arung yang begitu cepat bergerak. Kadang, kami hanya menoleh sebentar dia sudah lari menghilang.

Berhubung Arung yang super keren ini masih autistik non verbal, saya sedikit khawatir bila suatu masa tak diminta-minta dia lepas dari pengawasan kami. Membayangkannya saja saya sudah tak sanggup. Bagaimana ia nanti bisa menjelaskan nama dan alamatnya? Apakah dia tahu cara memanggil kami, orangtuanya? Namun, mengurungnya didalam rumah saja pun bukanlah hal yang bijak karena Arung perlu untuk mengenal beragam karakter dan mengalami masa kanak-kanak yang ceria serta sewajarnya. Sementara saya dan suami terkadang kalah gesit dari si bocah ganteng kesayangan kami ini.

Walhasil, agar Arung bahagia bermain bebas dan kami juga sedikit berkurang rasa was-wasnya, maka sebuah solusi yang cukup menentramkan hati bersama lalu kami ambil. Dikarenakan anak tak akan nyaman memakai name tag, maka saya memesan label baju yang bertuliskan nama dan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk disematkan pada baju dan celana Arung. Doa kami semoga tak terjadi hal-hal tak diinginkan pada Arung, namun bila suatu saat sempat terlepas dari pengawasan kami, semoga Arung bertemu orang baik yang bisa segera menelepon kami. Tentu saja kami tak berharap yang buruk terjadi. Setidaknya ini upaya kami membuat Arung tetap nyaman bermain tanpa kekangan yang berlebihan.

Label Baju

Label Baju

Advertisements
Posted by: nyomnyom | August 10, 2015

Kita Akan Baik-Baik Saja

Arung di acara kawinan

Arung di acara kawinan

Setiap orangtua ingin memberikan yang paling spesial untuk anak-anaknya. Begitupun saya. Tidak pernah terbersit dalam benak saya menjadi orangtua dengan anak autistik. Saya rasa siapapun tak pernah bermimpi anaknya akan didiagnosa menjadi “berbeda” dari anak-anak lainnya.

Namun hidup seringkali memberikan kejutan-kejutan yang bisa memporak porandakan beberapa mimpi dan harapan-harapan. Bayangkan, kasus yang terjadi adalah sekitar 1 dari 100 anak. Ibaratnya seperti mendapat undian lotere berhadiah. Dari beberapa orangtua yang ada, kami terpilih mendapat kesempatan merawat dan membesarkan anak istimewa ini. Sebuah kepercayaan yang besar diberikan untuk kami laksanakan.

Ketika kenyataan tak seperti yang diinginkan, ketika itulah kekuatan kita diuji. Mendapat anugrah ini membuat saya dan suami menjadi kian dekat dan lebih banyak belajar serta lebih saling mencintai agar kami bisa merawat dan memberikan yang terbaik untuk titipan Tuhan kepada kami ini. Tak terbilang berapa kali kami harus jatuh bangun mencari tahu apa yang terjadi pada anak kami tercinta dan cara menanganinya. Belum lagi pencapaiannya yang maju-mundur seperti beberapa hari ini yang kembali sensitif dan sering tantrum.

Anak dengan gangguan spektrum autisme sendiri memiliki ciri-ciri yang berbeda satu sama lain. Bermacam-macam diagnosa pun ada mulai dari PDD Nos, Asperger dan sebagainya. Bahkan tingkat kemandiriannya pun ada kategorinya mulai dari low function hingga high function. Dari segi gangguannya ada yang digolongkan mild hingga severe autism. Kami sendiri berusaha tak terpaku pada label atau diagnosanya. Sebisanya kami mencari tahu caranya agar anak kami bisa beradaptasi dan mandiri.

Pengaturan makanan (diet CFGF) dan terapi adalah hal yang akrab bagi kami. Dahulu, mungkin mana pernah saya atau suami bahkan keluarga kami paham tentang hal ini, autisme dan segala hal mengenai anak berkebutuhan khusus. Sekarang pun saya menjadi lebih peka dan perhatian terhadap keluarga-keluarga yang diberikan karunia anak istimewa ini. Saya sendiri merasakan bagaimana orang lain yang tak paham dengan situasi kami seringkali melihat kami dengan pandangan ‘aneh’ dan bahkan ‘kasian serta heran’ saat anak kami tantrum di tempat umum atau melakukan gerakan-gerakan yang berulang-ulang yang tak lazim.

Hal terberat bagi saya bukanlah pada saat orang-orang memberikan iba ataupun cemoohnya. Bukan pula saat kami harus bekerja jauh lebih keras dan terkadang harus berpisah demi memberikan pendidikan dan terapi yang cocok buat anak yang tentunya harganya tak murah. Bukan juga saat kami harus menenangkan anak ketika dia mulai tantrum dengan tenaganya yang sangat kuat.

Hal terberat adalah ketika menyaksikannya bertumbuh kian besar dan saya masih merasa kurang merawatnya dan juga apakah kelak masa depannya bisa terjamin dengan baik di negeri ini jika kami tak ada lagi. Seperti halnya manusia biasa lainnya, ada kalanya saya merasa drop dan bingung bagaimana kelak kami membesarkannya. Dengan segala keterbatasan, kami mencoba apa yang kami tahu dan miliki untuk membuat anak kami setidaknya bisa mandiri. Tak jarang kebingungan yang dialami seperti saat ini dimana kami tak tahu mengapa dia tiba-tiba kembali sering tak fokus dan manja.

Mungkin beberapa rencana kami sedikit tidak berjalan seperti yang diinginkan ketika pertama kali dia lahir. Kami harus menunda melihatnya seperti anak-anak lain bercerita tentang kegiatannya sehari-hari, mendengarkan nyanyian atau celotehan yang kadang orangtua lain sering menggerutu karenanya. Mungkin kami harus cepat-cepat pulang dari suatu acara ketika kondisi anak tak lagi kondusif. Terkadang kami harus berkejaran dengannya yang langsung lari ke rumah tetangga dan meminta maaf kepada mereka yang masih terbengong-bengong melihat kelakuan anak kami.

Banyak hal yang harus disimpan untuk sementara waktu sembari membantu anak kami menjalani kesehariannya. Akan tetapi satu hal yang tak pernah kami lepas adalah keyakinan bahwa tak ada yang mustahil bagi anak-anak Tuhan yang percaya kepadaNya. Usaha dan doa adalah pijakan kami. Dan saya yakin, seperti halnya orangtua-orangtua hebat dengan anak istimewa lainnya, senyum dan wajah tak berdosa anak-anak kami adalah penawar yang hebat untuk kegelisahan serta pemacu untuk terus memberikan yang terbaik buat mereka.

Saya tak sendirian berjuang. Dari berbagai group, komunitas dan mailing list mengenai autisme, kami saling berbagi dan saling belajar. Meskipun banyak yang tak pernah bertemu langsung, kami merasa dekat dan saling mendukung. Tak ada penilaian mengenai baik buruknya cara kami mengasuh anak. Kami smua paham bahwa menjadi orangtua biasa saja sudah cukup sulit apalagi menjadi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus.

Saya bersyukur mendapat keistimewaan melahirkan dan merawat Arung Panrita, anak kami tercinta. Tak ada hal lain yang paling saya inginkan selain melihat senyuman dan mendapat pelukan serta ciuman hangat darinya. Itu sudah cukup menghalau kegalauan dan kegelisahan saya. Seperti malam ini, ketika saya sendirian dengan jarak beratus-ratus kilo darinya. Saya menatap fotonya yang baru saja dikirimkan oleh bapaknya yang memberitahukan kalau hari ini Arung berhasil meniup peluitnya.* Seketika senyum mengembang dibibir saya dan tak tarasa airmata mengalir dipipi. Harapan baru tumbuh lagi dalam hati. Seperti mendengar Arung berbisik ketelinga saya, “jangan khawatir, kita akan baik-baik saja, mak..

(*) : salah satu terapi untuk anak autis non verbal adalah belajar meniup untuk melatih otot mulutnya. Sebelumnya Arung belum pernah bisa meniup. Bisa meniup peluitnya adalah sebuah pencapaian yang besar baginya.

Posted by: nyomnyom | July 3, 2015

Finally

Akhirnya..

Setelah memberikan komitmen akan menulis selama 30 hari untuk tantangan #NulisRandom dari Fan Page NulisBuku.com akhirnya saya berhasil menepatinya meskipun bukan lagi 30 hari tetapi 30 tulisan karena beberapa tulisan saya buat dalam sehari mengejar ketertinggalan.

Meskipun bukan hal besar, berhasil menuntaskan sesuatu janji adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Seperti ada perasaan yang kurang bila saya terlelap tanpa menyetor tulisan untuk hari tersebut. Meskipun terkadang kendala jaringan internet yang kurang bagus atau kesibukan bekerja yang menyita waktu, akhirnya selesai juga tantangan menulis ini.

Saya sendiri bukan seorang penulis yang baik. Saya memang senang menulis tetapi selalu saja saya merasa kurang puas dengan tulisan yang dihasilkan. Selain itu saya juga pelupa. Makanya menulis di blog sangat membantu saya untuk mengevaluasi tulisan saya sekaligus mengingat kejadian yang terjadi pada diri saya yang membuat saya ingin menuliskannya. Jeleknya, saya selalu tak ada waktu untuk belajar menulis pada kawan-kawan saya yang memang beberapa diantaranya penulis hebat. Suatu saat saya akan memaksa mereka menularkan virus menulis yang baik kepada saya.

Anyway, hari ini saya merasa gembira sekaligus lega. Saya bisa tidur nyenyak karena tunai sudah kewajiban (yang tak mesti juga dipenuhi) menulis random selama 30 hari di bulan Juni. Saya belum tahu apakah kawan lain banyak yang berhasil atau ada yang putus ditengah bulan tak sempat menyelesaikan tantangan ini. Tak ada hadiah atau medali untuk mereka yang berhasil, tetapi kepuasan telah menuntaskan sebuah janji adalah reward yang melebihi kado apapun. Moga-moga juga dari beberapa tulisan itu ada yang memberi manfaat baik kepada orang lain. Setidaknya dari pengalaman sendiri, saya mendapat banyak pesan dukungan untuk Arung, anak saya dan bahkan mendapat kawan baru serta pengetahuan baru tentang autisme.

Sampai jumpa ditantangan lainnya

1435912409935

#NulisRandom2015 #Day30 #NulisRandom2015Day30

Posted by: nyomnyom | July 3, 2015

New Girl

Who’s that girl..who’s that girl..it’s Jess..

Yang tau jingle ini pasti sering nonton serial TV “New Girl”, sebuah sitkom Amerika yang mengisahkan persahabatan 4 cowok dan 1 cewek yang tinggal bersama disebuah flat. Perbedaan karakter dan juga pekerjaan membuat kisah keseharian mereka menjadi menarik.

Awalnya diceritakan Jess yang diperankan oleh Zoey Deschanel mencari tempat tinggal baru setelah kekasihnya ketahuan berselingkuh. Nick, Schmidt dan Coach yang mewawancarai cewek unik yang punya hobi menyanyi dan bergumam ini memutuskan untuk menerimanya terutama setelah mengetahui Jess memiliki sahabat seorang model yang bernama Cece. Setelah episode percobaan, Winston yang sebelumnya pernah tinggal bersama Nick dan Schmidt kemudian menggantikan Coach. Tokoh Coach kembali muncul pada Season kedua.

Bagaimana seorang Jess yang merupakan seorang guru dengan sisi femininnya dan juga tingkah pola yang kadang mengesalkan para cowok yang tinggal bersamanya ternyata memberikan nuansa yang berbeda pada flat mereka. Beberapa intrik percintaan, kecemburuan dan kehebohan di flat menjadi bahan cerita serial TV yang telah menyelesaikan Season keempatnya pada bulan May tahun ini.

Entah sudah beberapa kali saya menonton ulang serial New Girl ini mulai dari Season pertama hingga teakhir. Selain serial detektif atau kriminalitas, saya juga penggemar serial komedi situasi macam Friends dan New Girl ini. Sepulang kerja ketika penat melanda dan bosan dengan acara tv kabel, biasanya saya memutar kembali koleksi serial TV yang ada di hardisk hingga tertidur. Esoknya pun bangun lebih segar dan siap memulai hari dengan semangat bekerja.

Yang ingin tahu atau mau ngopi New Girl koleksi saya, sila ya…

#NulisRandom2015 #Day29 #NulisRandom2015Day28

Posted by: nyomnyom | July 2, 2015

Bergidik

Ada tiga hal yang membuat saya otomatis bergidik. Pertama adalah kumpulan semut. Bulu kuduk saya langsung berdiri dan sekujur kulit seperti membentuk bentolan kecil. Seingat saya ketika masih kecil, kira-kira usia TK, saya pernah terpaku ketakutan karena berdiri persis diatas sarang semut merah dan kaki saya dikerubuti oleh sepasukan tentaranya. Saya menangis kesakitan dan beberapa saat kemudian sibuk menggaruk gigitan semutnya. Sejak saat itu, setiap saya melihat semut berbaris atau bergerombol, saya seketika langsung bergidik atau merinding.

Hal yang kedua adalah setiap mendengar bunyi ambulance. Sudah beberapa tahun ini setiap kali saya mendengar bunyi sirine ambulance, bulu-bulu tangan langsung berdiri dan membuat perasaan bergidik. Ini dikarenakan ketika mamak saya meninggal dunia tahun 2006 lalu, saat akan dibawa ke kampung halamannya di Toraja, jenazah mamak dibawa ke sana dengan menggunakan ambulance. Perjalanan kurang lebih 7 jam dari Makassar ke Toraja dengan peti jenazah mamak didalamnya dan dengan sirene yang menggaung-gaung membuat saya menjadi traumatik dengan suara ambulance. Bayangkanlah berapa kali saya bergidik ketika tinggal di Toraja ini untuk bekerja karena hampir setiap hari beberapa ambulance lalu lalang membawa kiriman jenazah orang Toraja yang tinggal diperantauan.

Yang terakhir yang membuat saya merinding adalah ketika melewati rumah sakit Stella Maris di Makassar. Sewaktu mamak saya dirawat di sana hingga menghembuskan nafas terakhirnya, beliau senantiasa bersama saya. Sampai sekarang, setelah kurang lebih 9 tahun berlalu sejak meninggalnya, masih jelas terbayang dibenak saya suasana kamar mamak, saat-saat beliau anfal, dipindahkan ke ICU hingga saya menangis sambil mendoakan keikhlasan ditelinganya beberapa jam sebelum berpulang. Dan yang paling tak bisa saya lupakan adalah ketika nafas mamak berhenti untuk selamanya dihadapan saya. Hingga beliau dimakamkan, airmata saya jarang sekali bercucuran. Saya sibuk mengurus keperluan untuk pemakaman dan administrasi rumah sakit. Ketika dibawa ke Toraja hingga dimakamkan di pekuburan keluarga pun, airmata hanya menetes perlahan. Barulah ketika pulang ke rumah, saat kerabat kembali dan meninggalkan kami, saya merasakan sakit yang luar biasa pedihnya. Sejak itu pun, tiap kali melewati RS Stella Maris, otomatis perasaan menggidik langsung menjalari seluruh tubuh.

Terkadang teman atau kerabat yang melihat saya tiba-tiba bergidik menjadi terheran-heran. Setelah saya jelaskan penyebabnya barulah mereka paham. Semoga tidak bertambah lagi karena sulit juga mengembalikan dengan cepat bulu tangan yang berdiri dan bentolan kecil karenanya.

#NulisRandom2015 #Day28 #NulisRandom2015Day28

Posted by: nyomnyom | June 30, 2015

Etnik Unik

Saya sangat menyukai barang-barang yang berbau etnik dan buatan tangan. Ada beberapa koleksi tas etnik yang saya kumpulkan maupun diberikan oleh kawan yang tahu kesukaanku ini. Belum lagi koleksi kain tenun dan batik dari berbagai tempat di nusantara yang memenuhi lemari penyimpanan di rumah.

Seringkali saya membongkar koleksi yang ada hanya untuk membuka lembaran kain atau tas, memandanginya dan kembali menyimpannya. Terkadang terbersit keinginan untuk menjahit kain yang ada menjadi busana atau rok tetapi rasa takut penjahitnya salah potong atau salah jahit membuat selalu urung melakukannya.

Kain tenun NTT pemberian kawan

Kain tenun NTT pemberian kawan

Kegemaran mengumpulkan barang etnik ini semakin menjadi saat saya ditempatkan di kampung halaman mamak ini untuk bekerja. Toraja juga terkenal dengan hasil tenunnya seperti yang masih banyak ditemukan di daerah Galugu Dua, Sa’dan Barana dan Mamasa. Beberapa tenun dan sepu’ (tas tangan) sudah masuk kedalam koleksi saya. Mungkin suatu saat koleksi ini akan saya hadiahkan untuk anak cucu atau kerabat lainnya. Tapi sementara ini saya masih posesif dan menyimpannya untuk diri sendiri.

#NulisRandom2015 #Day27 #NulisRandom2015Day27

Posted by: nyomnyom | June 30, 2015

Bunga yang Lezat, Bunga Pepaya…

Pulau Timor di Nusa Tenggara Timur menempati ruang tersendiri dalam benak dan hati saya. Selama lebih dua tahun wara wiri di sana, banyak hal-hal baik yang membuat saya suka dan ketagihan, salah satunya sayur bunga pepaya. Pertama kali dikenalkan sayur bunga pepaya ini ketika saya hendak makan siang setelah selesai pertemuan dengan LSM lokal yang menjadi mitra Lembaga Internasional tempat saya bekerja saat itu. Oleh om Salim, supir mobil yang kantor sewa, saya dibawa ke sebuah rumah makan prasmanan yang menyajikan berbagai masakan lokal Kupang seperti Daging Se’i, Sambal Lu’at, Sayur Jantung Pisang dan tentu saja andalan Sayur Bunga Pepaya.

Saya yang sebelumnya memang penyuka sayur daun pepaya yang sering dimasak oleh almarhumah mamak, langsung memilih menu sayur bunga pepaya, daging sapi se’i dan sambal lu’at sebagai menu makan siang saja. Ternyata rasanya sangat enak dan tak begitu pahit seperti daun pepaya. Tak ada campuran lain hanya bumbu masakan seperti bawang dan rempah-rempah. Sejak saat itu saya menjadi pelanggan setia warung makan itu. Bahkan beberapa staff kantor yang juga berkunjung ke Kupang pasti akan saya bawa untuk makan di sana.

Kemudian oleh sahabat saya bu Elis, saya diperkenalkan dengan variasi lain bunga pepaya. Biasanya ketika saya mesti bekerja di Kupang untuk waktu yang cukup lama, saya sering berkunjung ke kos-an bu Elis sekedar bertukar cerita atau tidur-tiduran dan menodong dia memasak masakan rumah untuk saya. Bu Elis kemudian membuatkan saya tumis sayur daun singkong yang dicampur dengan bunga pepaya. Sedikit rasa pedas dari tumisan cabai, bumbu dan rempah-rempah menutupi rasa pahit dan membuat citarasanya kian beragam. Aromanya pun tak kalah menggiurkan. Disajikan dengan nasi hangat dari beras ladang, sambal terasi, tempe goreng dan ikan goreng membuat saya nambah berkali-kali. Akhirnya, tiap kali ke Kupang, saya selalu ke pasar membeli bunga pepaya dan daun singkong lalu meminta bu Elis memasakkannya untuk saya.

Sayur tumis bunga pepaya daun singkong

Sayur tumis bunga pepaya daun singkong

Bunga pepaya sendiri mengandung banyak gizi. Dalam 100 gram bunga pepaya mengandung Energi (45 kkal), Protein (2,6 gr), Lemak (0.3 gr), Karbohidrat (8,1 gr), Kalsium (290 mg), Fosfor (113 mg), Zat Besi (4,2 mg), Vitamin A (0 IU), Vitamin B1 (0,01 mg) dan Vitamin C (23,3 mg) *sumber dari sini . Salah satu manfaat bunga pepaya adalah mencegah serangan jantung dan stroke serta melancarkan sistem pencernaan. Bagi yang tak menyukai rasa pahitnya bisa diakalin dengan merebus terlebih dahulu bunga pepayanya lalu ditumis bersama sayuran. Tetapi tentunya akan mengurangi nutrisi yang terkandung didalamnya.

1435656845391

Di Makassar cukup sulit mendapatkan bunga pepaya. Saya sering mempraktekkan resep dari bu Elis untuk saya sajikan kepada suami dan bapak saya yang juga penggemar bunga pepaya. Di Toraja sendiri jika hari pasar lumayan banyak yang menjual bunga pepaya. Biasanya bila hendak pulang ke Makassar, saya membeli beberapa kantong bunga pepaya untuk dimasak di rumah di Makassar. Sudah lezat, bergizi pula.

#NulisRandom2015 #Day26 #NulisRandom2015Day26

Posted by: nyomnyom | June 30, 2015

Batasan

Bayangkanlah bila segalanya didunia ini tak berbatas, tak ada aturan. Mau bikin apa saja, silahkan. Mau jalan kemana saja dan kapan saja, yuk mari. Pakai baju ke sekolah dan ke kantor sebebasnya. Pacaran lebih dari dua cowok, tak mengapa. Beli apa saja semaunya, tak usah khawatir membayarnya. Sebel sama seseorang, kita pukul saja. Pakai uang kantor untuk keperluan pribadi, sah-sah saja.

Bayangkan pula bila terlalu banyak batasan dan aturan didunia ini. Sedikit-sedikit harus melapor. Bikin ini itu jadi gak percaya diri karena takut salah. Serba seragam dan sama persis. Kreatifitas jadi berkurang karena dibatasi oleh aturan. Ke suatu tempat harus lapor sana sini. Birokrasi jadi kian panjang dan tertutup.

Dan bayangkanlah bila batasan dan aturan dibuat sesuai keadaannya. Sealami mungkin. Tak perlu ada paksaan. Semua mempunyai ukuran dan aturan yang bisa dijadikan patokan apabila sesuatu melampaui batasan. Saling mengingatkan dan saling mengukur kapasitas. Bila sesuatu telah melebihi batas, teguran akan muncul dengan sendirinya. Seperti halnya saya hari ini. Teguran datang bukan dari siapa-siapa. Alami muncul dari kenyataan. Celana andalan sobek ketika berjongkok. Saatnya untuk diet.

#NulisRandom2015 #Day25 #NulisRandom2015Day25

Posted by: nyomnyom | June 30, 2015

Alam Toraja

Masyarakat Toraja sangat memegang teguh adat budayanya yang diwarisi turun temurun. Meskipun sudah tak banyak lagi pemeluk Aluk Todolo (aliran kepercayaan nenek moyang Toraja) tetapi beberapa unsur masih melekat dalam keseharian mereka.

Toraja dahulu dikenal sebagai Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo yang artinya negeri yang bentuk pemerintahan dan kemasyarakatannya merupakan kesatuan yang bulat/bundar seperti Bulan dan Matahari (Tondok berarti ‘negeri’, Lepongan berarti ‘bulatan atau kesatuan’, Bulan berarti ‘bulan’, Tana juga berarti ‘negeri’, Matarik berarti ‘bentuk’ dan Allo berarti ‘matahari’). Orang Toraja suka memakai metafora dalam menggambarkan prinsip hidup mereka dimana unsur-unsur alam senantiasa saling mengisi. Alam memang memegang unsur penting dalam budaya Toraja. Tak heran alamnya yang indah menjadi salah satu daya tarik yang membuat wisatawan jauh-jauh datang hanya untuk menikmati kesegarannya dan kealamiannya.

The view of Dende

The view of Dende

Ada beberapa spot menarik di Toraja dimana kita bisa menikmati pemandangan gunung bebatu yang berjejal, hamparan sawah dengan padi yang menguning, serta melihat kota dari atas bukit, diantaranya :

a. Tinimbayo, Toraja Utara. Sangat baik dinikmati di pagi hari saat kabut masih tebal yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan dan menyisakan barisan bukit dan undakan sawah.

Tinimbayo

Tinimbayo

b. Pemandangan dari Mentirotiku. Dari Tinimbayo naik ke atas menuju Batutumonga, terdapat restauran dan penginapan Mentirotiku dimana hamparan pemandangan indah juga memanjakan mata yang memandang.

1435638718839

c. Batutumonga menuju Pana. Biasanya wisatawan yang hiking diseputaran Batutumonga menuju Pana akan sering berhenti untuk menikmati alamnya dan bongkahan batu yang ada di persawahan.

1435638784934

d. Bukit Singki, Rantepao. Dari kota Rantepao terlihat sebuah patung Salib besar di atas bukit Singki. Menuju kesana cukup sulit aksesnya. Mesti berjalan kaki. Tetapi pemandangan yang disajikan menggantikan rasa lelah ketika mendaki.

e. Burake Hills, Tana Toraja. Di Burake ini rencananya sebuah patung Yesus Memberkati akan menjulang di atas bukit. Akses ke Burake masih sulit dijangkau oleh kendaraan (kecuali truk atau mobil double gardan). Sementara ini proses pemasangan patung masih berlangsung dan pengaman area belum terpasang. Namun pemandangan dari atas melihat kota Makale dan sekitarnya sangat indah.

IMG_20150629_145609

Masih banyak lagi tempat untuk menikmati alam di Toraja. Beberapa adalah pemandangan menuju objek-objek tertentu dan bahkan ada yang hanya berada di belakang rumah. Kekayaan alam dan budaya ini harus dijaga dan dilestarikan agar generasi selanjutnya bisa juga menikmati kesegaran dan keindahan leluhur nenek moyang Toraja.

#NulisRandom2015 #Day24 #NulisRandom2015Day24

Posted by: nyomnyom | June 25, 2015

Tabek Senior..

“Being old is a must, but being mature is a choice”.

Banyak orang, termasuk saya, seringkali karena merasa cukup dewasa, matang dan berpengalaman hingga terkadang menganggap sepele mereka yang berusia lebih muda. Merasa lebih senior.

Senior umur saja sudah sok bijak apalagi ditambah senior pengalaman (entah di tempat kerja, sekolah dsb). Jangan dihitung kata-kata, “dulu saya….” atau “saya pernah…”. Menasehati dan sedikit memerintah tentunya tak ketinggalan.

Bayangkanlah suatu saat mendapat bos yg jauh lebih muda dan masih newbie diperusahaan. Betapa tak menyenangkannya dimarahin atau diperintah oleh anak kecil yang belum tahu apa-apa. Sayangnya, banyak yang lupa. Roda tak selamanya diatas. Mereka yang tidak mengupdate ilmunya dan keterampilannya bakal tergerus. Ada alasan mengapa anak muda itu jadi bos dan kita yg lebih tua jadi anak buah. Pikir sendiri artinya.

Mereka yang susah menerima kenyataan bahwa senioritas tidak berlaku bila berbicara soal profesionalisme mestinya malu hati. Berbicara dibelakang dan mengeluh hanya karena tendensi ketidaksukaan diperintah yang lebih muda hanya menunjukkan bahwa memang mereka pantas berada dibelakang, bukan menjadi atasan.

Senioritas tidak menjamin kemampuan seseorang. Saya belajar banyak untuk menghindari menjadi sok bijak dan sok berpengalaman. Umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Bersyukurlah bila mampu terhindar dari godaan ingin dihormati karena merasa senior. Mari refleksi diri.

#NulisRandom2015 #Day23 #NulisRandom2015Day23

Older Posts »

Categories